Pemilihan Nakhoda PWI Lampung

  • Bagikan
Tiga calon Ketua PWI Lampung (dari kiri ke kanan): Wirahadikusumah, Juniardi, Nizwar Ghazali. Foto: Kiay Eka/Facebook
Tiga calon Ketua PWI Lampung (dari kiri ke kanan): Wirahadikusumah, Juniardi, Nizwar Ghazali. Foto: Kiay Eka/Facebook

Oleh: Feaby Handana

Sebentar lagi, PWI Lampung akan menggelar Konferensi PWI Lampung. Pesta demokrasi lima tahunan ini untuk memilih nakhoda untuk lima tahun ke depan. Rencananya, pemilihan yang dikemas dalam sebuah konferensi itu akan dilakukan pada Desember 2021 mendatang.

Siapa pun yang ke luar sebagai pemenang dalam pemilihan tersebut dipastikan merupakan sosok baru. Sebab, Supriyadi Alfian tidak bisa lagi mencalonkan diri karena sudah dua kali berturut – turut menjadi Ketua PWI Lampung.

Seperti pemilihan – pemilihan sebelumnya, perebutan posisi nakhoda baru di PWI Lampung kali ini masih tetap menyedot perhatian banyak pihak. Tak hanya internal PWI, pihak di luar PWI pun akan mulai memalingkan perhatian mereka pada konferensi tersebut.

‎Tanpa mengurangi rasa hormat dengan organisasi sejenis lainnya, PWI sebagai organisasi wartawan tertua di Indonesia masih memiliki daya tariknya sendiri. Daya tarik yang terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja khususnya bagi internal PWI. Apalagi, setiap calon sama – sama memilik peluang besar karena tidak ada calon Incumbent ‎.

Alasan ini jugalah yang mungkin melatarbelakangi majunya tiga dedengkot PWI Lampung dalam perebutan posisi itu. Ketiga dedengkot PWI Lampung yang akan mencoba peruntungan mereka itu, yakni Nizwar Ghazali (Sekretaris PWI periode 2016 – 2021), Juniardi (Wakil Ketua Bidang Pembelaan Wartawan periode 2016 – 2021), dan Wirahadikusuma (Wakil Ketua Bidang Pendidikan periode 2016 – 2021).‎

Ketiga nama tersebut merupakan sosok yang cukup populer di tubuh PWI. Jam terbang ketiganya dalam urusan jurnalistik sudah tidak diragukan lagi. Tingginya jam terbang yang mereka miliki membuat mereka memiliki kelebihan dan kekurangannya masing – masing.

Sejak mendeklarasikan diri untuk maju, para wartawan senior ini sering bergerilya ke daerah – daerah. Tujuannya seperti tak usah dijelaskan lagi. Toh, kita semua sudah dapat menebak arahnya ke mana. Dalam kunjungan – kunjungan yang disertai dengan pemaparan visi dan misi itu diketahui jika persoalan jelang pemilihan masih juga berkutat di persoalan lama.

Perpanjangan kartu tanda anggota yang terlalu lamban. Sampai saat ini banyak anggota yang belum menerima KTA yang baru. Padahal, KTA itu sangat diperlukan dalam proses pemilihan mendatang. Selain itu, diketahui juga bahwa pemilihan mendatang tak menutup kemungkinan akan menggunakan sistem mandat. Sebuah sistem yang memang diperbolehkan dalam ‎Peraturan Rumah Tangga PWI, namun rentan dengan persoalan jika tidak diawasi dengan ‎ketat.

Kembali ke soal visi dan ‎misi para calon, secara garis besar, visi dan misi yang disampaikan kebanyakan difokuskan pada peningkatan kualitas anggota dan organisasi di masa mendatang. Padahal, dengan label sebagai organisasi tertua sudah selayaknya PWI mulai memikirkan bagaimana caranya untuk lebih meningkatkan kualitas atau kemampuan profesi para wartawan dan marwah  para kuli tinta di luar mereka.‎ Persoalan inilah yang lebih layak untuk dikedepankan di tengah meningkatnya pertumbuhan media massa khususnya media daring,

Peningkatan kualitas wartawan merupakan sebuah kewajiban yang harus segera dilakukan. Tingginya angka pertumbuhan media daring harus menjadi perhatian semua organisasi wartawan tak terkecuali PWI. Harus ada standar atau kualifikasi berikut sanksi yang jelas dan tegas untuk calon wartawan di masa mendatang. Tujuannya supaya produk jurnalistik yang dihasilkan nantinya dapat sesuai standar yang ada supaya tidak terbentur dengan persoalan hukum.

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Salah satunya, PWI dapat menggandeng seluruh organisasi wartawan yang tentunya memiliki pemahaman yang sama untuk mendorong Dewan Pers atau pemerintah menetapkan standar atau kualifikasi yang harus dimiliki atau dilalui oleh seorang calon wartawan.

‎Kualifikasi itu di antaranya meliputi kualifikasi pendidikan minimal, atau bisa juga dengan wajib mengikuti pendidikan jurnalistik selama beberapa waktu. Jika tidak memenuhi kualifikasi yang diharuskan, yang bersangkutan tidak layak bekerja sebagai wartawan.

Dengan demikian, istilah oknum wartawan CNN (cuma nanya – nanya) atau oknum wartawan muntaber (muncul tanpa berita), atau oknum wartawan bod‎rek akan jarang terdengar di masa mendatang. Diakui atau tidak diakui, akibat ulah oknum – oknum inilah citra buruk selalu terlintas di benak publik saat mendengar kata wartawan.

Pentingnya persoalan ini hendaknya dijadikan prioritas utama bagi siapa pun Ketua PWI Lampung yang terpilih dalam konferensi mendatang. Memang tak mudah untuk mencapai tujuan itu. Paling tidak PWI Lampung sudah berusaha untuk mengembalikan marwah wartawan sehingga menjadikan profesi wartawan sebagai pilihan dan bukannya pekerjaan sampingan.**

* Jurnalis Teraslampung.com, anggota PWI Lampung Utara

 

  • Bagikan