Beranda News Nusantara Pemerintah Didesak Merevitalisasi Komite Sekolah

Pemerintah Didesak Merevitalisasi Komite Sekolah

230
BERBAGI

Dandy Ibrahinm/Teraslampung


Lokastudi pengoptimalan peran Komite Sekolah, di Hotel Aziza, Solo, Selasa (15/7).

SOLO –  Hasil kajian yang dilakukan Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) dan GEMA PENA (Gerakan Masyarakat Peduli Pendidikan Nasional) di 8 provinsi (Jateng, Jabar, Jatim, Banten, DIY, DKI Jakarta, Lampung dan NAD) pada akhir tahun 2013 sampai awal tahun 2014 ini menemukan fakta bahwa fungsi dan peran Komite Sekolah belum berjalan secara efektif.

“Bahkan ada kesan dari sebagian masyarakat yang memandang komite sekolah hanya sebagai ‘tukang stempel’ atas berbagai kebijakan di sekolah,” ujar Direktur YSKK, Suroto, di Solo, Selasa (15/7).

Menurut Suroto ada beberapa hal yang menyebabkan fungsi dan peran komite sekolah belum berjalan secara efektif. “Ada beberapa hal yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Pertama, 62% komposisi keanggotaan Komite Sekolah diisi oleh unsur guru, tentu ini kurang ideal. Karena berakibat pada kurang efektifnya fungsi kontrol terhadap sekolah. Selanjutnya, masa jabatan komite sekolah pun tidak jelas, hasil penelitian kami menemukan 65% komite sekolah menjabat lebih dari 2 periode,” kata Suroto.

Di dalam PP Nomor 17 Tahun 2010 secara tegas disebutkan bahwa keanggotaan Komite Sekolah terdiri atas orang tua/wali murid paling banyak 50%, tokoh masyarakat paling banyak 30% dan pakar pendidikan yang relevan paling banyak 30%. Sedangkan masa jabatan atau periode keanggotaan Komite Sekolah adalah 2 periode.

Suroto menambahkan, terdapat beberapa temuan lain hasil dari kajian tersebut diantaranya proses pemilihan komite sekolah yang dianggap belum transparan dan partisipatif serta pemahaman yang masih kurang terkait kedudukan, peran dan fungsi komite sekolah.

 “Jadi komite sekolah masih dipandang sebagai penjelmaan dari BP3 (Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan) atau POMG (Persatuan Orangtua Murid dan Guru), dengan peran dan fungsi yang sama saja. Serta masih lemahnya kapasitas sebagian anggota komite sekolah,” imbuhnya.

Menyadari begitu penting dan strategisnya fungsi dan peran Komite Sekolah sebagai representasi orang tua atau wali murid dalam menyuarakan kepentingannya sekaligus sebagai penyeimbang (kontrol) terhadap berbagai kebijakan sekolah maka menjadi sangat mendesak untuk segera melakukan revitalisasi Komite Sekolah.

Revitalisasi Komite Sekolah tersebut meliputi: (1). Pembatasan periode kepengurusan Komite Sekolah; (2). Keanggotaan Komite Sekolah sepenuhnya berasal dari unsur orangtua/wali murid; (3). Proses pemilihan Komite Sekolah harus dilakukan secara transparan akuntabel dan partisipatif; (4). Penguatan terhadap kapasitas Komite Sekolah; (5). Memperjelas dan mempertegas fungsi dan peran komite sekolah.

“Dan sebagai salah satu upaya untuk mengoptimalkan fungsi dan peran Komite Sekolah, YSKK akan menyelenggarakan Lokalatih Optimalisasi Peran Komite Sekolah selama 3 hari (15-17 Juli 2014) di Hotel Aziza, Solo. Lokalatih ini diikuti oleh 30 peserta yang berasal dari 6 komite sekolah di 3 provinsi (Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta dan Lampung). Kegiatan ini juga menjadi bagian dari program pengembangan sekolah MANTAP (Manajemen Transparan Akuntabel Partisipatif) yang diinisiasi oleh YSKK,” pungkas Suroto. (Dewira/R)

Loading...