Panik Covid-19 karena Angka

Dokter Handrawan Nadesul
Dokter Handrawan Nadesul
Bagikan/Suka/Tweet:

Handrawan Nadesul

Bicara ihwal Covid perlu statistik, baik untuk evaluasi, maupun menilai perkembangan penyakitnya, terlebih di mata epidemiologi. Tapi angka sendiri bisa sahih bisa tidak, karena memang diperoleh secara tepat sesuai fakta lapangan, atau bisa juga menyesatkan untuk diambil sebagai resume. Itu maka lahir opini terhadap Covid. Opini kalangan ilmuwan sendiri, selain opini awam.

Sengaja atau tidak, media mengungkapkan angka. Mungkin sepotong-sepotong, atau boleh jadi untuk tujuan sensasi. Misal, angka kematian Covid makin tinggi, yang bisa bikin masyarakat galau.
Membaca ini masyarakat bisa panik, berpikir betapa bengisnya Covid sekarang sehingga makin merenggut banyak nyawa. Namun pada fakta akademisnya, kalau jumlah kasus atau prevalensinya bertambah banyak, seiring dengan itu tentu angka kematiannya ikut banyak juga, karena persentase kematian menghasilkan jumlah yang naik juga seiring bertambahnya kasus. Namun kalau dicermati, tetap saja angka kematian pada kisaran 2-4 persen saja dari jumlah kasus. Bahkan tercatat kematian Omicron lebih kecil dibanding kematian Delta.

Menampilkan semata angka kematian Covid pada masyarakat, berpotensi menggugah kepanikan, dan ini barang tentu tidak menyehatkan. Sebetulnya tidak ada yang perlu bikin masyarakat panik, apalagi mengingat faktanya varian Omicron sebetulnya lebih jinak dibanding varian sebelumnya. Omicron hanya menyerang sebatas tenggorokan, dan tidak menyerang paru. Kalau ada kasus berat dan kritis sekarang ini, perlu dikonfirmasi, apakah bukan disebabkan oleh varian Delta atau varian lain yang memang lebih galak, yang barang pasti masih beredar bersama varian Omicron. Bahwa sekarang ini yang kita hadapi mungkin mulitvarian, ada beberapa varian laiin selain varian Omicron semata.

Kasus sudah divaksin kok masih bisa kena Covid, yang masyarakat pertanyakan, menambah kepanikan lain di tengah masyarakat. Perlu dipastikan, yang dimaksudkan dengan kena Covid apakah hanya sekadar positif tes antigen yang berarti hanya terpapar SARS-CoV2 belaka, dan bukan terinfeksi?

Karena bila status kena Covidnya hanya terpapar atau contracted, virus Covidnya hanya bercokol di selaput lendir hidung dan tidak ke mana-mana, tidak ke paru, tidak masuk ke dalam sel tubuh, dan tidak pula berstatus bisa menularkan. Jadi terpapar bisa berulang-ulang kali yang ditandai dengan tes antigen positif, tapi apabila kasus sudah terinfeksi, mestinya selama sistem kekebalan tubuh normal, infeksinya tidak perlu berulang kali. Terlebih apabila sudah divaksinasi, selama sudah terbentuk sel memori (memory cell) dalam sistem kekebalan tubuh, tak mungkin bisa terinfeksi berulang. Andai terinfeksi pun status penyakitnya ringan saja.

Omicron sekarang semakin banyak, itu yang disampaikan media. Apakah perlu panik membacanya? Lihat saja, faktanya betul banyak, namun menyerang kebanyakan yang menjadi kasus berat, mereka yang belum divaksinasi, yang fisiknya lemah, dan kalangan lansia, selain yang komorbid. Ini alasan kenapa kebanyakan kita, tidak perlu panik. Apalagi melihat kenyataan, Omicron sembuh sendiri dalam waktu kurang seminggu.

Fakta lain, liputan vaksinasi nasional kita sudah di atas 70 persen, yang berarti sudah memasuki potensi terjadinya herd immunity, yang berarti di antara masyarakat baik yang sudah divaksin, maupun yang belum, berlangsung penularan Covid secara alami. Dengan cara demikian, berangsur-angsur, akan semakin merata masyarakat yang sudah terkena Covid, yang berarti sudah kebal secara alami. Walau barang tentu korban akibat terinfeksi alami begini bisa saja ada, yakni menimpa mereka yang belum divaksinasi, yang fisiknya lemah, kaum lansia, dan komorbid. Kesimpulannya, bila ini yang terjadi, pandemi sudah sedang menuju endemi, sebagaimana layaknya flu.

