Beranda News Pusiban Pembebasan Lahan Landasan Pacu Bandara Raden Inten II Telan Dana Rp43 M

Pembebasan Lahan Landasan Pacu Bandara Raden Inten II Telan Dana Rp43 M

988
BERBAGI

BANDARLAMPUNG, Teraslampung.com—Persiapan Bandara Raden Inten II untuk menjadi bandara internasional terus dilakukan. Pemerintah Provinsi Lampung tahun  ini  telah merencanakan pembebasan lahan untuk menambah landas pacu sepanjang 36 hektare dengan menelan dana  sebesar Rp43 Miliar.

Demikian hasil rapat lanjutan pembebasan lahan pengembangan Bandara Raden Intan II yang dilaksanakan di ruang rapat asisten bidang pemerintahan Provinsi Lampung , Selasa (19/5).

Rapat lanjutan dipimpin oleh Asisten Bidang Pemerintahan Tauhidi dihadiri oleh Kepala Biro Tata Pemerintahan Yudhi Hermanto, Kepala Bidang Perhubungan Udara Dinas Perhubungan Bambang Sumbogo, Kasi Hak Tanah Badan Pertananan Nasional Lampung Selatan Zainal Arifin, Kasubbag Tata Usaha Bandar Udara Raden Intan II Moch.Yamin, pihak Kecamatan Natar, Kepala Desa Bumi Sari dan Kepala Desa Candimas, serta Polsek dan Koramil Kecamatan Natar Lampung Selatan.

Tauhidi menjelaskan pemerintah Provinsi Lampung telah merencanakan pembebasan lahan untuk mengembangkan/menambah landas pacu sepanjang 81,5 hektare.  Namun pada tahun 2015 ini, baru 36 hektare yang direncanakan akan dibebaskan. Hal ini disesuaikan dengan kemampuan anggaran pemerintah Provinsi Lampung  Tahun 2015 sebesar  Rp43 Miliar .  Sedangkan sisa dari jumlah lahan akan dianggarkan pada tahun berikutnya.

Dalam rapat ini  juga dibahas tentang  kelengkapan administrasi, persiapan pembentukan tim pembebasan lahan, hingga teknis sosialisasi kepada publik atau masyarakat pemilik lahan. Dimana tahapan sosialisasi sendiri akan dimulai dengan tahapan pendataan awal pemilik lahan yang masuk dalam rencana perluasan landasan pacu Bandara Raden Inten II.

Salah satu hasil rapat persiapan pembebasan lahan pengembangan Bandara Raden Inten II  adalah secara konkrit tim persiapan akan melakukan survey dan memulai penetapan lahan pada  Kamis  (22/5)  dengan membagi dua tim sebagai upaya percepatan proses pembebasan lahan.

Menurut Tauhidi, dalam prosesnya nanti pembebasan lahan tentunya akan terjadi proses transaksi penggantian lahan masyarakat, yang lazim disebut ganti rugi tetapi  kali ini Tim tidak menggunakan istilah ganti rugi, tetapi ganti wajar . Dalam ganti wajar , di mana proses penggantian lahan akan disesuaikan dengan kemampuan dan keadaan riil di lapangan, sehingga masyarakat tidak merasa dirugikan atas pembebasan lahan ini,

Tauhidi  juga mengajak kepada Tim Persiapan Pembebasan utamanya kepada pihak pamong desa setempat kiranya dapat mempublikasikan bahwa dalam pengelolaan anggaran kegiatan pembebasan lahan ini dilakukan secara terbuka sehingga masyarakat dapat mengerti dan memahami kondisi riil anggaran yang ada, sehingga memininalisir anggapan-anggapan yang berkembang di masyarakat nantinya.

Loading...