Beranda Views Opini Pelaku Usaha di Lampung Berat Melangkah di Tengah Wabah

Pelaku Usaha di Lampung Berat Melangkah di Tengah Wabah

273
BERBAGI
Ilustrasi stres karena bisnis terdampak virus Corona. (©Shutterstock)

Oleh: Febiyana Qomariyah*

Lebih dari setahun sudah Pandemi Covid-19 menghampiri seluruh wilayah di dunia. Selama beberapa bulan terakhir kita diharuskan hidup berdampingan dengan virus ini. Covid-19 tidak hanya merengut banyak nyawa, namun juga telah memporakporandakan perekonomian nasional dan Lampung khususnya. Pemerintah pusat dan daerah telah mengupayakan berbagai cara untuk menanggulangi permasalahan ini. Kenyataannya, pandemi masih menjadi permasalahan besar hingga saat ini. Penambahan kasus baru Covid-19 tidak hanya berdampak buruk di bidang ekonomi, namun juga bidang kesehatan, sosial dan budaya.
Ekonomi Lampung Selama Pandemi Covid-19

Akibat pandemi Covid-19, ekonomi Lampung yang sebelumnya stabil di kisaran 5 persen selama 5 tahun terakhir, pada tahun 2020 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 1,67 persen. Melambatnya pertumbuhan ekonomi Lampung sudah terlihat sejak triwulan I-2020. Ekonomi Lampung triwulan I-2020 tumbuh sebesar 1,73 persen, melemah dibanding triwulan I-2019 (y-on-y) yang tumbuh 5,21 persen. Pada masa ini, pandemi Covid-19 baru terdeteksi di Lampung. Kebijakan pembatasan sosial (social distancing) yang berlakukan pemerintah Provinsi Lampung semakin memperlambat pertumbuhan ekonomi Lampung.

Memasuki triwulan II-2020, penyebaran Covid-19 secara nasional semakin bertambah parah. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa daerah membawa dampak buruk terhadap ekonomi Lampung. Kontraksi ekonomi Lampung di triwulan II-2020 sebesar 3,57 persen (y-on-y) atau 0,56 persen (q-to-q) membuat ekonomi Lampung kian terpuruk. Dari sisi produksi, kontraksi terdalam terjadi pada sektor transportasi dan pergudangan sebesar 13,22 persen (y-on-y). Dari sisi pengeluaran, kontraksi terdalam terjadi pada komponen impor barang dan jasa sebesar 13,85 persen (y-on-y) dan ekspor barang dan jasa sebesar 9,96 persen (y-on-y).

Keterpurukan ekonomi Lampung yang terjadi hingga pertengahan tahun 2020 membawa kekhawatiran di masyarakat. Ketidakpastian akan sampai kapan berakhirnya pandemi, tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan ancaman akan kehilangan pekerjaan atau berkurangnya pendapatan masyarakat menjadi hal yang tidak dapat dihindari pada saat itu.

Untuk mencegah situasi bertambah parah, beberapa daerah di Indonesia mulai memberlakukan kebijakan relaksasi pembatasan sosial. Berbagai bantuan mulai disalurkan ke masyarakat, termasuk bantuan yang diterima oleh masyarakat Lampung. Hal ini berdampak positif pada pemulihan ekonomi Lampung di triwulan III-2020. Pertumbuhan ekonomi Lampung triwulan III-2020 membaik di level -2,41 persen (y-on-y).

Berbagai bantuan yang diberikan pemerintah kepada masyarakat semakin membawa dampak positif terhadap ekonomi Lampung di akhir tahun 2020. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan ekonomi Lampung yang semakin membaik di level -2,26 persen (y-on-y) pada triwulan IV-2020. Meskipun masih terjadi kontraksi ekonomi, namun kontraksi ekonomi yang terjadi tidak sedalam triwulan sebelumnya. Ini mengindikasikan telah ada perbaikan ekonomi ke arah yang lebih baik.

