Beranda News Tokoh Paparkan Kota Rendah Karbon, Arsitek Asal Kota Metro Ini Pukau Publik Korea

Paparkan Kota Rendah Karbon, Arsitek Asal Kota Metro Ini Pukau Publik Korea

111
BERBAGI
Fritz Akhmad Nuzir saat tampil pada "2018 Clean Air International Forum" yang diselenggarakan oleh ICLEI Korea Office dan Pemerintah Provinsi GyeongGi, Korsel, Jumat lalu (19/10/2018).

TERASLAMPUNG.COM — Fritz Akhmad Nuzir, arsitek kelahira Kota Metro yang kini melanjutkan studi di The University of Kitakyushu, Jepang, memukau publik Korea Selatan saat tampil pada “2018 Clean Air International Forum” yang diselenggarakan oleh ICLEI Korea Office dan Pemerintah Provinsi GyeongGi, Korsel, Jumat lalu (19/10/2018).

Pada forum yang dihadiri para ahli dari enam negara itu, putra mantan Walikota Metro,  Lukman Haki, tampil dalam kapasitasnya sebagai  periset IGES Kitakyushu Urban Centre. Ia  mempresentrasikan konsep Pergerakan Kota Rendah Karbon (Low Carbon Urban Mobility) dan manfaatnya bagi kota dengan studi kasus Kota Kitakyushu, Fukuoka, Jepang.

Forum bertujuan memanfaatkan jaringan antarnegara kawasan Asia Timur Laut (northeast Asian region) guna meningkatkan kualitas udara di zona perkotaan itu, diharapkan dapat memberi kesempatan mempelajari usaha-usaha yang telah dilakukan berbagai negara kawasan ini untuk mengembangkan kota-kota yang berkelanjutan.

Alumnus Teknik Arsitektur UGM itu tampil bersama beberapa pembicara lain, antaranya Prof. Marc Wolfram dari Sungkyunkwan University, dan Takio Kitao dari Pemerintah Kota Kitakyushu.

Dalam keterangan persnya, staf pengajar Universitas Bandar Lampung (UBL) itu menjelaskan, dirinya membersamai para pakar dan perwakilan 25 lembaga riset, komunitas masyarakat, dan lembaga internasional asal 6 negara.

Mereka saling berbagi pengalaman dan menginisiasi kerjasama antar negara, pada forum bertema “Breathing Community Co-Created by Northeast Asian Citizens” itu.

Diuraikan Fritz, Pemerintah Kota Kitakyushu telah menerapkan Kitakyushu Environmental Capital Comprehensive Transport Strategy yang didalamnya telah diperkenalkan prinsip dan sistem transportasi ramah lingkungan.

BACA: Kota Sebagai Entitas Lingkungan Berkelanjutan (1)

“Saya juga menjelaskan kembali hasil riset saya sebelumnya tentang profil, aktivitas, dan lingkungan pejalan kaki di Kitakyushu. Salah satu temuan dari riset ini adalah bahwa fasilitas pejalan kaki yang terbangun dengan baik pun tidak menjamin meningkatnya kegiatan berjalan kaki,” papar alumnus Hochshule Anhalt, Bernburg, Jerman, yang juga aktif menulis buku ini.

“Yang lebih penting, bagaimana mengembangkan jalur pejalan kaki yang nyaman dengan kualitas udara dan lingkungan yang baik utamanya di sekitar kawasan permukiman. Jalur ini juga harus terhubung dengan sarana transportasi umum dan fasilitas umum dasar, seperti pasar, klinik, dan sekolah,” pungkas penulis buku Kotak-Katik Kota Kita ini.

Muzamil

Loading...