Beranda Views Sepak Pojok Pemahaman Empatis: Doraemon Berlibur

Pemahaman Empatis: Doraemon Berlibur

47
BERBAGI

Oleh Nusa Putra

Doraemon lagi menikmati enaknya dorayaki. Ia kaget sampai keselek karena mendengar teriakan Nobita yang minta tolong. Rupanya Nobita dikejar anjing. Seperti biasanya Doraemon membantu Nobita dan harus berkorban karena ia yang digigit anjing.

Doraemon menyatakan keresahan hatinya. Ia telah bekerja sepanjang waktu untuk menjaga dan menolong Nobita. Ia sama sekali tidak dapat menikmati apa yang ia senangi. Ia meminta pada Nobita agar bisa berlibur. Ia yakin Nobita tak akan mengizinkannya, karena sudah sangat tergantung padanya.

Di luar dugaan Doraemon, Nobita memberinya kesempatan untuk berlibur. Semalaman Doraemon tidak bisa tidur memikirkan apa yang akan dilakukannya untuk berlibur. Ia sungguh bingung, apa yang sebaiknya dilakukan selama berlibur.

Doraemon, masih tidak percaya bahwa Nobita memberinya waktu berlibur. Ia juga khawatir meninggalkan Nobita, sebab Nobita sudah sangat tergantung padanya. Akhirnya ia putuskan meninggalkan bel yang dapat digunakan andaikata Nobita butuh bantuannya. Nobita pada mulanya menolak karena tidak mau mengganggu liburan Doraemon. Akhirnya Nobita mau membawa bel itu dan Doraemon pergi berlibur dengan tenang.

Nobita bercerita pada teman-temannya bahwa Doraemon berlibur dan ia diberi bel untuk memanggil Doraemon jika sangat dibutuhkan. Giant dan Suneo, teman Nobita yang paling iseng menyusun rencana agar Nobita menggunakan bel tersebut. Giant mengganggu Nobita, mengejar dan ingin memukulnya. Nobita berlari ketakutan, berkali-kali ia mencoba mau menggunakan bel pemanggil. Ia tidak lakukan karena tidak mau mengganggu liburan Doraemon. Giant memaksa agar Nobita menggunakan bel itu.

Suneo seakan membantu, ternyata menjebak Nobita sampai dikejar anjing yang sangat besar. Nobita berhasil memanjat pohon menghindari anjing besar itu. Beberapa kali ia hampir terjatuh, dan ia tergoda untuk menggunakan bel itu. Ia menahan diri tidak menggunakannya dan berusaha untuk mengatasi sendiri masalah yang dihadapinya.

Nobita berhasil menghindari anjing. Dengan susah payah ia berhasil memanjat atap rumah yang dekat dengan pohon. Baru saja selamat dari anjing, ia tergelincir dan jatuh ke dalam truk pasir yang kebetulan berhenti. Ia terbawa truk, dan baru bisa turun saat truk berhenti.

Sesaat turun dari truk ia dikejar oleh Giant. Nobita berlari kencang dan menabrak dua anak yang sering mengganggunya. Ia dibawa kedua anak itu ke tempat sepi dan mulai dihajar. Ia benar-benar berada dalam kesulitan. Ia tergoda untuk menggunkan bel pemanggil Doraemon. Tetapi kemudian ia marah pada dirinya sendiri dan membanting bel itu. Kedua anak yang mengeroyoknya sempat ketakutan karena ucapan kemarahan Nobita pada dirinya sendiri. Kemudian mereka melanjutkan mau menghajar Nobita. Pada saat inilah Giant dan Suneo membantu Nobita.

Hari ini Nobita menghadapi banyak masalah, tetapi coba dia atasi sendiri tanpa mengganggu liburan Doraemon. Kala Doraemon kembali, Nobita mengesankan semuanya baik-baik saja sepeninggal Doraemon. Keduanya sama-sama senang.

Apa makna persahabatan? Apa arti kebersamaan?

