Palsukan Surat Swab Antigen dan Peras Penumpang, Sopir Travel dan Petugas ASDP Bakauheni Dibekuk Polisi

  • Bagikan
Kapolres Lampung Selatan, AKBP Edwin saat mengintrogasi kedua Pelaku pemalsuan surat rapidtes antigen dan pemerasan terhadap penumpang kendaraan di Mapolres Lampung Selatan, Rabu (28/7/2021).
Kapolres Lampung Selatan, AKBP Edwin saat mengintrogasi kedua Pelaku pemalsuan surat rapidtes antigen dan pemerasan terhadap penumpang kendaraan di Mapolres Lampung Selatan, Rabu (28/7/2021).

Zainal Asikin I Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN—Dua pelaku pemalsuan surat rapidtes antigen Covid-19 dan pemerasan terhadap penumpang kendaraan, ditangkap Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Lampung Selatan di area Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan, pada Sabtu (24/7/2021) lalu.

Kedua pelaku adalah W (37), warga Pasar Minggu, Jakarta Selatan, seorang petugas  PT ASDP Cabang Bakauheni, dan  D (29), seorang sopir travel gelap, warga Bakauheni, Lampung Selatan.

“Pelaku berinsial W dan  D ditangkap Sabtu lalu sekira pukul 04.00 WIB saat keduanya berada di area Pelabuhan Bakauheni,”kata Kapolres Lampung Selatan, AKBP Edwin,  Rabu (28/7/2021).

AKBP Edwin mengatakan, penangkapan kedua pelaku, setelah petugas melakukan penyelidikan terkait adanya tindak pidana pungli, pemerasan dan penyalahgunaan wewenang dalam operasi penyekatan PPKM darurat Jaw-Bali di Pelabuhan Bakauheni. Hasil penyelidikan, diketahui modus operandi kedua pelaku tindak pidana tersebut.

“Kedua pelaku menggunakan surat rapidtes antigen palsu dan memasukkan penumpang melalui jalur pintu keluar Pelabuhan Bakauheni tanpa melakukan pemeriksaan rapidtes antigen dengan membanyar sejumlah uang,”ujarnya.

Selanjutnya, petugas melakukan penyamaran (under cover) dengan berpura-pura menjadi penumpang kendaraan yang hendak menyeberang ke Pelabuhan Merak, Banten dan tidak memiliki surat rapidtes antigen. Pada saat itulah, petugas menangkap kedua pelaku yang melakukan tindak pidana pemerasan dan pemalsuan surat rapidtes antigen tersebut.

“Dari tangan kedua pelaku, diamankan barang bukti 16 lembar blangko kosong surat rapidtes antigen palsu, uang tunai Rp 800 ribu, dua unit ponsel dan seperangkat alat computer, scanner serta printer yang digunakan untuk membuat surat rapidtes antigen palsu,”ungkapnya.

AKBP Edwin mengutarakan, dalam menjalankan aksinya, keduanya memiliki peran yang berbeda. Pelaku W, petugas autsorcing PT ASDP Bakauheni berperan memeras kepada penumpang kendaraan yang hendak menyeberang di Pelabuhan Bakauheni jika tidak membawa atau memiliki surat hasil rapidtes antigen Covid-19.

“Dalam aksinya itu, pelaku W memeras dua orang korbannya sebesar Rp 200 ribu/satu surat rapidtes antigen palsu,”bebernya.

Sementara pelaku D berprofesi sebagai sopir travel gelap, kata AKBP Edwin, berperan mengantarkan calon penumpang dengan membawa surat keterangan hasil rapidtes antigen palsu. Surat rapidtes antigen bodong (palsu) tersebut, mengatasnamakan Klinik Budi Pratama beralamatkan di Lampung Timur.

“Setelah diselidiki, Klinik Budi Pratama ini tidak ada di Lampung Timur melainkan ada di Jakarta. Jadi setelah dapat penumpang, pelaku D ini yang mengisi sendiri surat rapidtes antigen itu sesuai dengan nama penumpang dan tidak dilakukan rapidtes,”terangnya.

Dari keterangan kedua pelaku, lanjut AKBP Edwin, keduanya mengaku baru kali pertama melakukan aksi tindak pidana pemalsuan surat rapidtes antigen dan pemerasan terhadap dua orang penumpang yang menjadi korbannya.

“Kasusnya, saat ini masih dilakukan penyelidikan lebih lanjut. Berdasarkan bukti digital (komputer) milik pelaku D, sudah beberapa kali pelaku melakukan kegiatan pemalsuan surat rapidtes antigen,”tandasnya.

Akibat perbuatannya, pelaku W, dijerat Pasal 368 KUHPidana dan atau Pasal 14 ayat (1) UU RI nomor 4 Tahun 1984 Tentang wabah penyakit menular dengan ancaman hukuman pidana penjara 9 tahun. Kemudian pelaku D, dijerat Pasal 263 atau Pasal 266 KUHPidana dan atau Pasal 14 ayat (1) UU RI nomor 4 Tahun 1984 Tentang wabah penyakit menular, dengan ancaman hukuman pidana penjara 7 tahun.

  • Bagikan