Beranda News Pelayanan Publik Pemadaman Listrik Bergilir, Hanya karena Mesin Pembangkit PLTU Bermasalah?

Pemadaman Listrik Bergilir, Hanya karena Mesin Pembangkit PLTU Bermasalah?

2226
BERBAGI

Isbedy Stiawan ZS, Ferdi Gunsan/Teraslampung.Com

Bandarlampung—Hampir satu bulan belakangan ini pemadaman listrik secara bergilir dinikmati masyarakat Lampung. Pemadaman bisa terjadi lebih dari 5 jam dan minimal 3 jam. Bagi pelanggan PT PLN yang taat membayar rekening, kejadian ini sangat mengecewakan.

Masyarakat akhir-akhir ini menghujat PLN Wilayah Lampung—sekarang sudah berganti nama menjadi PLN Distribusi Lampung—yang notabene tugasnya hanya pendistribusi daya sampai ke rumah-rumah bersama unit di bawahnya:  PLN Area Tanjungkarang, PLN Area Metro, PLN Area Kotabumi, sementara bagian pembangkit—khususnya PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) —lepas dari hujatan. Padahal, “biang kerok” persoalan ini pada mesin pembangkit yang buruk.

Sabtu (8/3) siang, matahari menyengat, kami menjenguk PLTU Sumatera Bagian Selatan di Tarahan dan Sibalang, Kabupaten Lampung Selatan. Kompleks PLTU Tarahan pembangkit listrik berkapasitas 2 x 100 MW menggunakan bahan bakar batubara itu berada di sisi kiri jalan trans Sumatera ruas Bandarlampung–Lampung Selatan. Di seberang kompleks PLTU Tarahan, terdapat stock file Bukit Asam.Dari situlah batu bara dialirkan  menggunakan conveyor, dan mempunyai dua pembangkit yang biasa disebut pembangkit tiga dan empat..

Dari jalan trans Sumatera Tarahan, Lampung Selatan, mata kami mendongak ke cerobong besar dan tinggi yang ada di PLTU Tarahan. Cerobong layaknya knalpot kendaraan itu, tidak mengeluarkan asap. “Berarti mesin pembangkit sedang tidak beroperasi,” kami membatin. Menurut informasi yang kami terima PLTU Tarahan sedang overhaul (turun mesin)

Setelah mengambil bebeberapa gambar area PLTU Sumbagsel Tarahan, kendaraan kami arahkan ke Bakauheni. Tujuan kami adalah PLTU Sibalang, Desa Sebalang, Kecamatan Tarahan, Lampung Selatan.

Menyebut PLTU Sebalang, ingatan pun tertuju pada Wendy Melfa, mantan Bupati Lampung Selatan yang saat ini masih mendekam dalam kurungan penjara, kasus markup pembebasan lahan di Sibalang untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) ini dan Emir Moeis Anggota DPR RI yang kasusnya masih dipersidangkan karena menerima suap

Seperti juga PLTU Tarahan, cerobong asap PLTU Sebalang tak tampak “ada yang merokok” sehingga dari puncak cerobong menara tanpa asap. Salah seorang security di PLTU Sibalang yang mengaku baru bekerja di sana, tidak mengetahui apakah mesin pembangkit itu sedang beroperasi atau belum.

“Wah, saya tidak tahu apakah sudah beroperasi atau belum,” katanya. Petugas satpam ini juga selalu menjawab “tidak tahu” setiap ditanya sambil ditambahkan; “saya baru bertugas di sini.”

Rel roli PLTU Tarahan (teraslampung/isb)

Apabila PLTU Tarahan mensuplai batubara langsung dari PT Batubara Bukit Asam Tarahan karena keduanya berjarak tidak jauh. Berbeda dengan PLTU Sibalang, keberadaannya diperkirakan 10 km dari PT Bukit Asam.

Sebuah dermaga bagi kapal pengangkit batubara disiapkan. Lalu rel roli (conveyor) dibangun sangat kokoh dalam bentuk flyover dari dermaga sampai gudangnya yang beratap setengah lingkaran, belum diketahui dari mana suplai batubara untuk pembangkit PLTU Sibalang ini yang juga berkapasitas 2 x 100 MW dengan dua pembangkit yang dinamakan pembangkit satu dan pembangkit dua.

Di PLTU Sebalang kami tak sia-siakan mengambil gambar dari berbagai sudut. Kantor PLTU ini tisak jauh dari panta ilepas. Di sekitar PLTU masih tampak beberapa warung makan dan minuman yang kini tutup.

Boleh jadi, warung-warung yang ada di dekat PLTU Sebalang ini pernah jaya, saat pembangunan PLTU Sibalang. Kini warung-warung itu tidak berpenghuni, mungkin sudah ditinggal pemiliknya. Hanya satu-dua yang kemudian dijadikan tempat tinggal.

Dari kejauhan kami melihat tumpukan batubara di dalam area PLTU Sebalang. Beberapa tumpukan bahkan, kemungkinan batubara itu sebagai stok.Tetapi, tak tampak kesibukan pekerja di dalam PLTU Sibalang. Padahal, kami sudah sangat dekat.

