Beranda Seni Sastra Parade Baca Puisi Politik Tanpa Sastra di Teater Terbuka PKOR Wayhalim

Parade Baca Puisi Politik Tanpa Sastra di Teater Terbuka PKOR Wayhalim

340
BERBAGI

TERASLAMPUNG.COM — Parade baca puisi “Politik Tanpa Sastra” merayakan Hari Pahlawan di Teater Terbuka PKOR Wayhalim Bandarlampung dihadiri sekira 60 pengunjung. Para pemerhati pertunjukan baca puisi itu dari Komunitas Aksara Itera, UTI, komunitas film Lampung, dosen UIN, dan seniman Lampung.

Tidak biasanya, Teater Terbuka PKOR yang sebelumnya gelap karena tak pernah diberdayakan, Sabtu malam (9/11/2019), dipenuhi cahaya lampu warna-warni. Lighting milik seniman Nyoman Arsana dan sound system punya Daniel, makin menambah suasana bahwa di panggung tersebut ada helat kesenian.

Sementara itu kawasan PKOR Wayhalim yang sejak siang diramaikan peserya jambore nasional (jamnas) pemilik motor RX King dan merk sepda motor lainnya. Suasana di Pusat Kebudayaan dan Olahraga (PKOR) itu sangat riuh, kendaraan roda dua menderu-deru.

Direktur Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS, Agusri Junaidi, membuka acara Persaudaraan Penyair Banten Lampung III ini.

Dalam sambutannya, Agusri menjelaskan bahwa helat yang digagas penyair Chavchay Syaifullah dan Isbedy Stiawan ZS dimulai pada 2017 di Lamban Saatra.

“Saat itu menerbitkan antologi puisi ‘Mengeja Kitab’ dan penerbitan ini didukung Heri Mulyadi, penyair yang pengusaha,” katanya.

Agusri yang juga penyair Lampung itu menambahkan, tahun kedua penyair Lampung muhibah ke Banten. Tahun ini kembali Lamban Sastra menjadi tuan rumah.

“Kegiatan ini dapat dukungan dari Biro Aset Pemprov Lampung, kami berterima kasih,” katanya lagi.

Parade baca puisi semalam diawali penyair Syaiful Irba Tanpaka yang membacakan puisi lawas sebagai nominator lomba puisi pahlawan ANteve.

Disusul penyair Heri Mulyadi. Ia yang sengaja hadir karena acara ini padahal masih di luar Lampung, membaca puisi karyanya, “Nyanyian Pemburu Tuhan – Ode untuk Amal Hussain”.

Kemudian Muhammad Alfariezie membacakan puisinya tentang Sokarno, disusul Iin Muthmainah dengan mengusung 2 haikunya dan puisi karya Rendra.

Chavchay Syaifullah, penyair Banten, tampil orasi budaya bertajuk “Politik Tanpa Sastra” yang membuat hadirin melek soal politik dan karya sastra.

Usai orasi budaya, tampil Suntoro dengan kelompok musik asal Panjang, Adolf Ayatullah Indrajaya juga tak kalah membaca puisi mnya dan Numpang Liyuh, kemudian Isbedy Stiawan ZS dengan “Selamat Malam Kekasih”, politisi PKB Okta Rijaya yang didapuk baca puisi, kemudian Agusri Junaidi membaca dua puisi, lalu nyanyi puisi N Gede, dan parade ini dituntaskan Chavcay Syaifullah dengan membaca puisi dan teks Pidato Bung Tomo.

Pada kesempatan itu, anggota DPRD Provinsi Lampung, Okta Rijaya, mengapresiasi kegiatan yang digelar Lamban Sastra ini.

“Saya memang sudah berniat suatu saat akan hadir jika ada acara di Lamban Sastra. Kali ini terwujud, bukan saja karena ada kawan kecil saya, bung Chavchay, namun keterpanggilan saya pada sastra dan Lamban Sastra,” ujar dia.

Okta juga berharap pada kegiatan mendatang bisa hadir lagi. “Saya menyadari politik harus pula melek sastra,” pungkasnya.

Loading...