Beranda Politik PDIP Dinilai Punya Masalah Besar di Pilgub Jawa Barat

PDIP Dinilai Punya Masalah Besar di Pilgub Jawa Barat

257
BERBAGI

TERASLAMPUNG.COM — Hingga minggu kedua November 2017, PDI Perjuangan belum juga menentukan sikap tentang pasangan calon gubernur-wakil gubernur yang akan diusung di Pilgub Jawa Barat 2018.

Menurut pengamat politik dari Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia, Arif Susanto, stagnannya kemajuan PDIP dalam menjaring dan menetapkan jagonnya disebabkan adanya masalah besar yang kini dialami partai banteng itu.

“Selain PDIP tidak punya kader yang cukup populer dan cukup kababel di Jabar, problem lain adalah PDIP memiliki gengsi politik yang terlalu besar,” kata Arif di D’Hotel, Menteng, Jakarta Selatan, Rabu (8/11/2017).

Arif mengungkapkan, problem utama PDIP adalah faktor komunikasi politik dengan sejumlah bakal calon yang sudah diusung oleh partai lainnya. Di antaranya dengan Dedi Mizwar dan Ridwan Kamil yang dinilai komunikasi politiknya kurang bagus.

Menurut Arif. PDIP terus berkutat pada nama Puti Guntur Soekarnoputri, yang saya khawatir yang kenal Puti hanya kader PDIP. Yang lain tidak tahu.

“Ada beberapa pilihan PDIP bila gengsi politiknya yang besar dilepas. Pertama, PDIP bisa bergabung dengan koalisi besar pengusung Ridwan Kamil. Konsekuensinya, PDIP harus rela mendapatkan kue yang lebih kecil karena mereka datang belakangan. Tapi positifnya adalah peluang untuk menang tampaknya lebih besar,” kata Arif.

Kemudian peluang kedua adalah jika PDIP mengusung Dedi Mulyadi yang notabene bukan kadernya. Tetapi ada keuntungan bagi PDIP, bahwa sosok Dedi yang merupakan Ketua DPD Partai Golkar Jabar memiliki akar yang cukup kuat terutama di daerah Purwakarta dan sekitarnya.

“Tinggal pertarungannya, Dedi Mulyadi mau dipasangkan dengan siapa,” katanya.

Arif mengingatkan bahwa peluang Dedi untuk menang akan mengecil jika PDIP memasangkan dengan Puti. Terutama untuk mendapatkan suara dari kantong-kantong pemilih muslim yang taat.

“Akan menjadi berbeda kalau PDIP rela hati untuk memilih pasangan yang punya popularitas lebih baik, tapi kemungkinan besar bukan kader partai. Tapi ada risiko politiknya yakni menjadi sulit dikontrol,” kata Arif.

 

Loading...