Beranda Views Kisah Lain Pemuda Penyandang Disabilitas Asal Tulangbawang Ini Ingin Jadi Arsitek

Pemuda Penyandang Disabilitas Asal Tulangbawang Ini Ingin Jadi Arsitek

6336
BERBAGI
Aziz Hermawan (21), seorang pemuda yatim penyandang distabilitas paraplegi atau kelumpuhan asal Kampung Sukarame RT 07/RW 03, Kecamatan Meraksa Aji, Tulangbawang

Zainal Asikin|Teraslampung.com

TULANGBAWANG — Aziz Hermawan (21), seorang pemuda yatim penyandang disabilitas paraplegi (kelumpuhan) asal Kampung Sukarame RT 07/RW 03, Kecamatan Meraksa Aji, Tulangbawang (Tuba), Lampung memiliki cita-cita mulia: menjadi seorang arsitek yang profesional dan ingin membangun panti sosial untuk para penyandang distabilitas yang tidak mengenyam bangku sekolah dan juga tunawisma.

Cita-cita mulia Aziz  itu diungkapkannya akun Facebook miliknya. Di  Facebook miliknya, anak sulung dari dua bersaudara anak dari pasangan M. Usman (Alm) dan Karmiyati (40) ini menunjukkan beberapa karya desain yang dibuat dengan goresan tangannya.

Karya Azis lumayan bagus, layaknya karya desain hasil goresan arsitek profesional dengan membuat desain-desain bangunan mulai dari rumah, gedung bertingkat, apartemen, perkantoran, hingga aneka miniatur.

Di akun Facebook miliknya Aziz menulis:

Tolong bantu saya share foto saya supaya ada yang bisa mengapresiasikan bakat saya.

Saya merupakan Distabilitas paraplegi/kelumpuhan. Saya bernama Aziz Hermawan, Alamat: Sukarame, kecamatan meraksa aji, kabupaten Tulang bawang, Lampung.

Saya mempunyai cita-cita menjadi arsitek.

#distabilitas_menggapai_mimpi

Tulisan di akun Facebook tersebut mengundang banyak komentar dari warganet. Rata-rata memberikan apresiasi positif dan dukungan moral untuk Aziz.

Aziz menderita kelumpuhan total sejak duduk di bangku Madrasah Aliyah (MA) Mathla’ul Anwar, Meraksa Aji, Tulangbawang. Meski penyandang distabilitas dan menjadi yatim, Aziz memiliki cita-cita tinggi dan ingin meraih impiannya tersebut menjadi seorang arsitek profesional, andal,  dan terkenal.

Aziz berharap bisa menginspirasi semua penyandang distabilitas agar tidak mudah menyerah dengan keadaan, meski dirinya sendiri belum menapaki ke puncak kesuksesan sebagai arsitek.

Kepada  teraslampung.com, Aziz mengaku ia menjadi penyandang distabilitas sejak duduk di bangku kelas 4 sekolah Dasar Negeri (SDN). Kakinya lumpuh total  saat ia duduk dibangku sekolah kelas dua Madrasah Aliyah (setingkat SMA).

Sejak saat itulah, kata Aziz, hari-harinya berangkat dan pulang sekolah menggunakan kursi roda yang dibeli dari hasil jerih payah ibunya meski hanya sebagai tukang jahit biasa.Meski hidupnya pas-pasan dan mengalami kelumpuhan, Aziz bisa menamatkan sekolahnya di Madrasah Aliyah (MA) Mathla’ul Anwar, Meraksa Aji, Tulangbawang 2017 lalu.

“Saya bercita-cita menjadi seorang arsitek profesional, handal dan juga bermanfaat untuk semua orang. Harapannya, agar pemerintah bisa membantu kekurangan saya sebagai penyandang distabilitas agar kiranya mendapatkan akses sesuai dengan keahlian saya,” kata  Aziz melalui ponselnya, Selasa 22 Januari 2019 malam.

Meskipun lumpuh, Azi bersikeras ingin sekali meraih mimpinya yang mulia itu: menjadi seorang arsitek dan mengenyam pendidikan lebih tinggi lagi.

Aziz kini menghabiskan hari-harinya dengan terus berkarya dengan membuat desain bangunan mulai dari rumah, gedung bertingkat apartemen dan perkantoran.

Meskipun dikerjakan dengan cara manual menggunakan alat seadanya seperti pensil, pena dan kertas, namun hasil karya tangan Aziz tidak diragukan lagi. Bahkan Aziz juga mahir membuat aneka miniatur dari bahan bambu dan kardus bekas.

“Kalau impian saya menjadi arskitek ini tercapai, saya juga memiliki cita-cita ingin sekali membangun sebuah panti sosial untuk memberdayakan penyandang disabilitas yang tidak mengenyam bangku sekolah agar mereka juga bisa berkarya dan juga bagi para tunawisma,”jelasnya.

Dikatakannya, ia menjadi yatim saat awal ia masuk sekolah tingkat SMA, ayahnya meninggal dunia saat bekerja menjadi TKI di Negara Jiran Malaysia Tahun 2014 silam karena mengalami kecelakaan kerja di sebuah proyek. Saat ini ia tinggal bersama ibu dan adik perempuannya yang masih duduk di bangku sekolah kelas 2 SD.

“Ayah meninggal dunia, saat saya masuk SMA dan adik saya masih berusia 1,5 bulan. Tapi jenazah ayah dimakamkan di daerah Batam di tempat kerabatnya. Saat ayah meninggal saya dan ibu tidak bisa melihat ke sana (Batam), karena tidak punya biaya jadi ya hanya dapat kabar saja,”ungkapnya.

Aziz mengatakan, ibunya bekerja sebagai tukang jahit. Orderan jahitan tergantung pada pesananan jahitan dari para tetangga. Jika tidak ada order menjahit, ibunya bekerja jadi buruh di kebun sawit.

“Saya juga ingin membahagiaan ibu dan adik meskipun saya lumpuh,” katanya.

Loading...