Inilah dua dari sekian pembangkit listrik milik PT PLN yang ada di wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel). Perlu diketahui, Pembangkit Listrik Tenaga Uap yang ada di Lampung di bawah kendali PT PLN Pembangkit Sumbagsel, yang berpusat di Palembang.

Karena pusatnya di Kota Pempek, General Manager (GM) berkantor di Palembang. Di Lampung hanya Manager: Manager PLTU saja, sedangkan pembangkit di luar PLTU antara lain PLTD, PLTA, PLTS dan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTPB) di Ulubelu, KabupatenTanggamus, berada di bawah kendali PLN Sektor Bandar Lampung di Rajabasa (dekat BLPP).

Itu sebabnya, manakala pemadaman listrik bergilir di Lampung hampir sebulan dan menuai protes dari elemen masyarakat, GM Kit (pembangkit) Sumbagsel datang ke Lampung dan langsung meninjau beberapa pembangkit listrik yang dimiliki PT PLN Sumbagsel.

Namun, kata salah seorang kontraktor listrik di Lampung, kehadiran GM Kit Sumabsel beberpaa hari lalu, belum juga menyelesaikan masalah. “Pemadaman listrik bergilir masih berlangsung,” katanya ditemui di AKKLINDO (Asosiasi Kontraktor Kelistrikan Indonesia) DPD Lampung, Sabtu (8/3) siang.

Persoalan kelistrikan di Sumbagsel, khususnya Lampung, adalah masalah mesin pembangkit—PLTU khususnya di dua tempat: Tarahan dan Sibalang—saat ini tidak beroperasi maksimal.

Kontraktor listrik itu menyebut, di dua pembangkit tersebut ada empat mesin pembangkit. Di Tarahan ada dua, yakni mesin 3 dan 4. Sedangkan di PLTU Sebalang juga ada dua, disebut mesin 1 dan 2. Selama ini yang beroperasi hanya mesin 3 dan 4.

“Tapi belakangan ini, salah satu mesin di PLTU Tarahan rusak dan satunya overhaul. Inilah yang menyebabkan terjadi giliran pemadaman listrik,” katanya.

Jadi, dia menambahkan, kalau selama ini masyarakat menghujat dan meminta pertanggungjawaban kepada PT PLN Distribusi Lampung di Rajabasa ataupun PLN Area Tanjungkarang di Jalan Diponegoro sebenarnya kurang tepat. PT PLN Distribusi Lampung itu hanya mendistribusi ke gardu-gardu distribusi kemudian baru ke pelanggan.

“Sedangkan sumber daya listriknya dari pembangkit tidak di bawah kendali PT PLN Distribusi Lampung, melainkan kendalinya pada PT. PLN Pusat,” katanya.

Persoalannya yang dihadapi PLN Distribusi Lampung ini, ialah mesin kualitas pembangkit listriknya buruk. Sehingga tidak bisa beroperasi maksimal untuk mendistribusi daya listrik bagi pelanggan di Provinsi Lampung. Mesin pembangkit di PLTU Sibalang belum beroperasi, sementara dua mesin di Tarahan sedang rusak dan overhaul (perbaikan).

Menanggapi masalah ini, Ketua AKKLINDO DPD Lampung Budi Agustian mengkritisi pihak PLN yang belum memiliki perencanaan ke depan yang baik. Kalau mesin pembangkit hanya bertahan 5 tahun, misalnya, sudah dipikirkan sebelum deadline mesti telah disiapkan mesin baru.

Atau, kata dia lagi, pihak PLN semestinya sudah berpikir bagaimana mengatasi saat mesin rusaka tau overhaul. “Bukan seperti sekarang, sehingga pemadaman bergilir dialami pelanggan yang selalu terjadi dan tidak berujung. Ini akan mengecewakan masyarakat,” kata Budi Agustian.

Meskipun PT PLN Distribusi Lampung juga mendapat distribusi daya listrik, yang disebut interkoneksi, dari Palembang, ternyata tidak menjamin akan memenuhi kebutuhan listrikdi Provinsi Lampung.

Apalagi, satu jalur distribusi daya listrik dari Sumatera Selatan yang semestinya bisa membantu justru jalur SUTET (Saluran Udara Tegangan Tinggi)-nya ditolak atau tidak diizinkan melewati lahan negara yang dikuasakan HPL-nya kepada PT Sugar Grup Lampung (SGC), taipan gula yang terkenal bermurah hati membagi-bagikan gula di tahun politik ini.

Sudah lebih 3 tahun projek SUTET tersebut mandek. “Padahal jalur distribusi listrik liwat SGC itu, bisa sangat membantu, terutama jika terjadi kerusakan pada pembangkit yang ada di Lampung” kata kontraktor listrik lainnya.

Ada apa dan berapa pembangkit listrik di Provinsi Lampung, serta bagaimana perjalanan daya listrik dari pembangkit hingga ke pelanggan? Bagaimana seharusnya dilakukan PLN agar pemadaman bergilir listrik tidak menjadi tradisi seperti selama ini? Teraslampung.Com akan menurunkan berseri.*