Pejabat Pemkab Lampura Sambangi Rumah Orangtua Balita yang Tewas Tenggelam

  • Bagikan
Ilustrasi

Feaby/Teraslampung.com


ilustrasi gopixpic

KOTABUMI — Beberapa pejabat teras Pemkab Lampung Utara mewakili Bupati Lampung Utara Agung Ilmu Mangkunegara, Senin petang (5/1/2015) menyambangi kediaman AL (4), bocah yang meninggal karena tenggelam di dalam kolam renang milik Bijai, Jumat lalu. beberapa waktu lalu.

Menurut Kadis Sosial Lampung Utara, Edwar, kedatangan sejumlah petinggi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Utara (Lampura), Senin (5/1) sore ini merupakan salah satu wujud kepedulian Pemkab atas kepiluan yang dialami oleh keluarga korban, khususnya orang tua AL.

Pemkab yang dalam hal ini diwakili oleh Asisten II Pemkab, Fahrizal Ismail, Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans), Edwar, dan Kepala Bagian Kesejahteraan Sosial, Sinar Barkah terlihat memberikan bantuan sejumlah uang kepada keluarga korban.

“Kami mewakili Bupati mengungkapkan turut berbelasungkawa atas tragedi ini,” kata Fahrizal, di rumah duka.

Dalam kesempatan itu, Fahrizal mengaku akan segera mengecek kelayakan kolam renang yang menyebabkan korban tenggelam. “Secepatnya akan kita lakukan pengecekan ke kolam itu,” janjinya.

Mantan Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Pemkab Lampura ini juga meminta pihak keluarga korban menyerahkan sepenuhnya ke pihak yang berwajib untuk menyelediki tragedi itu.

“Untuk proses hukumnya, kita serahkan sepenuhnya ke polisi,” pejabat yang kerap berkacamata ini.

Sementara, kakek korban, Basirun, meski mengakui bahwa apa yang terjadi pada cucunya tercinta itu adalah musibah, dirinya masih tampak tak terima dengan suratan takdir yang menimpa cucunya.

Menurutnya, apa yang terjadi pada cucunya ini sedianya tak akan pernah terjadi jika kondisi kolam renang yang baru dibangun itu sudah layak dibuka untuk umum. Ketidaklayakan kolam renang ini ditandai dengan tidak adanya tembok pembatas antara kolam yang satu dengan lainnya. Pembatas kolam antara dewasa dan anak – anak hanya dibatasi dengan tali.

Dengan hanya ditandai melalui tali, anak – anak bisa leluasa menyeberang ke kolam dewasa. “Pengelola Waterboom (kolam renang,red) itu terlalu maksain kehendak untuk dioperasionalkan. Padahal pembatas kolam hanya dibatasi dengan seutas tali,” tegas dia.

Kondisi itu semakin diperparah dengan tidak adanya pengawasan khusus yang diberikan kepada para pengunjung sebagai langkah antisipasi terjadinya hal – hal yang tidak diinginkan. Bahkan, menurutnya, pihak pengawas kolam baru mengetahui cucunya tenggelam usai diberitahu oleh salah satu pengunjung.

“Seandainya kolam renang tersebut pengawasanya ketat, tentu cucu saya masih sempat tertolong,” katanya lirih.

Kendati demikian, pihaknya menyerahkan sepenuhnya persoalan ini kepada pihak Kepolisian setempat. Ia berharap, pihak Kepolisian akan bekerja secara profesional dan proporsional dalam menangani persoalan ini.

“Kami harap Polisi dapat lebih serius menindaklanjuti perkara ini. Jangan sampai hukum yang diterapkan kepada pihak Water Boom itu tumpul karena dimiliki oleha pengusaha kaya,” harapnya.­

Sebelumnya, AL (4), warga Jalan Pahlawan, Gang Gotong Royong Kotabumi, meninggal di dalam kolam renang, milik Bijay, Jumat (2/1) sekitar pukul 16.00 WIB. hingga kini, belum diketahui pasti penyebab meninggalnya korban.

Kapolsek Abung Selatan Lampura, Iptu. Vicky Pandu membenarkan adanya Balita yang meninggal di kolam renang itu. “Memang benar telah ada korban tewas di dalam kolam renang Bijay. Korban diduga lepas dari pantauan keluarga maupun penjaga kolam setempat,” kata dia.

  • Bagikan
You cannot copy content of this page