Beranda Views Opini Pasal Kedua dan Ketiga “Kitab Adabul Insan” *

Pasal Kedua dan Ketiga “Kitab Adabul Insan” *

3126
BERBAGI
Sayyid Usman (bin Abdullah bin Aqil bin Yahya Al Alawi (Foto: dok jakarta.go.id)

Pasal yang kedua: Adab Anak-anak kepada Ayah Bundanya

Bermula telah tersebut di dalam Quran perintah Allah ta’ala membuat ibadat kepadaNya dan membuat kebajikan kepada ayah bundanya dengan firman Allah taala: Wa’budulloh walatusyriku bihi syaia. Wabil walidaini ihsana. Artinya: sembah oleh kamu kepada Allah taala dan jangan kamu menyekutui Allah ta’ala akan sesuatu dan pada ayah bunda kamu membuat kebajikan adanya. Maka dari ini dalil Quran diketahui akan wajib membuat kebajikan kepada ayah bunda dengan perintahnya Allah taala atas yang demikian itu.

Adapun artinya membuat kebajikan kepada ayah bunda yaitu mendengar kata keduanya dan merendahkan diri bagi keduanya. Dan jangan membalas dengan perkataan yang kasar atau dengan suara keras atau membentak-bentak pada keduanya dan jangan memasamkan muka pada keduanya dan seboleh-boleh si anak mengenakkan hati keduanya dengan sebagaimana kuasanya.

Maka, apabila keduanya itu salah satunya tiada mampu mencari maka wajib atas si anak yang mampu bahwa ia membalas memberi nafkah bagi orang tuanya itu dengan sekedar mampunya sebagai lagi hendaklah senantiasa (waktu) bahwa si anak mengingat-ingat kecintaan ayah bunda padanya dari waktu diberanakkan hingga besarnya. Keduanya begadang hingga , memeliharnya dengan kasih sayangnya sejak anak kecil hingga besar. Maka orang yang sudah merasai melihara anak, barulah ia dapat tahu bahwa ayah bundanya punya kebaikan kepadanya bukan sedikit adanya.

Sebagai lagi orang yang membuat kebajikan kepada ayah bundanya maka tentulah nanti ia dapat kebajikan dari anaknya pula. Dan demikian pula orang yang yang menyusahkan hati ayah bundanya maka tentulah ia nanti pun mendapat susah dari pada anaknya. Demikianlah yang sudah-sudah bahwa ia balas Tuhan kepada hambaNya adanya. Sebagai lagi orang yang membuat jahat kepada ayah bundanya maka mudahlah atasnya membuat jahat kepada lainnya jua adanya.

Pasal yang Ketiga: Adab orang Kecil Punya Kelakuan yang Patut kepada Orang Besar

Bermula patut atas sekalian orang yang duduk di bawah teduh keadilan bahwa sekalian itu mesti ingat baik-baik akan keadilan punya kebajikan atas sekalian dan patut sekalian akan menerima kasih (berterimakasih, Red.) banyak dengan segala kehormatan atas keadilan punya kasihan memelihara akan kita sekalian. Sehingga,  kita dapat segala kenangan atas kehidupan kita, memelihara anak istri, menjalankan agama tanpa  ada yang berani menyakiti. Semua itu kita dapatkan dari pemerintahan yang punya kekuatan dan menjalankan keadilannya untuk seluruh rakyat.

Adapun yang dikata orang yang menerima kasih ialah orang menuruti perintah negara serta menjauhkan segala larangan, berkelakuan baik-baik. Bukan orang yang cuma berkata terima kasih padahal ia melanggar perintah negara adanya.

Sebagiani lagi orang tidak dapat mengingat keadilan yang diberikan pemerintah  kepada anak-anak negeri. Maka, sekira-kiranya jikalau ia dapat tinggal di dalam suatu dusun yang tiada ada polisi di dalamnya, maka tentulah ia dapat takut atas jiwanya dan atas hartanya dan atas anak bininya. Dan apabila ia mendapat suatu kesusahan atau kegagahan daripada manusia, maka tiadalah ia dapat yang menolong akan dia. Maka ketika itulah baru ia mengerti dan ia dapat ingat akan kesenangan orang-orang yang duduk di bawah teduh keadilan pemerintahan.

BACA: Pasal 1 “Kitab Adabul Insan”: Adab Hamba kepada Tuhannya

Adapun umpamanya itu seperti orang yang dapat kedatangan kemiskinan hingga melarat, ketika itulah ia dapat ingat kekayaan punya senang dan demikian pula sepertinya orang yang dapat sakit badan ketika itulah ia dapat ingat kesegarannya badan punya enak. Maka dari itu, diketahui bahwasanya paling jahat manusia yaitu yang tiada berterima kasih kepada keadilan dengan melanggar larangannya atau perintahnya, maka patut dikata bahwa orang itu paling jahat sebab dia membalas jahat kepada yang membuat kebaikan kepadanya. Dan patut pula dikata akan orang itu paling bodo, sebab dia tarik kecelakaan atas dirinya sendiri.

Sebagai lagi orang yang melanggar aturan negeri dengan sangkanya atau pikirannya yang pendek bahwa ia nanti boleh dapat suatu keuntungan bagi dirinya, maka sebenarnya itu dia mesti dapat kecelakaan atas dirinya maka upamanya itu ibarat seorang yang dilarang oleh yang memeliharakannya atas berjalan di dalam suatu jalan yang ada di dalamnya segala barang tajam dan segala lubang, maka ia berjalan juga dengan sengaja hingga ia dapat luka dan jatuh di dalam lubang, maka semuanya itu dari karena dia punya salah sendiri melanggar larangan yang memeliharakan dia.

* Tulisan ini merupakan bagian dari Kitab Adabul Islam yang ditulis dalam bahasa Arab Melayu (arab gundul). Ada 27 pasal dalam kitab ini. Kami sajikan di sini berkat kerja keras Toto Dartoyo, seorang guru SMP di Karawang, Jawa Barat, yang menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Toto Dartoyo selaku penerjemah  menyamaikan permohonan maaf jika dalam penyalinan (penerjemahan) melakukan kesalahan salin terhadap sebuah kata yang tidak dimengerti artinya.