Beranda Ekbis Bisnis Para Perajin Batu Akik di Waykanan Butuh Suntikan Modal

Para Perajin Batu Akik di Waykanan Butuh Suntikan Modal

765
BERBAGI
Chandra, salah satu perajin batu akik di Kabupaten Way Kanan
Chandra, salah satu perajin batu akik di Kabupaten Way Kanan

Aan Frimadona Roza/Teraslampung.com

WAYKANAN—Seiring dengan maraknya ‘para penggila’ batu akik, bisnis batu akik pun menjamur bak jamur di musim penghujan. Pelaku bisnis tidak hanya hanya pemain lama yang memang sudah bertahun-tahun menekuni bisnis batu akik. Kebanyakan pebisnis batu akik adalah para pemain baru. Hal itu pula yang terjadi di Kabupaten Waykanan, Lampung.

Hampir di seantero pelosok Waykanan, dari kota Kabupaten hingga kampung-kampung, akan sangat mudah ditemui para perajin dan penjual batu akik. Ada juga warga yang lebih memilih sebagai pengumpul bahan batu akik atau pengumpul bahan batu akik yang sudah diasah. Mereka bersimbiosis sedemikian rupa sehingga membentuk seperti jejaring bisnis batu akik.

Maraknya bisnis batu akik di Waykanan secara langsung maupun tidak turut mendongkrak perekonomian masyarakat. Mereka pada umumnya sepakat mendukung upaya Pemerintah Kabupaten Waykanan untuk mempopulerkan batu akik andalan Waykanan, yakni anggur api atau Fire Chalcedoni yang saat ini banyak diburu pencinta batu akik.

Harapan para pengrajin batu akik sangatlah besar untuk meningkatkan kreativitasnya, karena sektor industri kreatif ini memiliki peluang pasar yang cerah. Sebut saja Chandra, pengasah dan pengrajin batu akik di Kampung Tiuh Balak, Kecamatan Baradatu. Ia kini merasakan dampak positif makin populernya batu akik dari Waykanan.

“Setiap harinya tidak Kurang 5- 10 orang membutuhkan jasa saya dalam mengasah batu akik. Hasilnya lumayan untuk menambah penghasilan keluarga kami,” katanya.

Chandra mematok harga jasa mengasah batu akik Rp 25ribu sampai Rp35ribu/buah. Dalam sehari pengasah yang juga menjual ring bisa mendapatkan pemasukan Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Itu belum termasuk menjual ring dan bahan batu akik.

Biasanya, selain mengasah batu akik, para penjual jasa asah batu akik juga menjual ring atau emban dan bahan batu akik. Ring berbahan titanium biasa mereka jual Rp 75 ribu/buah. Sedangkan bahan batu akik biasa dijual kiloan.

Meski sudah mendapatkan penghasilan lumayan, Chandra berharap Pemerintah Daerah memberikan perhatian lebih.Misalnya dengan memberikan bantuan modal agar usahanya makin berkembang.

“Kalau ada pinjaman modal dengan bunga lunak, saya mau juga, Kami juga ingin ada peningkatan kapasitas usaha agar bisnis batu akik kami makin berkembang,” kata Chandra.

Menurut Chandra, makin berkembangnya bisnis batu akik di Waykanan sudah selayaknya disambut Pemerintah Daerah karena bisa meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).

Chandra mencontohnya beberapa Pemda di Indonesia yang sudah mendorong masyarakatnya meningkatkan taraf ekonomi dari bisnis batu akik. Misalnya di Pemprov Nangroe Aceh Darussalam dengan gioknya, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, dengan batu klawingnya, dan Maluku Utara dengan batu bacannya.

“Lihat saja batu anggur api kini sudah banyak mencari dan terkenal baik di Lampung maupun di Jawa,” tutur Rozi,  warga asal Waykanan yang kini  tinggal di Bandarlampung.

Rozi menambahkan bahwa ia mengakui dirinya juga termasuk salah seorang pencinta batu akik khususnya batu jenis varian anggur.

“Kalau Pemerintah Waykanan menambah bantuan bagi mereka para pengasah atau pedagang batu akik maka akan menambah geliat usaha ini dan peningkatan baik pendapatan masyarakat dan pemerintah akan semakin tajam,” tambah Rozi.