Pemilos, Demokrasi ala MTs Nurul Falah Gunung Tiga

  • Bagikan

Syailendra Arif/Teraslampung.com

Siswa memasukkan surat suara dalam Pemilos

TANGGAMUS—MTs Nurul Falah Gunung Tiga, Pugung, Tanggamus berhasil melaksanakan pesta demokrasi ala sekolah. Dalam pemilihan ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) 2014–2015,yang digelar Sabtu(25/1) itu kandidat nomor urut 1 Arpan Dinata (kelas 8A) dan Ulva Mayang Sari (kelas 8B) unggul atas para pesaingnya dengan meraih 116 suara dari 266 suara diperebutkan.

Kandidat lain yang ikut dalam Pemilihan Ketua OSIS atau Pemilos adalah Saadah (8A) dan Saniah (8A) meraih 40 suara, lalu Eka Septilawati (8A) berpasangan dengan Wiwin Sundari (8C) meraih 36 suara. Sementara pasangan Alfina Fauziah (8A)–Aina Destiana (8A) meraih 72 suara, dengan suara tidak sah 2 suara.

“Kami ingin membuat sekolah tercinta ini menjadi lebih maju, lebih baik dan kreatif serta generasinya lebih berbakat,” ujar Arpan, didampingi Ulva, usai terpilih,

Pemilos di MTs Nurul Falah benar-benar menjadi praktik berdemokrasi secara sederhana.Selain siswa, para  guru dan tokoh masyarakat sekitar sekolah itu juga diundang untuk meliht jalannya demokrasi.

Sebelum pemungutan suara, para kandidat menyampaikan visi dan misinya.Visi misi Arpan dan Ulva adalah mewujudkan siswa-siswi yang religius agar tercapai suasana islami di MTs Nurul Falah dan mendorong lebih banyak kegiatan yang mempererat hubungan antarsiswa, serta memberikan motivasi kepada seluruh pengurus agar siap sedia membantu proses belajar di MTs Nurul Falah.

“Kami juga siap membangun Ukuwah Islamiyah dengan menjaga adat istiadat dan nama baik almamater agar tercapai visi dan misi Nurul Falah,” kata Arpan.

Pembina OSIS MTs Nurul Falah, Revi Ricardo, mengatakan dengan Pemilos 2014 para siswa belajar berdemokrasi dengan baik. “Mereka memberikan hak suara ke calon yang dinilai memiliki visi dan misi bagus yang disampaikan melalui pidato kampanye,” kata Revi.

Menurut  Revi, demokrasi harus terus dikembangkan di sekolah agar kelak para siswa mengembangkan bisa demokrasi  secara sehat.

Sementara Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan, Hijrah Syah Putra, mengatakan Pemilos di sekolahnya akan dijadikan sarana belajar belajar demokrasi di sekolah.

“Kami sengaja mengemasnya seperti Pemilu. Pemilos di sekolah kami bisa dikatakan sebagai  Pemilu dalam lingkup kecil. Azas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil benar-benar diterapkan,” kata dia.

Sebelum pemilos, diadakan pemilihan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) MPK ini yang mengadakan pemilos, pemungutan dan penghitungan suara dilakukan persis seperti pemilu. Dalam Pemilos itu ada bilik suara, kotak suara, dan papan penghitungan suara.

Kepala Kepala MTs Nurul Falah WD. Fatchurrochman Syam, M. Pd.I merupakan pembelajaran demokrasi pertama di sekolah agar siswa bisa belajar tentang arti demokrasi, dan memperkenalkan proses pelaksanaan Pemilu.

Sekolah yang berdiri di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Pondok  Pesantrean Nurul Falah itu berdiri sejak tahun 1960. Yayasan tersebut memiliki lembaga untuk jenjang tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan SMK dikelola dengan sistem kebersamaan dan kekeluargaan.

Ketua Yayasan Ustad H. Junaedi AR mengatakan sistem kebersamaan dalam mengelola sekolah sudah dijalankan sejak sekolah berdiri.

“Sebab pendidikan memang menjadi tanggung jawab bersama, yaitu keluarga, masyarakat, dan pemerintah,” kata dia.

Untuk MI dan MTs biaya gratis murni yayasan tersebut menggratiskan biaya pendidikan sejak 2005, bahkan untuk SMK pada Tahun Pertama berdiri 2009 gratis penuh.

  • Bagikan