Beranda Hukum Kriminal Pembalakan Liar Register 19, Petugas Polhut Mengaku Kecolongan

Pembalakan Liar Register 19, Petugas Polhut Mengaku Kecolongan

184
BERBAGI
Kayu sonokeling dari Regiter 19 dimaukkan ke truk.Pelaku pembalakan liar membawa keluar kayu sonokeling setelah mengolahknya lebih dulu. Ketika kayu sudah dalam bentuk olahan dengan diameter tertentu dan tidak berupa kayu gelondongan, prose pengirimman akan lebih aman.

Zainal Asikin/Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG–Pada saat Kasi Intel Korem 043 Gatam, Letkol Inf Edwin Gunawan sedang memintai keterangan dari empat buruh pengangkut kayu sonokeling hasil curian di hutan kawasan Register 19 Taman Hutan Rakyat (Tahura) Wan Abdurrahkan, Kabupaten Pesawaran, seorang pria berutubuh gempal tiba-tiba datang. Ia memperkenalkan diri sebagai Yuridis, polisi kehutanan (Polhut) yang bertugas menjaga di kawasan tersebut.

Yuridis selaku Kepala Resort Penata Tingkat I Golongan 3 D, Keodondong, Way Lima, yang mendatangi lokasi penggrebekan dilakukan tim intel Korem 043 Gatam mengatakan, bahwa dirinya tidak mengetahui dan merasa kecolongan adanya temuan kayu sonokeling hasil curian dari hutan kawasan ditempatnya bertugas.

“Saya benar-benar tidak tahu, padahal saya sudah sering memberikan pengarahan dan mengingatkan agar masyarakat tidak melakukan pencurian kayu di hutan kawasan ini. Apalagi pencurian kayu sonokeling ini, didalangi oleh Kepala Desa. Kalau adanya oknum aparat TNI saya justru lebih tidak tau lagi itu,”ujarnya.

Dikatakannya, pencurian kayu jenis sonokeling yang dilakukan para pelaku pembalak liar, di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Wan Abdurrahman atau Register 19 hutan lindung gunung betung di Kecamatan Way Lima, Peswaran ini memang sudah sangat dominan sekali.

“Kami sudah sejak lama mencurigai adanya keterlibatan warga bernama Topik asal Yogyakarta. Dia (Topik) belum lama tinggal di Desa Margodadi ini, tapi kami belum temukan barang bukti kayu curiannya,”ucapnya.

Yuridis mengutarakan, dari 17 anggota Polisi kehutanan (Polhut) yang bertugas mengawasai 22,400 ribu hektar hutan kawasan register 19 ini dibagi menjadi beberapa titik. Menurutnya, sejak tahun 86 ia bertugas di hutan kawasan itu. Diakuinya, memang sudah terjadi pencurian kayu (ilegal loging) ini
yang sudah menjadi sampai turun menurun sejak dari dulu.

“Dari 22,400 ribu hektare hutan kawasan Register 19 ini, ada tujuh tempat yang menjadi pencurian kayu dilakukan para pelaku. Tujuh tempat itu di daerah Umbul Solo, Pulau Raya, Margodadi, Curug dan Tempelrejo,”ungkapnya.