Beranda Hukum Kriminal Pembunuhan Sadistis: Kronologi Brigadir Medi dan Tarmizi Membuang Mayat Mutilasi Anggota DPRD...

Pembunuhan Sadistis: Kronologi Brigadir Medi dan Tarmizi Membuang Mayat Mutilasi Anggota DPRD Bandarlampung

1975
BERBAGI
Pra-rekonstruksi pembujnuhan Pansor dengan tersangka Brigadir Medi Andika dan Tarmizi. Dalam prarekonstruksi ini Medi menolak memeragakan adegan dengan alasan tidak membunuh Pansor.

TERASLAMPUNG.COM, BANDARLAMPUNG — Polda Lampung telah menggelar prarekonstruksi ke dua kasus pembunuhan dan mutilasi anggota DPRD Bandarlampung, M Pansor, pada Kamis (5/8/2016) lalu.  Dalam gelar prarekonstruki lanjutan tersebut, menggambarkan kronologi dari pasca pembuangan mayat M Pansor dari OKU Timur, Sumatera Selatan.

Diketahui, pada saat dilakukan prarekonstruksi pertama, digelar di tiga tempat di Bandarlampung, lalu dilanjutkan ke lokasi tempat ditemukannua jenazah M Pansor di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) , Sumatera Selatan, pada Senin (1/8/2016) lalu. Untuk di Bandarlampung, ada sekitar 13 adegan yang diperakan.

Pada gelar prarekonstruksi kedua, ada sekitar 50 adegan yang diperagakan, semua adegan tersebut diperagakan oleh tersangka Tarmizi. Sedangkan tersangka Brigadir Medi Andika, tidak mau memeragakan adegan dan hanya tetap berada di dalam mobil.

SIMAK: Kasus Mutilasi Anggota DPRD Bandarlampung, Prarekonstruksi Ketiga Digelar di Merak-Banten

Peran tersangka Medi Andika digantikan penyidik Polda Lampung oleh seorang anggota polisi. Pada saat gelar prarekonstruksi tersebut, selain para penyidik dihadiri oleh tim kuasa hukum Medi, yakni Budiono.

Puluhan adegan tersebut dilakukan di sekitar 10 tempat yang dijadikan lokasi prarekonstruksi kedua. Dimulai dari Polresta Bandarlampung, RS Advent, Tempat Cucian Mobil Soponyono, jalan di dekat SMAN 5 Bandarlampung, perempatan lampu merah cucian Andre, dan pinggir Jalan Urip Sumoharjo.

Adegan kemudian berlanjut ke rumah kakak tersangka Tarmizi di Perumahan BTN 3 Way Halim, pinggir jalan dekat Cafe Babe Way Halim, Gerai Handphone Cinta Cell di Jalan Ki Maja dan di tempat pembuatan plat nomor kendaraan di Jalan Teuku Umar depan Kantor PT KAI.

Dalam prarekonstruksi tersebut, tergambar bahwa cara tersangka Medi Andika menghilangkan jejak usai membunuh dan membuang mayat M Pansor di OKU Timur, Sumatera Selatan.

Inilah gelar prarekonstruksi ke dua Kronologi ketika Brigadir Medi Andika dan Tarmizi membuang mayat M Pansor:

