Beranda Teras Berita Pemilu 2014: Mantan Jurnalis RCTI Jadi Korban Pencurian Suara Sesama Caleg Partai...

Pemilu 2014: Mantan Jurnalis RCTI Jadi Korban Pencurian Suara Sesama Caleg Partai Gerindra

207
BERBAGI

Bandarlampung, Teraslampung.com–Conie Sema, caleg DPRD Provinsi Lampung dari Partai Gerindra tidak bisa menahan rasa geramnya saat dia mengetahui perolehannya suaranya di sejumlah kecamatan di Lampung Timur lenyap.

Yang membuat Connie tambah geram, lenyapnya suara itu bukan dicuri caleg dari partai lain, tetapi berpindah ke caleg yang masih satu partai dengannya.

Dua nama yang berada di nomor urut di atasnya yakni nomor urut 1 ( Eddi Hamim) dan nomor urut 2 (Ria Asmawati) diduga kuat yang mengambil perolehan suara Conie di Lampung Timur.

Conie mengaku, sebagai caleg eksternal (bukan pengurus Gerindra) dirinya sangat sulit untuk ‘menembus barikade’ informasi  perolehan suara di internal partainya. Ia menemukan pencurian perolehan suaranya dari caleg partai lain.

“Saya yakin mereka tidak kerja sendiri, tetapi melibatkan banyak pihak, termasuk penyelenggara Pemilu,” kata mantan jurnalis RCTI dan salah satu aktivis Jaringan Jurnalis Pemantau Pemilu 1999 itu.

Semalam  (Selasa (22/4) Conie melaporkan pencurian suara itu kepada Bawaslu Lampung sambil menyodorkan bukti. Namun, Conie tidak terlalu yakin suaranya akan bisa kembali.

Menurut dia, perubahan suara itu terjadi di lima kecamatan. Perubahan suara diduga melibatkan anggota KPU Lampung Timur dengan bekerjasama dengan caleg Gerindra nomer urut satu Eddi Hamim dan nomor urut dua Ria Asmawanti.

Conie menunjukkan contoh perolehan suaranya di Kecamatan Marga Sekampung.Di kecamatan itu ia memperoleh 1.308, tetapi ketika sampai di KPU Lampung Timur tinggal 600 suara. Total suara Conie di lima kecamatan yang dicuri setidaknya ada 1.600 suara lebih.

“Makanya, saya akan menuntut keadilan dengan hitung ulang. Saya pun akan melaporkan ke DPP Gerindra,” kata dia.

Data yang dimiliki Conie menunjukkan: di Marga Sekampung caleg Gerindra nomor urut 1 mendapatkan 237 suara, ketika sampai PPK (form DA-1) menjadi 407. Caleg nomor urut 2 mendapatkan suara 89 kemudian  berubah menjadi 129. Sementara caleg nomor 8 (Conie Sema) yang  1.308 suara suaranya berkurang menjadi hanya  620.

Di Labuhan Maringgai, caleg Gerindra nomor urut mendapatkan  86 suara berubah menjadi 560. Sementara nomor urut 8 yang memperoleh  486 berkurang menjadi 447.

Di Kecamatan Pasir Sakti berdasarkan formulir C1, caleg Gerindra nomor urut 1 mendapatkan  375 suara, tetapi di PPK dan KPU Lampung Timur naik menjadi 422 suara.

Di Kecamatan Labuhan Ratu, berdasarkan formulir (C-1) nomor urut 1 mendapatkan 338. Kemudian disukap menjadi 438.

Menurut Conie pencurian suara hasil pemilu kali ini terjadi secara terstruktur dan terorganisir. Yang terlibat antara lain oknum komisioner, PPK dan PPS sampai ke TPS.

“Dan tentunya para pencuri suara itu menggandeng mitra kejahatan mereka oknum Panwas, Panwascam, saksi partai dan pejabat elit partai. Kalau pun ada temuan cuma sebatas ‘pembetulan’, itu bahasa mereka dan Bawaslu,” kata dia.

Conie berharap Bawaslu bisa bersikap tegas dengan menyeret para pencuri suara ke jalur hukum. “Kalau para pencuri suara dibiarkan dan mereka lolos menjadi anggota Dewan, entah mau jadi apa parlemen kita nanti jika isinya dipenuhi para maling dan tukang garong,” ujarnya.

Loading...