Beranda Teras Berita Pemerintah Diminta Menghargai Karya Sastra

Pemerintah Diminta Menghargai Karya Sastra

188
BERBAGI

Mas Alina Arifin/Teraslampung.com

Isbedy Stiawan ZS

Bandarlampung—Pemerintah Provinsi Lampung diminta dapat menghargai karya sastra, karean di dalamnya banyak mengandung hikmah dan sejarah.

Hal itu dikatakan sastrawan Lampung Isbedy Stiawan ZS saat menutup pembacaan Syair Lampung Karam karya Muhammad Saleh di penggung terbuka Pasar Seni Enggal, Selasa (26/8) malam.

Dikatakan Isbedy, literer berusia 131 tahun ini tidak saja mengandung hikmah namun memiliki nilai-nilai sejarah di balik bencana meletusnya Gunung Krakatau pada 1883 (1300 H) silam yang nyaris menenggelamkan Lampung dan sebagian Banten.

Syair Lampung Karam karya pribumi Muhammad Saleh ini, dituturkan Isbedy, layaknya diary dari pengarang. Walaupun semacam catatan harian, karya yang pertama kali ditulis di Singapura dalam bahasa Arab-Melayu 3 bulan setelah bencana Krakatau, tetap mengedepankan estetika bahasa dan diksi yang terjaga.

“Karena itu saya menilai, karya ini lebih kuat sastranya ketimbang catatan hariannya,” tegas Isbedy.

Menurut dia, Muhammad Saleh sangat jeli memandang, merasakan, mencecap apa yang terjadi saat-saat bencana Krakatau dengan tsunaminya. “Pengarang juga memotret secara detil perilaku manusia kala itu.”

Syair Lampung Karam mencuat setelah ditemukan oleh dosen asal Indonesia Suryadi Sunuri di perpustaan Universitas Leiden sekira 2005.

“Bayangkan buku ini tersimpan di Belanda lebih 1 abad lamanya. Untunglah pengajar di universita itu yang kebetulan dari Indonesia menemukannya. Karena itu kita perlu bersyukur buku ini yang merupakan kekayaan dari dunia sastra di Lampung khususnya dan Indonesia umumnya, dapat dikembalikan ke Tanah Air,” kata Isbedy lagi.

Untuk itu, dia menegaskan, Pemerintah Provinsi Lampung semestinya dapat menghargai karya sastra ini. Banyak pelajaran bisa kita petik dari karya Muhammad Saleh yang berisi lebih dari seratusan bait (kuplet).

Dalam Syair Lampung Karam ini, masih kata Isbedy, disebut beberapa nama tempat yang jika ditilik melalui kacamata pariwisata sangat berharga. Pasalnya, beberapa tempat yang disebut pengarang dalam karyanya itu, saat ini nyaris terlupakan baik dari segi pembangunan atau lainnya.

Isbedy menyebut, misalnya Limau, Kuala, Lempasing, Talang, sekitaran Gunung Rajabasa, Sebesi, Kitambang, ataupun Gunung Sari. “Nama-nama daerah atau kampung itu ada disebut pengarang dalam syairnya,” jelasnya.

Perhatian pemda untuk mengahargai karya sastra yang amat bernilai ini, lanjut dia, misalnya memasukkan karya sastra ini ke dalam pengajaran muatan lokal atau menjadi semacam buku panduan sektor pariwisata, sosial dan budaya.

“Syair Lampung Karam ini, menurut saya bisa dikaji dari sisi sosial dan budaya. Misalnya, soal perilaku atau sikap sosial ‘manusia Lampung’ di kala Krakatau meletus.”

Sikap sosial misalnya, lanjut dia, digambarkan bagaimana pengungsi akibat bencana Krakatau yang harus naik rumah turun rumah karena pemilik rumah merasa keberatan ditumpangi.

Atau, pengungsi yang dipinjami piring retak sehingga kuah sayur tumpah ke meja. Begitu pula digambarkan oleh pengarang, pengungsi yang mesti tidur di karang, di bawah rumah panggung, tidur menyilang di balik meja alias berimpitan.

“Sikap ataupun perilaku manusia kala itu digambarkan amat detil, layaknya filmis.”
Menyinggung pembacaan Syair Lampung Karam pada malam kedua, Isbedy menilai, sudah lebih baik b malam pertama yang juga terbilang sukses.

Diro Aritonang

Meski hujan turun, antusias penonton tak reda. Padahal, panggung terbuka Pasar Seni ini arsitektur bangunanya salah, sehingga jika hujan di bangku penonton dipastikan terkena air. “Tapi, saya bersyukur penonton tak beranjak dari tempat duduknya,” kata koordinator pelaksana kegiatan dari agenda Festival Krakatau XXIV, 19-31 Agustus 2014.

Isbedy juga berterima kasih kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung yang mau mengagendakan Syair Lampung Karam ke dalam even FK XXIV. “Ini bagian dari kesadaran pemerintah, betapa pentingnya sastra.”

Seementara itu, lima sastrawan dan pembaca puisi yang tampil pada malam kedua, semalam (26/8), adalah Diro Aritonang, Fitri Yani, Arya Winanda, Isbedy Stiawan ZS, dan Hari Jayaningrat.

Penampilan Ketua Harian Dewan Kesenian Lampung yang juga koreografer, Hari Jayaningrat, berkolaborasi dengan Helmi, penata tari Lampung. Helmi yang mengenakan kain warna merah melilit tubuhnya meliuk-liuk layaknya gelombang besar (tsunami) yang menebarkan api.

Sedangkan penyair Isbedy yang tampil di urutan kedua menggandeng teaterwan Arif, asal Jakarta yang kini bermukim di Pasar Seni. Perpaduan dua bidang seni ini sangat menarik dan menjadi tontonan segar. Apalagi diperkuat iringan musik dari Komunitas Seribu Bulan dengan personel yakni Ipung Purwono, Ponco Pujiraharjo, Endri White, Ricky, dan Sapril Yamin Rajo Cetik.

Loading...