  1. Dalam perjalan pulang dengan mengendarai mobil Pansor, tepatnya di daerah Bukit Kemuning, Lampung Utara. Tersangka Medi menanyakan kepada Tarmizi, apakah ingin tahu yang telah dibuang olehnya. Tarmizi pun menjawab ingin tahu, tetapi Medi tidak memberitahukan dengan alasan jika tahu nanti Tarmizi takut.
  2. Sesampainya di Gunung Sugih, Lampung Tengah, akhirnya Medi memberitahukan kepda Tarmizi bahwa yang telah dibuangnya tersebut adalah, mayat orang. Lalu
  3. Tarmizi sempat menanyakan mayat siapa, Medi tidak memberitahukan mengenai hal itu kepada Tarmizi. Medi mintaa Tarmizi tidak usah banyak tanya dan tahu soal mayat yang telah dibuang.
  4. Sesampainya di depan Mapolresta Bandarlampung, Medi turun dari mobil dan meminta Tarmizi untuk mencuci mobil Pansor. Medi masuk ke dalam kamar mandi masjid di samping Mapolresta, yakni untuk berganti pakaian dan kemudian ikut melaksanakan apel pagi.
  5. Selanjutnya, Tarmizi membawa mobil Pansor ke cucian mobil Soponyono di Jalan Soekarno Hatta. Di tempat tersebut, Medi meghubungi Tarmizi dan meminta agar mengecek kondisi mobil. Apakah ada peluru atau lubang bekas peluru di mobil tersebut atau tidak, Tarmizi pun melihat ada lubang sebesar ujung jari telunjuk di kursi samping sopir.
  6. Di mobil itu juga, ada bercak darah di rem tangan, jok sebelah kiri sopir, perseneling, pintu kiri dekat speaker dan dibagian karpet bawah. Namun, Tarmizi tidak menemukan peluru atau proyektil di dalam mobil tersebut.
  7. Tarmizi kembali menghubungi Medi dan memberitahukan tidak ditemukan adanya peluru atau proyektil di dalam mobil. Lalu Medi berpesan kepada Tarmizi, kalau ada yang menanyakan adanya darah yang ada di dalam mobil. Bilang saja, mobilnya habis dipakai sama anggota polisi.
  8. Pada adegan prarekonstruksi tersebut juga, ada seorang saksi pencuci mobil di Soponyono yang menanyakan, bahwa ada darah di mobil. Sesuai arahan dari Medi, Tarmizi menjawab kepada pencuci mobil bahwa mobilnya habis dipakai anggota polisi.
  9. Usai mencuci mobil, Medi kembali menyuruh Tarmizi untuk segera membawa mobil Pansor dan memarkirkan mobilnya di Rumah Sakit Advent. Tarmizi melaksanakan perintah Medi, lalu memarkirkan mobil Pansor di lantai paling atas Rumah Sakit Advent.
  10. Setelah itu, Tarmizi pulang ke rumah kakaknya di Perum BTN 3 Way Halim dengan naik mobil angkot.
  11. Pada siang harinya, Medi kembali menghubungi Tarmizi dan meminta Tarmizi untuk datang menemuinya di Polresta Bandarlampung. Medi juga menyuruh Tarmizi, untuk membelikan ponsel yang harganya hanya sebesar Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu.
  12. Setelah sampai di Mapolresta Bandarlampung, kedunya bertemu di depan ruangan Unit Laka Lantas. Saat itu, ada saksi bernama Fahrizal yang melihat Medi dan Tarmizi. Kemudian Medi meminjam helm milik Fahrizal, lalu Medi pergi bersama Tarmizi mengendarai sepeda motor Honda Beat milik Medi.
  13. Kedua tersangka menuju ke salah satu reklame tempat pembuat plat nomor kendaraan di Jalan Teuku Umar depan Kantor PT KAI Tanjungkarang. Di tempat itu, Medi membuat plat palsu untuk mengganti plat kendaraan yang asli milik mobil Pansor.
  14. Setelah mendapatkan plat palsu, Medi dan Tarmizi pergi menuju Jalan Soekarno Hatta tepatnya di depan SMAN 5 Bandarlampung. Ditempat itulah, Medi menghancurkan polsel BlackBerry milik Pansor menggunakan batu.Sementara sim card milik Pansor, tidak ikut dihancurkan dan sim card tersebut ditaruh Medi di ponsel Nokia yang dibeli oleh Tarmizi.
  15. Keduanya pergi lagi menuju ke perempatan lampu merah cucian Andre, Tanjungkarang Timur. Ditempat itu, Medi turun dari sepeda motornya lalu berjalan pergi menuju kearah lampu merah. Pada saat ada kendaraan mobil truk melintas di jalan tersebut, Medi membuang ponsel Nokia yang berisi sim card milik Pansor itu ke dalam bak mobil truk tersebut.
  16. Setelah itu, keduanya pulang kerumah Medi di Jalan Cendana Blok C Perumahan Permata Biru, Sukarame dan Tarmizi pun pulang ke rumah kakaknya. Dalam perjalanan pulang di Jalan Urip Sumoharjo, Tarmizi membuang sim card miliknya.
  17. Setelah beberapa hari kemudian, Tarmizi membuat rekening Bank BRI yang berada di Polresta Bandarlampung. Rekening bank yang dibuat tersebut, digunakan untuk menyimpan uang hasil penjualan mobil milik Pansor.
  18. Medi dan Tarmizi pergi ke Jakarta untuk menjual mobil Pansor. Selama di perjalanan kedunya membawa kendaraan tersebut menggunakan plat nomor kendaraan palsu.

IKUTI PERKEMBANGAN TOPIK: Pembunuhan Anggota DPRD Bandar Lampung