Beranda News Budaya Para Pembuat Kursi

Para Pembuat Kursi

249
BERBAGI

Cerita Kang Insan*

Ilustrasi kursi (gresnews)

Kalau  datang ke kampungku beberapa bulan yang lalu, persis saat Saudara turun dari bus antarkota yang Saudara naiki, dari pagi hingga sore, ke arah seberangnya Saudara akan melihat seorang laki-laki tua asyik bekerja membuat kursi di sanggarnya sekaligus rumahnya. Kalau Saudara menyapanya, ia akan ramah menyambut Saudara, mengajak Saudara mampir, menikmati secangkir teh tawar hangat, dan tentu saja sambil mendengarkan ceritanya tentang siapa saja yang pernah dan telah memesan kursi yang dibuatnya. Dan, kalau Saudara beruntung, ia akan menawari Saudara untuk menjajal kekokohan kursi yang sedang dibuatnya, dan itu jangan Saudara tolak sebab tawaran itu hanya sesekali saja diberikan kepada orang yang disukai oleh Abah Sepuh. Dan, tahukah Saudara, kursi yang saudara duduki itu akan membuat aura Saudara bersinar terang sehingga Saudara tampak lebih berwibawa.

Kursi yang dibuat Abah Sepuh bukanlah kursi biasa, Saudara. Kursi itu dibuat dari kayu pilihan dari pohon yang ditanam dan dirawat dengan segenap rasa sayang dari Abah Sepuh. Pohon itu ditebang dengan lembut diiringi doa-doa dan pujian-pujian kepada Sang Pencipta. Batangnya dipotong-potong sambil Abah Sepuh menendangkan pupuh suci. Setiap perlakuan terhadap kayu itu tidak pernah tertinggal sedikit pun rasa hormat Abah Sepuh kepada kayu sebagai perwujudan kemaharahiman Sang Pencipta. Maka, ketika kursi itu pun mewujud, bukanlah kursi semata-mata sebagai tempat duduk, tetapi kursi pengejawantahan sifat welas asih Sang Pencipta. Tak heran, aura positif muncul pada kursi itu, lalu menulari siapa pun yang sering menduduki kursi tersebut sehingga ia disegani dan dihormati orang-orang di sekelilingnya. Itulah sebabnya kursi Abah Sepuh ditawar tinggi oleh para pemesannya, tapi Abah Sepuh sendiri hanya mengambil bayaran sepantasnya dan seperlunya saja, tidak pernah berlebihan.

Sayangnya Saudara, Abah Sepuh sudah meninggal beberapa bulan lalu. Laki-laki yang telah membuat kampungku terkenal hingga ke beberapa kota besar itu tiba-tiba jatuh sakit setelah sebuah kursi pesanan seorang pejabat tinggi hilang dicuri. Padahal, selama puluhan tahun di kampungku tak pernah terjadi pencurian, apalagi yang hilang adalah kursi yang sedang dibuat oleh Abah Sepuh tidak bakalan terjadi. Tak satu pun warga kampungku yang berani macam-macam dengan Abah Sepuh, mereka sangat segan kepada Abah Sepuh sebab mereka semua pernah ditolong oleh Abah Sepuh sesulit apapun keadaan mereka.
Sebelum kejadian hilangnya kursi yang sedang dibuatnya, Abah Sepuh pernah datang ke rumahku. Tidak seperti biasanya sebab seringnya akulah yang datang ke rumahnya.

“Kursi yang sedang aku buat itu tidak akan aku selesaikan,” kata Abah Sepuh setelah kami duduk di beranda rumahku ditemani rebusan pisang dan air teh hangat.

“Emang kenapa, Abah?” tanyaku.

“Kursi yang aku buat itu sebenarnya bukan pesanan, tapi paksaan,” jawab Abah Sepuh dengan suara perlahan.

“Maksudnya, Abah? Bukankan selama ini Abah membuat kursi berdasarkan pesanan. Dan, Abah tidak pernah mau membuatkan kursi untuk sembarang orang yang belum Abah kenal secara baik,” kataku.

“Iya, betul.”

“Lalu, kenapa Abah bilang itu sebab paksaan?”

“Orang yang mengaku pejabat tinggi itu datang padaku. Lalu, dia memintaku membuat sebuah kursi. Lantas, aku berkata padanya bahwa aku tak sembarangan menerima pesanan pembuatan kursi. Aku harus tahu kepribadian orang itu sehari-harinya. Sebab itu, jika Tuan memesan kursi padaku, izinkan aku tinggal di rumah Tuan barang seminggu lamanya. Tapi, orang itu tak mau. Malahan, dia berkata bahwa aku harus mengikuti apa yang disuruhnya sebab dia pejabat tinggi. Bahkan, dia mengancamku jika aku tidak mau membuatkan kursi untuknya, maka rumahku sekaligus sanggarku, sekaligus bengkelku itu bakal ditutup sebab katanya,  tidak sesuai dengan izin peruntukannya, jelaslah aku ketakutan maka aku terpaksa menerima pesanannya,” jelas Abah Sepuh. Nada suaranya perlahan seperti ditekan menahan sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya.

