Pemahaman Empatis (1)

  • Bagikan

Nusa Putra*

Ngenes. Tragis. Dalam sebuah perbincangan dengan sejumlah besar dosen yang telah mencapai pendidikan tinggi yaitu S3, dan beberapa guru besar, diungkapkan keprihatinan bahwa banyak dosen tidak mengizinkan mahasiswa melakukan penelitian kualitatif untuk karya akhir mereka. Karena para dosen kurang memahami penelitian kualitatif. Sementara yang merasa memahami biasanya enggan mengizinkan karena sulit mencari teori pendukung topik penelitian kualitatif yang telah dirumuskan.

Pada kesempatan lain, saat pelatihan penelitian tindakan partisipatori yang melibatkan lima puluh orang dosen dari seluruh Indonesia, juga dikeluhkan sulitnya melakukan penelitian tindakan partisipatoris yang berbasis penelitian kualitatif karena keharusan berada di lapangan dalam waktu yang agak panjang. Pun dirasakan kesulitan bekerja bersama masyarakat, apalagi masyarakat kelas bawah yang menjadi sasaran pemberdayaan.

Beberapa guru besar dari berbagai perguruan tinggi sering berbincang secara pribadi melalui telepon. Mereka juga mengeluhkan kesulitan mencari dan mengelaborasi teori saat hendak melakukan penelitian kualitatif. Rupanya ketergantungan pada teori dan kebiasaan melakukan penelitian kuantitatif telah menjadi hambatan bagi banyak orang untuk melakukan penelitian kualitatif atau membimbing mahasiswa yang melakukan penelitian kualitatif.

Dulu, sewaktu bukuku yang berjudul Penelitian Kualitatif: Proses dan Aplikasi selesai ditulis, beberapa guru besar dimintai pendapatnya sebagai masukan dan kritik. Dalam jumlah yang sangat banyak, mereka mengecam buku itu karena tidak ada kutipan dari para ahli penelitian kualitatif. Rupanya kutipan dianggap lebih bernilai daripada hasil refleksi atas pengalaman melakukan penelitian kualitatif berkali-kali. Boleh jadi karena kurang atau tidak memiliki refleksi atau pendapat pribadi yang layak ditulis, para guru besar itu tidak pernah menulis buku. Bersebalikan dengan sikap mereka, Prof. Dr. Conny R. Semiawan dan Prof. Dr. H. A. R. Tilaar yang telah menulis banyak buku memotivasi agar buku itu segera diterbitkan, justru karena merupakan refleksi pengalaman meneliti. Ada keaslian dan keunikan, tegas Prof. Conny.

Rupanya memang banyak akademisi atau intelektual sebegitu tidak percaya diri dan hanya menjadi pengkonsumsi teori dan pendapat orang. Lantas, mana pendapat mereka sendiri? Mestinya jika sudah doktor, apalagi profesor doktor, mestinya sudah memiliki refleksi berkualitas tinggi yang layak ditulis dan disebarluaskan ke publik. Jangan hanya mengutip pendapat orang.

Ada pengalaman lucu saat ujian terbuka, promosi doktor. Aku terpaksa mengatakan, mohon maaf Prof., apakah ada pertanyaan lain? Ini terpaksa dilakukan, karena sang guru besar menggunakan pertanyaan penelitian kuantitatif, sedangkan penelitiannya adalah kualitatif. Salah satu pertanyaan terkait dengan penjelasan teoritis atas variabel. Padahal dalam penelitian kualitatif tidak berurusan dengan variabel.

Keseluruhan cerita panjang di atas hendak menunjukkan dua hal yaitu:
1). Kekurangpahaman terhadap penelitian kualitatif, dan menggunakan cara pandang penelitian kuantitatif untuk menilai penelitian kualitatif
2). Ketergantungan pada teori sebagai basis untuk memahami dan menjelaskan.

Ketergantungan pada teori ini sampai-sampai membuat sejumlah orang tidak berani  untuk mencoba memahami realitas atau kondisi sosial  sebagai subjek penelitian. Ambillah contoh kasus sodomi. Dari banyak kasus terungkap bahwa sebagian, bahkan hampir semua pelaku sodomi pernah menjadi korban.

Apa yang dilakukan oleh kebanyakan akademisi selama ini adalah menggunakan beragam teori untuk menjelaskan fakta itu. Dari sudut pandang psikologi banyak teori yang bisa dimanfaatkan. Dari psikologi analitis Sigmund Freud, bihaviorisme, sampai humanisme. Begitupun pandangan sosiologi, banyak teori yang digunakan.

Pertanyaanya adalah apakah teori-teori itu bisa menjelaskan masalah itu secara tepat, akurat, rinci dan mendalam? Untuk mereka yang sangat suka pada kutipan dari ahli yang sohor, dipersilahkan melakukan kajian terhadap apa yang dilakukan Glaser dan Strauss, sosiolog yang mempelopori dan mengembangkan Grounded Theory.

Kedua sosiolog itu secara tajam mengkritik bagaimana teori dibangunrumuskan dan digunakan selama ini. Terori-teori besar dibangunrumuskan bukan berdasarkan realitas atau fakta dan data. Tetapi didasarkan pada spekulasi filosofis yang bersifat deduktif-rasional. Teori-teori itu kemudian digunakan untuk menjelaskan berbagai kejadian, masalah, dan berbagai anomali seperti sodomi yang sebenarnya khas dan unik. Meski mungkin ada kesamaan universalnya, tetaplah ada keunikan dalam setiap kejadian, masalah, dan anomali. Karena itu dalam bidang sosial kemanusiaan sangat sulit merumuskan teori yang berlaku universal. Karena berkutat dengan manusia yang memiliki kebebasan yang seringkali tak terduga. Tidak seperti ilmu-ilmu alam yang berurusan dengan benda mati, atau makhluk hidup yang dikondisikan.

Kedua sosiolog itu kemudian menyarankan dan mempraktikkan Grounded Theory dalam penelitian yang berjudul Awareness of Dying. Grounded Theory adalah upaya sistematis membangunrumuskan teori dari bawah, dari fakta dan data secara induktif. Secara bertahap berkelanjutan, berdasarkan pada fakta dan data dirumuskan teori. Teori yang berakar pada realitas.

Dalam kasus sodomi, daripada menggunakan pandangan teoritis dari berbagai ahli yang sudah ada, lebih baik melakukan wawancara mendalam disertai dengan pengamatan cermat terhadap sejumlah pelaku, korban, dan orang-orang yang dekat dengan mereka.

Dengan demikian akan diperolehdapatkan pemahaman empatis. Apa itu pemahaman empatis? Pemahaman empatis adalah memahami dari sudut orang yang dipahami. Artinya kita menggunakan sudut pandang orang yang diteliti. Bagaimana penghayatan merek terhadap hidup yang dijalani.

Dalam kasus sodomi, bayangkan bahwa kita adalah korban. Jadi, kita menempatkan diri dalam posisi korban. Pemahaman dari dalam. Dari dalam diri orang yang mengalami.

Tidak mudah memang. Kita pertama-tama harus mampu berempati pada si korban. Melampaui simpati. Simpati itu kita memahami secara mendalam, tetapi pemahamannya masih beranjak dari dalam diri kita yang mengarah pada orang lain. Empati melampaui itu, memahami dari sudut orang yang dipahami.

* Dr. Nusa Putra adalah staf pengajar Universitas Negeri Jakarta

  • Bagikan