Beranda Views Kisah Lain Pemadaman Listrik di Lampung: Meredam Protes dengan Konferensi Pers

Pemadaman Listrik di Lampung: Meredam Protes dengan Konferensi Pers

3215
BERBAGI

BANDARLAMPUNG, Teraslampung.com — Setiap kali ‘musim’ pemadaman listrik tiba, protes panjang dilontarkan warga Lampung.  Protes berupa umpatan, caci maki, dan keluhan di warung kopi atau warung sembako mungkin tidak begitu berdampak dan didengar PLN Lampung. Namun,  protes dan cacian yang bertebaran di beranda halaman Facebook PLN Lampung benar-benar bisa memerahkan telinga. Selain sarkastis, protes itu juga sering diselingi kata-kata kotor. Semua itu adalah ungkapan kejengkelan pelanggan listrik PLN di Lampung.

PLN Lampung tampaknya menyadari betul bahwa reaksi publik itu harus bisa diredam.Apalagi jika reaksi publik itu sudah dimuat media massa. Media cetak mungkin bisa dibungkam. Tetapi bagaimana dengan medi online, yang bisa terus-menerus memberitakan kinerja buruk PLN setiap saat?

Cara paling mudah bagi PLN Lamapung meredam emosi publik adalah dengan memberikan penjelasan kepada publik melalui media massa, Untuk itu, biasanayaa para wartawan akan diundang PLN di sebuah restoran. Belakangan, PLN lebih lihai lagi, biar publik lebih yakin dan wartawan kompak menulis, digandenglah Pemprov Lampung.

Dalam empat bulan terakhir, setidaknya sudah dua kali PLN Lampung menggandeng Pemprov Lampung untuk menggelar konferensi pers. Pertama, pada 27 November 2015, konferensi pers digelar di Ruang Sekdaprov Lampung.

Saat itu Sekdarprov Lampung Arinal Djunaidi sebagai tuan rumah. Arinal Djunaidi mengatakan, Pemerintah Provinsi Lampung saat ini terus bekerja keras mencari solusi terkait permasalahan pemadaman listrik di Provinsi Lampung. Salah satunya dengan merencanakan pembangunan PLTU dengan sumber energii batubara yang suplainya akan di bantu dari Bukit Asam.

“Rencana kerjasama ini sudah disampaikan secara lisan dengan Direktur Utama Bukit Asam dan akan segera kita tindaklanjuti, rencananya pihak bukit asam akan membantu suplai sekitar 2juta – 2,5juta meter kubik batubara untuk pembangunan PLTU di Provinsi Lampung,” kata Arinal.

Menurut Arinal, Pemprov Lampung  akan terus menggenjot kerja PLN agar segera menyelesaikan proses perbaikan di PLTU Tarahan dan Sibalang dan ditargetkan bulan Januari sudah dapet beroperasi secara maksimal serta mendorong Revisi RUPTL.

“Selain itu Pemerintah Provinsi Lampung juga akan mengajak para pelaku industri untuk menggunakan listrik alternatif dan juga mengundang Apindo untuk lebih efektif dalam menggunakan listrik,” kata Arinal.

Sementara General Manager PT PLN Lampung, Irwansyah,saat itu mengatakan bahwa perbaikan-perbaikan terus dilakukan. Irwansyah  menegaskan pihaknya akan terus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Lampung untuk mengatasi berbagai permasalahan listrik yang terjadi di Provinsi Lampung.

Menurut Irwansuah,  krisis listrik di Lampung disebabkan oleh tiga faktor. Yakni, musim kemarau yang panjang yang mengakibatkan turunnya debit air di PLTA tidak beroperasi maksimakl, belum maksimalnya operasional di PLTU Sebalang dan Tarahan, serta akibat tingginya laju pertumbahan ekonomi dan industri yang tidak sebanding dengan jumlah energi listrik di Provinsi Lampung.

Konferensi pers kedua PLN dan Pemprov kembali digelar pada Kamis sore (17/3/2016), hanya beberapa  jam sebelum acara “Menyalakan 1.000 Lilin Bersama” di Bundaran Tugu Adipura Bandarlampung digelar.

Baca: Protes Byarpet PLN, Ribuan Warga Padati Tugu Adipura Nyalakan Seribu Lilin

Inti konferensi pers itu masih sama dengaan konferensi pers-konferensi pers sebelumnya: PLN Lampung sudah berusaha keras mengatasi masalah defisit daya listrik, sementara Pemprov Lampung juga sudah berbuat banyak dengan aneka rencana menambah daya listrik di Lampung.

Di luar soal konferensi bareng itu, tak pelak, muncul banyak cibiran di luaran, terutama di media sosial. Intinya, banyak publik bertanya-tanya: kenapa Sekdaprov Lampung sibuk jadi juru bicara PLN?

Acara “Menyalakan 1.000 Lilin Bersama” di Bundaran pada Kamis malam sebenarnya peristiwa biasa saja. Inti dari acara itu adalah permohonan (petisi), hampir sama persis dengan petisi yang saya sampaikan di change.org yang kemudian disambut antusias oleh publik itu. 

BACA:  2.450-an Orang Tanda Tangani Petisi, Warga Lampung Ingin PLN Profesional

Sebagian besar yang hadir pada malam itu juga diyakini adalah para penandatangan petisi di change.org. Namun, agaknya, rencana ‘teater peristiwa’ itu cukup membuat para PLN Lampung ‘demam’. Mereka pun merasa perlu menggelar konferensi pers di Kantor Pemprov Lampung, meskipun sehari sebelumnya sudah menggelar konferensi pers di Restoran Rumah Kayu, Bandarlampung.

Gubernur Lampung Ridho Ficardo pun seolah-olah merasa mengklarifikasi bahwa pihaknya sudah berbuat banyak untuk membuat Lampung jadi terang benderang. Salah satunya adalah dengan meluncurkan kulkwit di akun Twitter dengan hastag #LampungMandiriListrik.

Tentu saja, yang disampaikan Gubernur Ridho Ficardo baik adanya dan layak didukung. Apa pun upaya untuk membuat Provinsi Lampung terang benderang pasti akan mendapatkan dukungan publik. Yang perlu dikancah dan menjadi perhatian selanjutnya adalah bagaimana proses pelaksanaan rencana-rencana itu, bagaimana rakyat bisa mengawasinya, dan apakah semua itu akan jadi jaminan Lampung tidak krisis listrik lagi?

Semua pertanyaan itu menjadi penting jika kita kaitkan dengan beberapa proyek PLTA dan PLTU sebelamnya yang terdengar ‘wah’ dan menjanjikan, ternyata cuma pepesan kosong. PLTA Batutegi, misalnya, saat belum berusia dua tahun sudah tidak bisa memproduksi listrik dengan maksimal. Hal serupa juga terjadi di PLTU Tarahan. Padahal, sebelum pembangkit listrik itu dibangun santer didengungkan bahwa pembangkit listrik bernili mahal itu akan mengatasi masalah kelistrikan di Lampung.

Oyos Saroso H.N./Tim Teraslampung.com

Loading...