Fenomena yang sama juga terlihat pada indikator daya beli masyarakat yang tergambar pada inflasi Lampung selama tahun 2020. Mulai Januari hingga Mei 2020, trend inflasi Lampung mengalami penurunan yang cukup dalam. Hal ini menunjukkan telah terjadi penurunan daya beli masyarakat Lampung hingga pertengahan tahun 2020. Bahkan selama Maret – Mei 2020, Lampung mengalami deflasi. Perbaikan daya beli masyarakat Lampung mulai tergambar dari inflasi Juni – Desember 2020, sepanjang periode ini Lampung mengalami inflasi. Hanya di September 2020 saja Lampung kembali mengalami deflasi. Sepanjang tahun 2020 inflasi Lampung tercatat sebesar 2,00 persen (p-to-p).

Pandemi Covid-19 Terhadap Dunia Usaha Lampung

Penurunan daya beli masyarakat Lampung berpengaruh terhadap dunia usaha di Lampung. Kelesuan perekonomian memaksa perusahaan mengurangi produksi dan mengurangi biaya produksi dengan cara melakukan pengurangan jam kerja bahkan pemutusan hubungan kerja. Data ketenagakerjaan yang diperoleh dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) menunjukkan Tingkat Pengangguran Tebuka (TPT) Lampung Agustus 2020 sebesar 4,67 persen, meningkat 0,64 poin dibandingkan Agustus 2019.
Terdapat 655,9 ribu orang (10,25 persen) penduduk usia kerja yang terdampak Covid-19, terdiri dari pengangguran karena Covid-19 (52,6 ribu orang), Bukan Angkatan Kerja (BAK) karena Covid-19 (12,7 ribu orang), sementara tidak bekerja karena Covid-19 (40,9 ribu orang), penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja karena Covid-19 (549,7 ribu orang). Meningkatnya jumlah pengangguran di Lampung mengindikasikan semakin banyaknya masyarakat yang mengalami penurunan pendapatan. Berdasarkan hasil Survei Sosial Demografi Dampak Covid-19 di Lampung, pekerja di sektor transportasi dan pergudangan yang paling terdampak Covid-19. Sebanyak 80 persen pekerja di sektor transportasi dan pegudangan mengalami penurunan pendapatan akibat Covid-19.

Penurunan pendapatan juga terjadi pada pelaku usaha di Lampung. Hasil Survei Dampak Covid-19 Terhadap Pelaku Usaha Lampung mengemukakan bahwa secara umum 8 dari setiap 10 perusahaan cenderung mengalami penurunan pendapatan, yaitu 82,95 persen Usaha berskala Menengah Besar (UMB) dan 82,79 persen Usaha berskala Mikro dan Kecil (UMK). Sekitar 18 persen usaha memperkirakan mampu bertahan maksimal hingga 3 bulan jika tanpa bantuan. Berbagai kendala dihadapi oleh perusahaan selama masa pandemi dan sebagai akibat dari kebijakan social distancing.

Secara umum, 8 dari 10 perusahaan baik UMB maupun UMK cenderung mengalami penurunan permintaan karena pelanggan/klien yang juga terdampak Covid-19. Kendala yang paling banyak dihadapi oleh UMB yaitu akibat rekan bisnis mereka terdampak sangat buruk atau tidak bisa beroperasi secara normal. Sedangkan bagi UMK, kendala keuangan paling banyak dihadapi yaitu terkait pegawai dan operasional.

Di tengah kondisi pandemi, perusahaan berusaha mempertahankan operasional usahanya. Sebagian perusahaan masih beroperasi seperti saat sebelum pandemi. Untuk mendukung kebijakan social distancing yang ditetapkan pemerintah, perusahaan yang masih beroperasi seperti biasa melakukan pengurangan jam kerja. Selain itu, perusahaan juga mengambil kebijakan untuk merumahkan tenaga kerja (tidak dibayar) dan memberhentikan pekerja dalam waktu singkat. Optimisme bahwa pandemi akan segera berakhir cenderung membuat perusahaan tidak mengambil keputusan PHK permanen. Memberhentikan pekerja dalam waktu singkat adalah pilihan yang relatif lebih baik. Meskipun aktivitas perusahaan sangat terdampak oleh pandemi, berbagai upaya dilakukan untuk mempertahankan tenaga kerjanya. Sebanyak 77 dari setiap 100 perusahaan yang masih beroperasi seperti biasa, jumlah tenaga kerjanya cenderung tetap (tidak melakukan PHK).

