Beranda Seni Pembentukan DKM, AWPI Mesuji Diskusi Bersama Sastrawan Lampung

Pembentukan DKM, AWPI Mesuji Diskusi Bersama Sastrawan Lampung

165
BERBAGI

TERASLAMPUNG.COM — Untuk mendorong terbentuknya Dewan Kesenian Mesuji (DKM), Ketua Asosiasi Wartawan Profesional Indonesia (AWPI) Mesuji, Lukmasn, diskusi bersama Paus Sastra Lampung, Isbedy Stiawan ZS, di Ruang Belajar Lamban Sastra Jatiagung, Minggu, 19 Mei 2019.

Pada kesempatan itu mengatakan dewan kesenian sangat penting karena berfungsi sebagai fasitator dan katalisator  bagi  pelaku seni di daerah-daerah.

“Hal itu berlangsu sejak 1993, sesuai dengan Instruksi Mendagri nomor 5.A tahun 1993,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua AWPI Mesuji, Lukman, menegaskan sikap AWPI Mesuji yang mendorong pembentukan Dewan Kesenian Mesuji (DKM) sebagai wadah kretivitas dan berkarya bagi semua pelaku seni dan sastra.

“Kita berharap secepatnya dapat terbentuk. Setidaknya sebagai rumah bagi para seniman dan sastrawan lokal,” ujarnya.

Novelis asal Mesuji, Fajar Mesaz, yang beberapa waktu lalu menjadi juara nominasi dalam Lomba Puisi Esai Asean yang ditaja di Malaysia, ikut berkomentar terkait wacana pembentukan Dewan Kesenian Mesuji.

“Terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali. Memang sudah waktunya,” kata dia.

Menurut penulis novel BEGUM: Rohingya Itu Mati itu,  melalui media seni dan sastra, stigma buruk Mesuji dapat diimbangi secara konstruktif.

Fajar juga mengatakan, para penggiat seni dan sastra di Mesuji sebenarnya sudah menghimpun diri dalam satu wadah Komunitas Seni Mesuji. Hanya saja, Pemerintah Daerah seperti alergi mengurus hal-hal semacam ini.

“Komunitas itu bahkan sudah beberapa kali mengadakan pertunjukan di taman Brabasan secara mandiri. Lukisan elektronik wajah bupati Khamami oleh anak-anak komunitas di pajang sampai ke mana-mana. Sayangnya, tak ada intitusi yang berinisiatif membina,” ucapnya dengan wajah miris.

Suwondo Alex, ketua Gerakan Pemuda Mesuji (GPM) mendukung rencana pembentukan DKM.

Suwondo menegaskan siap memfasilitasi tempat bagi para sastrawan dan seniman untuk berdiskusi lebih jauh.

“Sekretariat GPM silakan digunakan. Untuk sementara silakan dipakai sebagai sekretariat bersama,” kata Suwondo.

Menurut dia, selama ini para pelaku kesenian di Mesuji tak pernah memiliki ruang kecuali hanya sebatas kegiatan-kegiatan serimonial yang jauh dari mengakar.

“GPM pernah mengadakan diskusi terkait hal ini dan menghadirkan sastrawan Lampung Isbedy Stiawan, meski saat itu sempat ‘diboikot’,” katanya.

RLS

Loading...