Beranda Views Opini Pembenahan BUMN Secara Holistik

Pembenahan BUMN Secara Holistik

808
BERBAGI
Andi Desfiandi

Oleh: Andi Desfiandi

Total aset BUMN di tahun 2018 mencapai lebih dari 8.000 triliun hanya menyumbang laba sekitar 188 triliun (ROA 2.35%) dan menyumbang total pendapatan sekitar Rp2.339 triliun (NPM 8%) dengan basis akrual. Belum tentu pendapatan dan juga laba merefleksikan keadaan kas yang sesungguhnya, terkadang pendapatan/laba yang belum diperoleh secara kas tetap diakui.

Di sisi lain, jumlah utang yang cukup besar sekitar Rp5.227 triliun (DER 34.4% secara keseluruhan dan tiap sektor bervariasi). Dengan begitu, pendapatan yang hanya mencapai 2.339 triliun dan menyumbang Rp188 triliun laba boleh dianggap kinerja keuangan BUMN belum produktif, walaupun ada perbaikan setiap tahunnya.

Akan bertambah masalahnya apabila cash flow perusahaan terganggu. Misalnya akibat piutang usaha yang lama tertagih dan piutang usaha tersebut juga kepada BUMN lainnya, maka sudah dapat dipastikan akan memengaruhi cash flow seluruh BUMN.

Revaluasi aset dan merger & acquisition memang akan memperkuat posisi aset dan modal terhadap hutang (Debt to Equity Ratio dan Debt to Total Asset Ratio). Namun, itu  hanya untuk jangka pebdek saja dan akan berbahaya apabila pengelolaan aset dan hutang semakin tidak produktif sementara utang terus bertambah. Sehingga, akan terkesan hanya window dressing saja untuk kepentingan rekayasa keuangan dalam rangka restrukturisasi keuangan korporasi untuk tujuan tertentu.

Sudah saatnya BUMN melakukan perombakan besar-besan terhadap kinerja seluruh BUMN dan tidak cukup hanya melakukan restrukturisasi tapi harus melakukan Rekayasa Ulang Bisnis Proses (Business Process Reengineering) mulai dari anak/cucu BUMN hingga ke holding BUMN.

Transformasi total yg dilakukan tidak hanya melakukan restrukturisasi keuangannya tapi seluruh bisnis proses BUMN yang tentunya akan berdampak terhadap kinerja perusahaan secara holistik.

BUMN sudah seyogianya menjadi katalisator dan leading sector perekonomian nasional bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan seperti pemerintah, swasta nasional, UMKM/Koperasi, BUMD dan BUMDES.

Penangan ekonomi nasional tidak lagi bisa dilakukan secara ego sektoral tapi harus dilakukan secara holistik dengan pendekatan kolaborasi. Dan BUMN harus menjadi titik sentral penggerak ekonomi nasional namun tentunya harus menyehatkan dirinya terlebih dahulu, dan dengan segala potensi yang ada mustahil untuk tidak bisa dilakukan.

Perubahan besar sudah saatnya dilakukan dan akan selalu ada perlawanan disetiap perubahan sekecil apapun, komitmen dan konsistensi dari pemegang kebijakan sangat diperlukan apabila ingin berubah kearah yang lebih baik lagi.

Tantangan hari ini dan kedepan bukan semakin mudah yang diperparah oleh kondisi ekonomi global yang semakin memburuk, tak ada kata lain selain “do it now or never” dan mari berfikir dan bertindak out of the box bahkan no box at all karena dunia sudah tanpa sekat lagi dan berubah dalam kedipan mata.

Wallahualam

Dr. Andi Desfiandi adalah Ketua Bidang Ekonomi DPP Bravo Lima dan Ketua Yayasan Alfian Husin, Lampung

Loading...