Dalam hidup, kita memiliki orang dekat. Bisa teman, karib, sahabat, kekasih atau pasangan hidup yaitu suami/istri. Semakin dekat hubungan atau persahabatan dan kebersamaan itu, maka kita akan semakin saling tergantung dan membutuhkan. Bahkan terasa ada yang hilang bila tidak bersama, pun dalam waktu sekejap saja. Dalam kaitan ini kangen atau rindu menjadi bermakna.

Jangan merasa dekat apalagi cinta pada seseorang bila berpisah, rasa kangen tidak muncul. Kangen adalah pertanda kedekatan, keakraban, dan cinta. Semakin kuat rasa kangen menegaskan kuatnya keakraban, kebersamaan dan cinta. Hati-hati bila rasa kangen hilang, itu pertanda buruk.

Keakraban dan kebersamaan pasti akan memunculkan pemahaman empatis. Itulah sebabnya Nobita mengijinkan Doraemon berlibur, meski ia tahu sangat berpotensi memunculkan masalah bagi dirinya sendiri. Sebab selama ini ia memang sudah sangat tergantung pada Doraemon.

Begitu pun Doraemon, ia tidak mau meninggalkan Nobita begitu saja. Ia tinggalkan bel untuk memanggilnya jika memang sangat membutuhkan. Meski ia sadar akan sangat berpotensi mengganggu liburannya.

Inilah sisi lain dari pemahaman empatis. Pemahaman empatis itu tidak statis, tetapi dinamis. Dinamikanya tampak jika kita memiliki kemauan berkorban bagi orang lain, meski pengorbanan itu bisa mencelakai diri kita sendiri. Paling kurang mendatangkan kesulitan bagi kita. Ketulusan berkorban menunjukkan bahwa kita merasa bahwa hubungan itu sangat bermakna, melibatkan seluruh kemanusiaan kita, utuh penuh.

Pada tingkat tertentu, orang bahkan berani mengabaikan keselamatan diri sendiri demi dan untuk orang lain. Sikap itulah yang telah ditunjukkan oleh para pahlawan dari segala zaman. Ia korbankan jiwa raganya demi tanah air, demi kebebasan, demi kemanusiaan. Ia bersedia menjadi hanya sebuah bata untuk tangga yang akan menyampaikan orang lain pada ketinggian. Pemahaman empatis itu mendorong orang tulus berkorban, tentu bagi sesuatu yang diyakini memiliki makna.

Nobita dan Doraemon dengan sangat indah tunjukkan itu. Kemauan dan kemampuan berkorban untuk orang lain. Nobita menanggung akibat yang luar biasa saat Doraemon jauh darinya. Namun, ia tetap usahakan untuk hadapi sendiri masalah yang menimpanya. Dalam situasi itu ada keajaiban. Giant dan Suneo yang mengisenginya muncul sebagai orang yang membantu. Sungguh di luar dugaan.

Inilah kebaikan yang berakar pada pemahaman empatis. Nobita berbuat baik pada Doraemon, dan Giant serta Suneo yang biasa usil juga berbuat baik pada Nobita. Ada rantai kebaikan dalam dunia yang empatis.

Jika dulu waktu belajar ilmu hayat di SD ada topik rantai makanan, maka dalam dunia yang dirempahi oleh pemahaman empatis ada rantai kebaikan. Kebaikan yang melahirkan kebaikan, tak putus-putus.

Dalam dunia yang mempraktikkan dan mendahulukan pemahaman empatis, kebaikan adalah keniscayaan. Semua orang dengan sungguh-sungguh mengusahakan kebaikan, bukan hanya untuk dirinya sendiri. Terutama dan terlebih untuk sesama, bagi kemajuan, kesejahteraan, dan kebahagiaan seluruh manusia. Dengan harapan,

SEMOGA SELURUH MAKHLUK BERBAHAGIA (BUDHA).

PEMAHAMAN EMPATIS ADALAH JALAN MENUJU DAN BERBAGI KEBAHAGIAAN BAGI SESAMA.