Beranda Views Sepak Pojok Panik di Kubu Jokowi?

Panik di Kubu Jokowi?

275
BERBAGI
Made Tony Supriatma

Sejak kemarin, dunia politik digegarkan oleh kemungkinan koalisi kobu Jokowi (PDIP) dengan Bakrie (Golkar). Rasanya tidak mungkin bukan? Aha! Sayangnya itu salah. Paling tidak, itulah yang ditunjukkan dalam survey terakhir dari Indikator. Satu hal yang disampaikan oleh survei ini adalah: trend-nya tampak tidak terlalu bagus untuk Jokowi.

Sekalipun Jokowi tetap paling dipilih oleh Pemilih Indonesia, trend pemilih menunjukkan dia tidak menunjukkan tanda-tanda naik. Bahkan menurun. Lihatlah ‘Trend Top of Mind’. Jokowi menanjak pada bulan Februari. Tapi dari Maret ke April (sesudah Pileg), angka Jokowi tetap konstan.

Dalam pertanyaan siapa yang akan dipilih menjadi Presiden kalau pemilu dilakukan sekarang, Jokowi memimpin. Bahkan jaraknya dengan Prabowo, yang nomor dua, 15%. Namun, ada hal yang menentukan disini. Sementara Jokowi tetap memimpin, pilihan terhadap Prabowo menunjukkan tanda-tanda meningkat. Ini dikuatkan dengan pilihan responden yang berubah ketika nama-nama Capres itu dipasangkan dengan Cwapres tertentu. Pilhan terhadap pasangan Jokowi-Kalla justru menurut dari survey bulan Maret lalu; sebaliknya pilihan terhadap pasangan Prabowo-Hatta Rajasa justru meningkat (dari 23.3% ke 32.4%!). Dengan kata lain, seperti dikatakan oleh survey ini “dalam satu bulan terakhir, selisih dukungan antara Jokowi dengan pesaing terkuat, Prabowo, semakin mengecil.”

Melihat hasil dari survei ini, maka sebenarnya masuk akal bagi Jokowi untuk merekrut Golkar ke dalam koalisinya. Mereka telah berusaha dengan Demokrat kemarin. Hingga saat ini belum ketahuan, dengan siapa PDIP akan memutuskan mitra koalisinya.

Bukankah pilihan terhadap Golkar (terutama jika Ical jadi Wapres) akan menurunkan elektibilitas Jokowi?  Bisa jadi. Tapi perlu dilihat juga. Golkar adalah salah satu partai dengan suara yang paling konsisten (partai yang lain adalah PKS). Bisa jadi PDIP melirik garis partai.

Berita bagus sebenarnya untuk Mas Wowo Gendruwo. Kalau dia bisa naik terus, dan mengetatkan pertarungan, maka dia bisa jadi presiden! Kalau dia bisa mengamankan koalisi partai-partai Islam modernis plus Demokrat (yang mengaku nasionalis-religius itu), maka Mas Wowo kemungkinan akan bisa ‘pulling the plug.’

Nah, kampanye sendiri kayaknya akan sangat brutal. Masih ingat dengan iklan dukacita “RIP Ir. Herbertus Joko Widodo’? Itu belum seberapa. Saya duga, akan lebih muncul kampanye hitam yang lebih brutal. Ini tidak lain karena konstituen Prabowo adalah konstituen partai Islam. Isu agama adalah cara yang paling gampang untuk membikin para pemilih ini untuk tetap berada dalam garis partai Islam. Tapi, bukankah PKB ada dalam kolomnya Jokowi? Benar. Tapi ketika isu agama ini diungkit — dan disesatkan — orang akan dengan gampang beralih.

Orang boleh mencibir ketika Prabowo diawal kampanye Pileg kemarin berteriak tentang ‘presiden boneka.’ Tapi kampanye itu berhasil! Kita lihat elektibilitas Jokowi langsung melorot setelah itu Prabowo mengkampanyekan itu. Orang boleh bilang bahwa serangan kampanye itu ‘sangat tidak etis, tidak mencerminkan nilai-nilai budaya Indonesia.’ Memang. Untuk saya yang cukup lama hidup dan mengamati politik Amerika, serangan seperti itu sangat tidak asing. Kelihatannya sangat akrab untuk saya. Tangan siapa yang meramu isu di pihak Prabowo?

Dan, jangan lupakan ‘the master magician’ Fadli Zon. Masih ingat dengan istilah yang sangat catchy ‘pasukan nasi bungkus’ itu? Jangan main-main. Ini lahir dari rahim seorang jenius politik. Sepertinya, dalam amatan saya, pola khas dari Fadli Zon adalah dia cepat ‘mencuci tangan persis ketika berbuat dosa.’ Dia seperti serigala yang mengembik laiknya domba …

Itulah. PDIP kayaknya sudah menekan tombol panik sekarang. Pasangan Jokowi-Ical, apa boleh buat….

Loading...