Tiga sektor usaha yang paling terdampak Covid-19 di Lampung yaitu, sektor akomodasi makan dan minum (94,07 persen), sektor jasa lainnya (88,61 persen), dan sektor transportasi dan pergudangan (87,50 persen). Pelaku usaha Lampung melakukan diversifikasi usaha sebagai bentuk adaptasi usaha selama masa pandemi. Diversifikasi usaha mencakup upaya menjalankan proses bisnis seperti biasa namun ada penambahan produk, bidang usaha dan lokasi bisnis untuk meningkatkan pendapatan. Sebanyak 15 dari setiap 100 perusahaan cenderung melakukan diversifikasi usaha selama masa pandemi.

Proses bisnis yang tetap berjalan di perusahaan memaksa perusahaan untuk melakukan adaptasi baru di lingkungan kerja. Dalam rangka upaya pencegahan, pengendalian, dan memutus penyebaran Covid-19, pelaku usaha menerapkan protokol kesehatan di lingkungan kerja. Sebagian besar pelaku usaha telah menerapkan protokol kesehatan, meskipun juga masih terdapat sebagian yang belum menerapkan. Secara rata-rata perusahaan di wilayah kota lebih patuh dalam menerapkan protokol kesehatan dibandingkan perusahaan di wilayah kabupaten. UMB relatif lebih patuh pada penerapan protokol kesehatan di lingkungan kerja dari pada UMK.

Di sisi lain, internet dan teknologi informasi (TI) juga berperan sangat besar bagi perusahaan untuk mempertahankan dan meningkatkan pendapatan usahanya. Pemasaran secara online menjadi solusi menjanjikan. Ini dilakukan sebagai dampak kebijakan social distancing yang menyebabkan pemasaran konvensional menjadi terbatas. Secara umum, sekitar 44,34 persen perusahaan telah menggunakan internet dan TI sebagai sarana pemasaran online sejak sebelum pandemi. Sekitar 6,39 persen perusahaan baru menggunakan internet dan TI untuk melakukan pemasaran online pada saat pandemi. Sebanyak 9 dari 10 pelaku usaha yang menggunakan internet dan TI sebagai sarana pemasaran online mengaku bahwa cara ini berpengaruh dalam penjualan produk mereka.

Tantangan dan Harapan di Masa Depan

Hingga saat ini ancaman Covid-19 belum berakhir. Pemerintah telah mengambil langkah tepat dengan melakukan vaksinasi untuk menekan penyebaran virus di masyarakat. Hal penting dan wajib dilakukan oleh seluruh masyarakat Lampung selain vaksinasi Covid-19 adalah menerapkan protokol kesehatan menjadi adaptasi kebiasaan baru. Kepercayaan dan rasa aman masyarakat sangat dibutuhkan agar roda perekonomian Lampung dapat berjalan.

Kampanye, sosialisasi dan edukasi yang tepat di masyarakat terkait manfaat dan fungsi vaksin Covid-19 perlu dilakukan, mengingat maraknya informasi yang beredar tentang bahaya vaksin yang telah disuntikan terhadap fisik seseorang. Pengelolaan vaksinasi sebaiknya dilakukan secara transparan agar tidak menimbulkan ketakutan di masyarakat. Kondisi ini menjadi tantangan untuk kita hadapi bersama. Keadaan yang lebih baik di masa mendatang akan tetap menjadi harapan kita bersama.

Meskipun pandemi belum diketahui kapan akan berakhir, diperlukan optimisme pelaku usaha agar tercipta iklim usaha yang kondusif di Lampung. Mitigasi rencana pengembangan usaha pasca Covid-19 pun harus mulai dilakukan para pelaku usaha agar mereka lebih siap menghadapi situasi krisis. Ini tentunya membutuhkan dukungan dari pemerintah. Survei Dampak Covid-19 Terhadap Pelaku Usaha Lampung juga mengemukan bahwa bantuan yang dominan diperlukan bagi UMK adalah bantuan modal usaha. Sedangkan bagi UMB, ada tiga bantuan yang paling dibutuhkan selama masa pandemi, yaitu relaksasi pembayaran pinjaman, keringanan tagihan listrik dan bantuan modal usaha.****

*Statistisi Ahli Madya pada Badan Pusat Statistik Kabupaten Pringsewu