“Pecunia Non Olet”

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Pagi libur hari besar keagamaan saat itu diisi dengan diskusi bersama seorang sahabat jurnalis kawakan; beliau yang berpembawaan kalem cenderung dingin itu “ngudoroso” (Bahasa Jawa artinya mengeluarkan isi hati); bahwa sekarang ini orang cenderung materialis dan “Cuanis” (berasal dari kata Cuan bahasa Mandarin yang berarti uang, sipemuja uang).

Ungkapan hati tadi disimak dengan seksama, karena beberapa saat sebelum beliau datang, ada seeorang sahabat melalui medsos berkeluh kesah di seberang sana, mengatakan bahwa semakin tahun tunjangan kinerjanya atau remunerasinya makin kecil. Diskusi yang panjang itu berkesimpulan bahwa harus ada ilmu baru yang bernama “cocokologi” untuk mencocokkan fenomena dengan seluruh pendukung sehingga fenomena itu terjadi, untuk dapat diurai menggunakan ilmu lain.

Analisis dimulai dari menyimak keluhan semua sahabat di atas, jadi mengingatkan adanya istilah Bahasa Latin seperti judul tulisan ini yang artinya “uang memang tidak berbau”. Itulah arti ungkapan yang menjadi judul tulisan ini. Karena tidak berbau, terkadang membuat manusia tidak sadar, tidak tercium ketergantungannya pada uang (Respi Leba,2013).

Sebelum lebih jauh kita melangkah, sebaiknya kita mengenal dulu sejarah uang (Simulasicredit.com): Uang pertama kali diprakarsai oleh bangsa Lydia pada abad ke-6 sebelum masehi. Uang tersebut terbuat dari campuran emas dan perak yang disebut elektrum berbentuk seperti kacang polong. Perbandingan antara emas dan perak adalah 75:25 yang disebut sebagai ‘stater’ atau ‘standar’. Pada tahun 560-546 sebelum masehi, Croesus menciptakan uang logam yang dipakai oleh bangsa Yunani. Dalam sejarah uang, bangsa ini dikenal sebagai penemu uang logam pertama. Bangsa ini mendesain uang logam dengan berbagai gambar menarik dan nilainya ditentukan oleh bahan pembuatnya. Kemudian dikenal uang kertas yang diciptakan oleh orang Tiongkok pada abad pertama masehi tepatnya pada masa Dinasti Tang.

Bukti uang tertua di Indonesia disimpan di Museum Nasional. Terdapat koleksi dua uang logam (no. inv. 2087 dan no. inv. 2119) dari zaman Hindu-Buddha di Jawa yang terbuat dari perak. Bentuknya cembung, sisi depan bergambar pot bunga, dua tangkai bunga, dan garis-garis lekuk sekitarnya seperti ruang-asap. Sedangkan pada sisi belakang terdapat bunga lotus mekar terletak di dalam garis berbentuk persegi empat.

Kemudian uang kepeng, mata uang tembaga dari Tiongkok. Selain itu, kerajaan-kerajaan Islam juga mengeluarkan mata uang. Misalnya, Kesultanan Pasai dan Aceh (dirham dan mass dari emas dan keuh atau kasha dari timah), Banten (kasha dari tembaga), dan Cirebon (picis dari timah).

Daya pengaruh uang begitu memesona yang menyilaukan mata dan mengaburkan risiko fatalnya. Keterpesonaan pada uang bisa menyebabkan iman dan takwa sebagai “filter” tidak diperhatikan lagi. Walaupun banyak orang bilang uang itu bukanlah segalanya dalam hidup ini, tetapi kenyataannya, segalanya harus melalui media uang untuk mendapatkannya.

Di depan cermin moral-etis, keterpesonaan dan ketergantungan yang berlebihan terhadap uang akan membelenggu manusia. Kemarakan modernitas kehidupan dewasa ini menunjukan uang telah menjadi hantu pemutarbalikan berbagai nilai kehidupan yang benar. Secara naif orang memaknai hidupnya dengan uang; distorsi yang terjadi yakni yang berguna adalah yang dapat mendatangkan uang.

Begitu luarbiasanya pengaruh uang, bahkan ada sebagian manusia yang sanggup mengatakan bahwa Uang adalah tuhan keduanya setelah Tuhan Sang Kholik. Bahkan sanggup juga untuk mengatakan bahwa uang adalah tuhan baginya di dunia. Tanpa uang dunia baginya bukan apa apa; bahkan serasa kiamat. Oleh karenanya kelompok ini beranggaapan kiamat dunia itu jika kita tidak memegang uang sepeserpun.

Kegilaan akan uang inilah yang oleh filusuf dikatakan sebagai yang tidak berbau, akan tetapi menjadikan racun. Buktinya manusia menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan uang meski haram secara manusiawi.

Mencari uang sebanyak-banyaknya secara agama tidak di larang, kita bisa melihat pada masa kenabian ada seorang sahabat yang memiliki harta yang menghasilkan uang, sampai hari ini masih bisa dinikmati oleh umat. Hanya yang tidak dibolehkan adalah mentuhankan uang; atau menjadikan uang sebagai Tuhan.

Bersyukurlah uang itu tidak bau, karena jika bau, maka polusi yang diakibatkan olah bau uang akan merusak kualitas udara di bumi, yang kedua, jika berbau, maka tidak ada lagi tempat yang aman untuk menyimpan uang, karena dengan mudah ditemukenali oleh orang yang berotak kriminal untuk memperolehnya dengan cara cara yang tidak dibenarkan oleh aturan yang ada.

Agama (baca: Islam) memandang uang hanyalah sebagai alat tukar, bukan komoditas atau barang dagangan. Uang adalah sarana dalam transaksi yang dilakukan dalam masyarakat baik untuk barang produksi maupun jasa, baik itu uang yang berasal dari emas, perak, tembaga, selama itu di terima masyarakat dan dianggap sebagai uang (kompasiana.com).

Selamat minum kopi ……….