Beranda Hukum Pembobol Bank BNI Rp 1,7 Triliun Diekstradisi dari Serbia

Pembobol Bank BNI Rp 1,7 Triliun Diekstradisi dari Serbia

345
BERBAGI
Buron tersangka kasus pembobolan Bank BNI Cabang Kebayoran Baru senilai 1,7 triliun, Maria Pauline Lumowa, diekstradisi dari Serbia. Proses ekstradisi dilakukan oleh delegasi pemerintah yang dipimpin oleh Menkumham Yasonna Laoly. Foto: dok Kemenkum HAM
Buron tersangka kasus pembobolan Bank BNI Cabang Kebayoran Baru senilai 1,7 triliun, Maria Pauline Lumowa, diekstradisi dari Serbia. Proses ekstradisi dilakukan oleh delegasi pemerintah yang dipimpin oleh Menkumham Yasonna Laoly. Foto: dok Kemenkum HAM

TERASLAMPUNG.COM — Setelah  berhasil ditangkap Interpol Serbia pada 16 Juli 2019, akhirnya tersangka pembobol Bank BNI senilai Rp1,7 triliun pada 2013 lalu, Maria Pauline Lumowa (62), bisa diekstradisi ke Indonesia, Rabu (8/7/2020).

Menteri Hukum dan HAM Yasonna Hamonangan Laoly turut menjemput langsung tersangka dan tiba di Bandara Soekarno Hatta pada Kamis siang (9/7/2020).

Yasonna mengatakan perlu proses setahun untuk bisa membawa Pauline Luwowa. Hal itu karena Serbia dan Indonesia  belum memiliki perjanjian ekstradisi. Lumowa bisa diekstradisi setelah melalui lobi. Hal itu dimungkinkan karena Indonesia beberapa waktu lalu juga mengizinkan ekstradisi warga negara Serbia yang menjadi tersangka kejahatan bank di negaranya.

“Keberhasilan menuntaskan proses ekstradisi ini tak lepas dari diplomasi hukum dan hubungan baik kedua negara. Selain itu, proses ekstradisi ini juga menjadi buah manis komitmen pemerintah dalam upaya penegakan hukum yang berjalan panjang,” kata Yasona dalam keterangan persnya seperti disiarkan Kompas TV.

Maria Pauline Lumowa ditangkap oleh NCB Interpol Serbia di Bandara Internasional Nikola Tesla, Serbia, pada 16 Juli 2019. Setelah serah terima dengan otoritas Serbia dibantu KBRI di Beograd. Delegasi Indonesia dipimpin Menkumham Yasonna Laoly kemudian menjemput Lumowa dari Serbia.

Maria Pauline Lumowa merupakan salah satu tersangka pelaku pembobolan kas Bank BNI cabang Kebayoran Baru lewat Letter of Credit (L/C) fiktif.

Pada periode Oktober 2002 hingga Juli 2003, Bank BNI mengucurkan pinjaman senilai 136 juta dolar AS dan 56 juta Euro atau sama dengan Rp 1,7 triliun dengan kurs saat itu kepada PT Gramarindo Group yang dimiliki Maria Pauline Lumowa dan Adrian Waworuntu.

Aksi PT Gramarindo Group diduga mendapat bantuan dari ‘orang dalam’ karena BNI tetap menyetujui jaminan L/C dari Dubai Bank Kenya Ltd., Rosbank Switzerland, Middle East Bank Kenya Ltd., dan The Wall Street Banking Corp yang bukan merupakan bank korespondensi Bank BNI.

Pada Juni 2003, pihak BNI yang curiga dengan transaksi keuangan PT Gramarindo Group mulai melakukan penyelidikan dan menemukan bukti bahwa perusahaan tersebut tak pernah melakukan ekspor.

Dugaan L/C fiktif tersebut lalu dilaporkan ke Mabes Polri. Namun, Maria Pauline Lumowa sudah lebih dahulu terbang ke Singapura pada September 2003 atau satu bulan sebelum Mabes Polri menetapkan dia sebagai tersangka.

Loading...