Beranda News Pelayanan Publik Pasien Balita Asal Lamsel Ini Diduga Ditelantarkan RSUAM

Pasien Balita Asal Lamsel Ini Diduga Ditelantarkan RSUAM

489
BERBAGI
Muhammad Marwan Supriyadi bersama istri dan ibunya saat membawa anaknya, Muhammad Arshaka Arrasidi keluar dari RSUAM karena tidak mendapat pelayanan dan penanganan baik dari pihak RSUAM.

Zainal Asikin | Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG — Pelayanan Rumah Sakit Umum Abdul Moelok (RSUAM) yang digadang-gadang sebagai rumah sakit ramah anak tersebut, kembali mendapat keluhan pahit dari masyarakat Lampung khusunya untuk warga kurang mampu. Kali ini menimpa seorang pasien balita bernama Muhammad Arshaka Arrasidi, anak dari Muhamad Marwan Supriyadi (37), warga Desa Sukamaju, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan.

Arshaka yang saat itu kondisinya drop karena mengalami sakit panas tinggi disertai diare berlendir, tidak mendapatkan penanganan medis yang baik dari pihak RSUAM. Sehingga orangtua dari balita tersebut, merasa kecewa dengan pelayanan yang diberikan oleh Rumah Sakit berpelat merah tersebut.

Muhamad Marwan Supriyadi menceritakan, kronologis kejadian tersebut bermula pada Rabu 11 Oktober 2017, buah hatinya yang bernama Muhammad Arshaka Arrasidi sebelumnya mendapatkan perawatan medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bob Bazar, Kalianda selama lima hari empat malam. Selama menjalani perawatan, hasil laboratorium yang diberikan pihak rumah sakit trombosit anaknya selalu menurun setiap harinya.

“Hasil cek laboratorium itu Rabu (11/10/2017) kemarin, trombosit anak saya turun hingga sampai 25.000. Karena kondisi anak saya tak kunjung membaik selama menjalani perawatan di RSUD Bob Bazar, lalu pihak rumah sakit memberikan rujukan ke Rumah Sakit Abdul Moeloek (RSUAM) untuk mendapat penanganan lebih baik lagi,” kata Marwan, Kamis (12/10/2017).

Saat itu, Marwan beserta istri dan ibunya membawa anak tercintanya tersebut ke RSUAM. Namun harapan Marwan dan istrinya agar anaknya mendapat penanganan lebih baik saat dirujuk ke RSUAM, malah justru jauh dari harapan yang dinginkannya dan terbalik dengan kenyataan yang ada.

Sampainya di RSUAM pada Rabu malam (11/10/2017) sekitar pukul 18.20 WIB, justru tidak ada penanganan yang baik sama sekali yang diterimanya dari pihak RSUAM. Bahkan, tidak ada pemeriksaan dari dokter saat anaknya berada di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD).

“Saat di ruang IGD, kami hanya diminta oleh pihak RSUAM untuk menunggu ruangan yang sedang disiapkan untuk anak saya. Sekitar pukul 20.40 WIB, anak saya Arshaka dipindahkan ke ruangan anak. Dua jam lebih saya dan keluarga, hanya disuruh menunggu dan ditelantarkan begitu saja tanpa ada penanganan serius untuk anak saya,”keluhnya.

Ketika di ruangan anak tersebut, kata Marwan, perawat jaga hanya menanyakan seputar penyakit anaknya setelah itu memberikan resep obat. Mirisnya lagi, resep obat yang diberikan katanya tidak tersedia di apotek RSUAM. Padahal resep obat yang harus saya tebus itu ada di apotek RSUAM, Marwan pun terpaksa harus mencari dan menebus resep obat tersebut di apotek yang berada di luar dari RSUAM.

“Malam itu saya minta sama teman, untuk mengecek di bagian farmasi RSUAM dan resep obat itu ada di apotek RSUAM. Tapi pihak RSUAM beralasan, kalau obatnya tidak ada. Inikan benar-benar aneh pelayanannya,”ujarnya.

Merasa dikecewakan dengan pelayanan pihak RSUAM, Marwan pun mencoba untuk mendatangi ruangan perawat dan Marwan meminta supaya pelayanan di RSUAM melayani pasien dengan baik dan jangan menyepelekan penyakit pasien.

“Ya mereka itukan (perawat dan dokter) sebagai pelayan kesehatan masyarakat, harusnya melayani pasien dengan baik. Apalagi anak saya inikan pasien rujukan dan dalam keadaan drop, sehingga butuh penanganan medis khusus. Tapi perawat itu menjawabnya, kami hanya petugas melakukan tindakan medis sesuai anjuran dokter,”ungkapnya.

Sebagai ayah, Marwan merasa dibohongi dan disepelekan pihak RSUAM atas penyakit yang diderita anaknya. “RSUAM memang tidak layak bagi masyarakat lampung untuk berobat, kenyataannya pelayanan mereka bobrok dan jauh dari kata bagus,”kesalnya.

Dengan hal tersebut, Marwan merasa pihak RSUAM seolah-olah menyepelekan pasien (anaknya). Malam itu juga sekitar pukul 23.45 WIB, Marwan memutuskan membawa anak tercintanya keluar dari RSUAM. Tapi dirinya diminta oleh RSUAM untuk membayar biaya administrasi sebesar Rp 200.800, biaya sebesar itu sangatlah tidak masuk akal.

Menurutnya, padahal hanya beberapa jam saja dan juga anaknya tidak mendapatkan penanganan apapun dari RSUAM. Selain itu juga, Infus yang terpasang dilengan anaknya masih bawaan dari RSU Bob Bazar, kalianda dan resep obat yang diberikan pun ia tebus sendiri bukan di apotek RSUAM meliankan apotek diluar RSUAM.

“Saya sangat kecewa sekali dengan pihak RSUAM tersebut, karena memang tidak ada penanganan yang baik sama sekali terhadap anak saya. Tapi alhamdulilah, anak saya saat ini ditangani dengan baik setelah saya bawa dan dirawat di Rumah Sakit Urip Sumoharjo,”jelasnya.