Beranda Views Sepak Pojok Pemimpin Miskin, Pemimpin Kaya

Pemimpin Miskin, Pemimpin Kaya

4343
BERBAGI
Ilustrasi/Supriyanto

Oyos Saroso H.N.

Karena memiliki pemimpin miskin, kawan saya yang lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan bercita-cita menjadi guru SD akhirnya depresi berat. Ia selalu gagal menjadi PNS karena tidak mampu menyediakan upeti. Padahal, ia sudah puluhan tahun mengabdi menjadi guru SD negeri. Ya, mengabdi benar-benar mengabdi: mengajar dan mendidik murid-murid dengan penuh tanggung jawab sesuai dengan ilmu kependidikan yang pernah diperolehnya di bangku sekolah.

Karena pemimpinnya miskin, warga beberapa kampung di Lampung harus berjibaku melintasi jalan rusak selama bertahun-tahun. Desa tak pernah mendapat sentuhan pembangunan meskipun dana desa dari pusat menggelontor begitu deras. Pemimpin miskin pula yang menjadi musabab orang miskin tidak menerima bantuan dana Program Keluarga Harapan (PKH).

Karena punya pemimpin miskin, ribuan guru di sebuah pojok wilayah di Indonesia merasa diteror istri, adik ipar, dan keluarga kepala daerah. Para guru stres karena harus mengikuti kemauan keluarga kepala daerah baik terkait uang setoran maupun permintaan bantuan yang bukan menjadi tugasnya.

Karena pemimpin miskin, tablig akbar yang dihadiri ribuan orang dan mendatangkan dai bertarif puluhan hingga ratusan juta digelar hampir tiap bulan di sebuah pojok Indonesia. Sang pemimpin menebar senyum manis di atas panggung. Wajahnya seolah tanpa dosa. Namun, tak lama kemudian baru ketahuan ia terlibat korupsi: menerima banyak uang setoran proyek, rajin berbagi uang pengamanan dalam jumlah besar, dan membayar sangat murah orang-orang yang membantunya.

Karena pemimpin miskin, banjir selalu datang setiap musim hujan. Pemimpin miskin itu akan datang, mungkin berkeliling tiap hari di kampung-kampung yang kebanjiran. Sesekali ia tersenyum kecut atau pura-pura senyum manis untuk mengobati kesedihan warga. Dikiranya kesusahan warga bisa diobat dengan senyum.

Karena pemimpin miskin, rakyat merana melata dan termehek-mehek ditindas pungutan paksaan berkedok baik budi bin amal jariyah (baca: BPJS). Rakyat makin termehek-mehek karena dilibas kebijakan kenaikan harga aneka kebutuhan pokok. Rakyat makin miskin dan makin ombyokan jumlahnya, tapi disodori data kemiskinan berkurang banyak. Data disodorkan untuk membuat pemimpin bahagia karena dikira berhasil. Padahal tidak.

Setiap musim pilpres, pemilu, dan pilkada tiba sejatinya yang dibutuhkan rakyat bukanlah pemimpin miskin. Rakyat butuh pemimpin kaya. Ialah pemimpin yang satu ucapan dengan tindakan. Pemimpin yang bisa mendengar detak nadi rakyat seperti mendengar detak nadi dan kata hatinya sendiri…

Loading...