Bupati Boyolali yang minggu lalu pidato dengan mengungkapkan anggap saja Omicron tidak ada, anggap sebagai flu, saya kira bukan niat buruk. Bukan hendak menafikan, apalagi menyepelekan Covid, melainkan dalam upaya menenangkan masyarakatnya agar tidak perlu panik.

Mari kita bangun terus rasa percaya kepada upaya pemerintah dalam menghadapi dan menangani pandemi Covid nasional. Saya tahu persis Pak Jokowi terus memantau dan mengevaluasi dari waktu ke waktu bagaimana strategi dan kebijakan yang perlu diambil melihat perkembangan Covid hari kehari di negeri ini. Satu hal pasti, kita tidak bisa mengadopsi kebijakan negara lain dalam mengatasi urusan Covid dalam negeri. Buktinya sampai saat ini keberhasilan pemerintah menangani Covid, terbilang yang terbaik di dunia.

Bayangkan, untuk negeri sebesar Indonesia, ribuan pulau, lebih 270 juta rakyatnya, Covid masih bisa dikendalikan dan dijinakkan dengan hasil tidak buruk seperti yang kita saksikan, sungguh keberhasilan yang membanggakan. Itu berarti kebijakan yang sudah diambil sudah tepat untuk kondisi Indonesia. Bandingkan dengan negara-negara yang lebih kecil, terlebih yang tidak berpulau, yang lebih mudah dijangkau dan ditangani, penanganan Covidnya masih keteteran. Kita patut bangga dan angkat topi pada pemerintah kita sendiri, dan kenyataan ini mestinya bisa dijadikan obat meredam rasa panik kita.

Bisa dimaklumi apabila beberapa kebijakan yang diambil tidak seiring dengan keilmuan, karena pertimbangan politis. Jangankan negara, WHO sendiri masih terus meraba-raba ihwal bagaimana menghadapi tepat mengatasi Covid, terus mengenali sifat tabiat SARS-CoV2 yang semua ilmuwan sama pintar, dan sama bodohnya tentang Covid, karena ini ilmu baru. Ingat obat-obatan Covid yang dulu pernah dipakai, kini dihapus karena terbukti tidah efektif selain tidak aman, Itu berarti selalu muncul temuan yang lebih baru, yang lebih mutakhir ihwal Covid, kesemua itu menantang semua ilmuwan dunia untuk terus mencari kebaharuan ihwal Covid. Juga soal vaksin, juga soal booster, juga hal-ihwal lainnya tentang Covid.

Panik bikin fisik bisa melemah, bisa galau, selain mengganggu sistem kekebalan tubuh juga. Yang perlu kita lakukan tetap, mengupayakan optimal semua perilaku prokes, dan anjuran vaksinasi, karena hanya itu benteng andalan kita bisa terhindar dari serangan SARS-CoV2. Terus berupaya untuk tidak panik, tak perlu takut berlebihan, namun tidak lengah. Tidak perlu mendengar dan membaca informasi bukan dari sumber yang terpercaya, dan bukan infodemic yang bikin resah, apalagi dari suara burung yang bikin keruh suasana hati.

Sesungguhnya kondisinya tidak memburuk, kita baik-baik saja, dan yang sudah pemerintah lakukan sudah pada rel sebagaimana yang diharapkan dunia. Bahkan ketika Menko Luhut Binsar Pandjaitan kemarin dulu mengatakan kalau pucak Omicron sudah lewat, dan grafiknya mulai menurun, itu juga penghiburan bagi mereka yang panik. Bahwa kehidupan Covid yang membuat kita merasa sumpek terisolasi di dalam rumah, perlu pelepasan. Tidak berlebihan atau eforia kalau Menko menyampaikan silakan pelesiran. Bagi yang masih panik, ini sebuah penghiburan baru.***

*dr. Handrawan Nadesul adalah seorang dokter cum sastrawan