Beranda News Covid-19 Para Santri Keluhkan Mahalnya Biaya Rapid Test, Ini Penjelasan Kadis Kesehatan Lampung

Para Santri Keluhkan Mahalnya Biaya Rapid Test, Ini Penjelasan Kadis Kesehatan Lampung

914
BERBAGI
Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Lampung, dr. Reihana
Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Lampung, dr. Reihana

TERASLAMPUNG.COM — Para santri asal Lampung yang jumlahnya mencapai ribuan orang mengeluhkan tingginya biaya untuk rapid test. Biaya untuk rapid test dipatok sebesar Rp350 ribu/orang.

Mereka mau tidak mau harus ikut rapid test sebagai syarat mendapatkan surat keterangan sehat untuk bisa melakukan perjalanan ke pondok pesantren mereka yang umumnya ada di Pulau Jawa.

Yang akan kembali ke ponpes di Gontor, Jawa Timur, saja sedikitnya ada 450 santri. Belum lagi santri yang akan kembali ke ponpes lain yang ada di wilayah Banten, Jateng, DIY, dan Jawa Barat.

“Saya kira gratis, ternyata bayar. Rapis test dengan biaya Rp350 ribu per orang itu besar banget ya. Bagaimana kalau di satu keluarga ada tiga orang, sudah satu jutaan sendiri hanya untuk rapid test. Kami mohon pemerintah bijaklah dalam hal ini,” kata Rusdi, warga Lampung Tengah, Jumat (5/6/2020).

Rusdi mengaku sampai saat ini belum mendaftaran diri untuk rapid tes karena masih menunggu penjelasan lebih lanjut dari pihak Pemkab Lampung Tengah atau Pemprov Lampung.

“Jadwal rapid test pada Sabtu depan, 13 Juni. Tapi saya belum daftar. Banyak kawan saya yang juga belum mendaftarkan diri karena mahal,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Lampung yang juga juru bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Lampung, Reihana, mengataan rapid test di Lampung disiapkan untuk ODP, PDP, OTG, dan  keperluan tracing pasien konfirmasi positif, screening petugas kesehatan yang melayani pasien Covid 19, dan petugas surveilance.

“Mereka ini yang diutamakan untuk dibiayai pemerintah. Jika  logistik menipis dan permintaan masih banyak, maka untuk kepentingan pribadi dan dan kedinasan tidak menutup kemungkinan akan dikenakan biaya pengganti rapid test,” kata Reihana.

Meskipun begitu, kata Reihana, sampai 7 Juni 2020 pihaknya masih menggratiskan biaya rapid test.

“Setelah tanggal 7 Juni 2020, silakan ke Dinkes Kabupaten/Kota. Sebenarnya sudah  sejak seminggu lalu kami juga sudah kami persilakan warga yang mau rapid test untuk ke Dinkes Kabupaten / Kota,” katanya.