“Oh, begitu.” Ucapanku itu memaklumi posisi Abah Sepuh.

“Beberapa hari lalu, tiga anak buah orang itu mendatangiku. Katanya, bosnya meminta aku segera menyelesaikan kursi itu sebab kursi itu akan segera dipakai bosnya untuk kegiatan sangat penting. Tapi, aku tak biasa bekerja dengan dipaksa-paksa seperti itu. Makanya, aku pun marah saat itu. Dan, aku berkata kepada mereka bahwa kalau mereka memaksaku aku tidak akan menyelesaikan kursi itu,” kata Abah Sepuh.

“Terus, apa kata mereka?”

“Mereka malahan mengancamku! Kata mereka, kalau tidak segera diselesaikan, jangan menyesal jika akan
terjadi sesuatu.” Wajah Abah Sepuh memerah, menahan amarah.

“Kita lawan saja mereka, Abah!” Aku menjadi emosi mendengar cerita Abah Sepuh.

“Mereka dekat dengan orang penting. Apakah kita berani?”

“Kalau harga diri kita diinjak, kita harus berani melawan, Abah. Kapan mereka minta kursi tu diselesaikan?”

“Seminggu lagi.”

“Baiklah, seminggu lagi saya dan teman-teman akan berjaga-jaga di rumah Abah.”

Tapi, Saudara, tiga hari kemudian kursi itu hilang! Saat itu Abah Sepuh sedang pergi ke kebunnya, rumahnya, ya seperti biasa, tidak ada yang menjaganya. Ketika Abah Sepuh pulang, kursi itu tidak ada di tempatnya. Abah Sepuh panik. Lalu, kami pun panik. Semua warga ditanyai, tapi tak seorang pun yang tahu soal kursi itu. Empat hari kemudian tiga anak buat pejabat tinggi datang ke rumah Abah menanyakan kursi itu yang akan dibawanya pada hari itu juga. Abah Sepuh menyampaikan kepada mereka bahwa kursi pesanan itu hilang raib dicuri orang, sedangkan untuk membuatnya lagi tidak ada lagi kayu sebagai bahannya.

Kayu baru ada lagi setahun kemudian. Abah sepuh khawatir ada orang yang memanfaatkan kursi itu untuk tujuan tertentu. Dan, kelak orang itu akan kena musibah. Mendengar kata-kata Abah Sepuh, Mereka justru marah. Bahkan, mereka hendak memukul Abah Sepuh. Untunglah, kami warga kampung ini membela Abah Sepuh. Hampir terjadi baku-hantam, untunglah mereka segera masuk mobilnya dan langsung pergi.
Namun, Saudara, rupanya Abah terlalu terpukul atas hilangnya kursi itu hingga ia sakit-sakitan, lalu sebulan kemudian Abah Sepuh meninggal dunia.

Minggu lalu, Saudara, ada arak-arakan besar melewati jalan ini. Katanya, arak-arakan itu sebagai bentuk sambutan atas kedatangan seorang pejabat tinggi yang pangkatnya dinaikkan ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Ada banyak mobil hias dalam arak-arakan itu. Tapi, pada sebuah mobil hias yang dihias menyerupai istana, seorang laki-laki gagah duduk pada sebuah kursi kayu yang bersinar dan dikelilingi orang-orang yang pernah datang ke rumah Abah Sepuh dan bertengkar dengan kami.

“Kang, bukankah itu orang-orang yang datang ke rumah Abah tempo hari itu?” bisik temanku di telingaku.

“Iya,” jawabku, “jangan-jangan kursi yang diduduki pejabat itu adalah kursi Abah yang hilang itu.”

“Bisa jadi, Kang. Mana ada kursi yang bisa memancarkan cahaya seperti kursi yang dibuat si Abah.”

“Jadi, orang-orang itu… kursi itu….” Aku mengucapkan kalimat yang terputus-putus, bahkan ada kata yang aku hilangkan.

Saudara, tadi siang, ada iring-iringan mobil jenazah lewat. Konon yang meninggal adalah pejabat tinggi yang baru seminggu lalu naik jabatan. Ia terjatuh dari sebuah kursi kesayangannya yang tanpa diketahuinya semua kaki-kaki kursi itu sudah keropos parah dimakan rayap. Ia terkena serangan jantung sebab kaget yang tak terhingga.
—————————-Mampang prapatan, 18 Maret 2014

* Kang Insan adalah nama pena Insan Purnama, alumnus Bahasa dan Sastra IKIP Negeri Rawamangun Jakarta

Loading...