Beranda Hukum Para Pembuang Pasien Hingga Meninggal Divonis 14 Bulan Penjara

Para Pembuang Pasien Hingga Meninggal Divonis 14 Bulan Penjara

221
BERBAGI

Zaenal Asikin/Teraslampung.com

Sidang enam karyawan RSUD Dadi Tjokrodipo Bandarlampung pembuang pasien di PN Tanjungkarang, Rabu, 2 Juli 2014. (Teraslampung.com/Zaenal)

BANDARLAMPUNG – Enam terdakwa pembuang pasien kakek Suparman alias mbah Edi di RSUD Dadi Tjokrodipo Bandarlampung divonis masing-masing 14 bulan penjara oleh majelis hakim dalam sidang putusan di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungkarang, Bandar Lampung, Rabu (02/7). Dalam putusanny, majelis hakim menyatakan keenam terdakwa secara sah bersalah melanggar pasal 306 ayat 2 KUHP jo pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP tentang menelantarkan pasien yang mengakibatkan kematian. Baca: Skenario Jahat Membuang Pasien

“Karena itu, kami memvonis ke enam terdakwa, Muhaimin (33) selaku pegawai honorer, Rika Ariadi (31) selaku pegawai honorer, Andika (25) selaku office boy, Andi Febrianto (25) selaku office Boy, Adi Subowo (21)  selaku office boy dan Rudi Hendra Hasan (38) selaku juru parkir,   masing-masing selama 14 bulan penjara dikurangi masa tahanan sementara,” kata ketua mejelis hakim Nursiah Sianipar, Rabu (02/7).

Yang memberatkan para terdakwa, tindakan mereka telah meresahkan masyarakat karena menimbulkan rasa takut dan tidak nyaman, utamanya  bagi masyarakat yang kurang mampu yang berobat di RSU Dadi Tjokrodipo. Sementara yang meringankan, para terdakwa bersikap sopan dan belum pernah dihukum.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Eka Aftarini menuntut terdakwa masing-masing 18 bulan penjara. Menanggapi putusan tersebut JPU dan enam terdakwa menerimanya.

Berdasarkan dakwaan JPU, RSUD A. Dadi Tjokrodipo pada Jumat (17/1) sekitar pukul 21.00 WIB menerima pasien bernama Suparman dan dirawat di bagian Instalasi Gawat Darurat (IGD). Berdasarkan diagnosis, pasien mengalami dehidrasi low intake atau kekurangan asupan makanan serta minuman dan infeksi bakteri koraban lalu dirawat di ruang E2.

“Selama perawatan tersebut pasien sering mengamuk, berteriak-teriak, gelisah dan sulit diajak komunikasi. Pada Senin (20/1) sekitar pukul 10.00 WIB saksi Mahendri selaku Kepala Ruangan E2 menemui saksi Heriansyah yang merupakan Kasubag Umum dan Kepegawaian,” kata JPU Eka, Rabu (02/7).

Tersangka Heriyansyah selaku Kasubag dan Kepegawaian RSUD A. Dadi Tokrodipo memerintahkan Muhendri dan karyawan lain untuk membuang kakek Suparman. Untuk melaksanakan perintah itu, Mahendri berkordinasi dahulu dengan pihak keluarga pasien di Kelurahan Kota Karang Raya.

Pada Senin (20/1) sekitar pukul 14.00 WIB, saksi Mahendri menemui terdakwa Andika, terdakwa Andi dan terdakwa Adi meminta agar mereka untuk tidak pulang karena akan diajak membuang pasien.

Selain menyuruh ketiga orang tersebut pada pukul 15.30 WIB saksi Mahendri menelpon terdakwa Muhaimin membawa mobil ambulans ke ruang rawat inap E2 dan menelepon terdakwa Rika untuk mengurus pasien tersebut.

Selanjutnya, terdakwa Muhaimin datang ke ruangan E2 dan melihat Mahendri serta Heriansyah sedang berada di dalam ruangan. Tidak lama kemudian keduanya keluar ruangan, saksi Mahendri berkata kepada Muhaimin bahwa mereka akan membuang pasien gila di ruang E2.

“Mahendri meminta pertolongan anak PKL yakni saksi Riko dan Roma untuk memasukkan pasien itu ke dalam mobil ambulans,” papar dia.

Kemudian, saat pasien masuk saksi Muhaimin, bertanya kepada terdakwa Heriansyah akan dibawa ke mana pasien ini. Heriansyah menjawab agar pasien tua dan sakit-sakitan itu diletakkan saja di pasar atau tempat-tempat yang ramai.

“Saksi Muhaimin bersama dengan Rudi, Andi, Adi, Rika dan Andika pergi dari rumah sakit tersebut untuk membuang kakek Suparman ke sebuah gubuk di pinggir Jl Raden Imba Kesuma, Kelurahan Sukadanaham, Kecamatan Tanjungkarang Barat, Bandarlampung,” jelasnya.

Pada Selasa (21/1) pasien tersebut ditemukan warga dalam kondisi lemah dan tidak bisa bicara. Pasien tersebut kemudian irujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeluk (RSUDAM) untuk dirawat. Enam jam kemudian pasien tersebut meninggal di RSUAM.

Kasus pembuangan kakek ini mencuat dalam pemberitaan media massa. Dan pada Rabu (22/1) Mahendri meminta saksi dr Pratia Megasari untuk untuk dibuatkan surat rujukan mundur, yakni tanggal Senin (20/1) dengan alasan kelengkapan administrasi, karena pasien atas nama Suparman, telah dirujuk ke RSJ tanpa dilengkapi surat rujukan dari dokter.

Baca Juga: Pelaku Mengaku tidak Hanya Sekali Membuang Pasien
Baca Juga: Komnas HAM Nilai Ada Kesalahan Prosedur

Loading...