Penatalaksanaan Tuhan Mengatur Alam

  • Bagikan
Pro. Dr. Sudjarwo/Foto: Istimewa

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Tuhan menciptakan alam semesta ini berikut sistem yang melekat pada ciptaaNYA; baik pengaturan keberadaan sampai kemusnahan; dalam satu rangkain proses yang unik dan rumit. Belum lagi bila kita bicara struktur dan fungsi; tentu menjadi semakin rumit dan canggih; karena terkadang nalar manusia terbatas untuk memahami hakekat yang terkandung dalam ciptaan tadi.

Pada kitab kitab kuno yang ditulis oleh para winasis pada jamannya; ada salah satu kitab yang menulis bagaimana keesaan ditabalkan pada ciptaan berupa tumbuh tumbuhan; dijelaskan bahwa; ada empat permodelan bagaimana keMaha Esaan Sang Pencipta meminta kita berfikir untuk menemukenali bukan secara fisik saja tetapi juga secara hakiki.

Model pertama wite dhakah wohe dhikih. Terjemahan bebasnya pohonnya besar tetapi buahnya kecil. Tumbuhan model ini diwakili oleh pohon beringin dan sejenisnya. Pohonnya selalu besar, tetapi buahnya kecil. Salah seorang dai sejuta umat pada zamannya bagaimana jika pohon beringin jika Buahnya sebesar labu; mungkin orang yang berteduh di bawahnya akan takut.

Model kedua wite dhikih wohe dhakah (pohonnya kecil tetapi buahnya besar). Kebalikan dari yang pertama; tumbuhan model ini diwakili oleh buah labu dan sejenisnya, termasuk semangka. Pohonnya kecil tetapi buahnya besar besar. Ini menunjukkan bagaimana sesuatu itu mungkin bisa terjadi. Tidak selamanya sesuatu yang kecil dan lemah, tidak mampu menghasilkan sesuatu yang besar.

Model ketiga wite dhikih wohe dhikih  (pohonnya kecil buahnya juga kecil). Tumbuhan ini diwakili diantaranya pohon cabai atau sejenisnya. Pohon dan buah selaras karena sama sama kecil. Model keempat wite dhakah wohe dhakah  (pohonnya besar buahnya juga besar). Tumbuhan ini diwakili oleh Pohon durian dan sejenisnya; buah dan pohonnya sama sama besar.

Apa yang dapat kita ambil tamsil di atas; yaitu bahwa masing masing ciptaan yang diciptakan itu memiliki peran dan fungsi. Bagaimana keserasian dibangun begitu indahnya; dan keserasian ini memiliki tatanan dan pakem yang sudah ditetapkan. Manusia diharapkan mampu memahami hakekat dari pasangan tadi dalam makna substantif, di semua lini kehidupan. Kekuasaan yang dibangun atas dasar pasangan tadi menunjukkan bahwa manusia jika diberi sedikit kekuasaan oleh Sang Maha Kuasa; maka harus mampu memerankan kapan sebagai Dikih dan kapan sebagai dhakah.

Kondisi ini sangat tampak pada saat masa pandemi seperti sekarang ini. Bagaimana yang diberi amanah kekuasaan untuk dapat menggunakan kekuasaannya tadi guna membantu yang kecil. Jadi kalau dia pada posisi Dakah sudah seharusnya membantu yang Dikih. Dengan kata lain jika warga masih banyak yang belum tervaksinasi, itu seharusnya tugas diambil alih oleh pimpinan tertinggi di daerah itu sebagai bentuk Dakah yang bertanggung jawab. Bukan mencari kambing hitam dengan menunjuk kiri kanan, atas bawah; apalagi disertai tampilan emosi, dengan melempiaskan kepada Dikih yang tidak bisa di atur atau bentuk bentuk lain dari merendahkan.

Semua peluang dapat dipelajari jika mengambil sinonim pasangan tadi; ada orang atau kelompok yang paham akan bahaya covid, tetapi takut di vaksin. Ada yang tidak paham bahaya covid, tetapi tidak takut divaksin. Ada juga yang tidak paham covid, dan takut divaksin. Terakhir paham bahaya covid dan mau divaksin.

Kelompok terakhir inilah yang harus kita perbesar jumlahnya dengan cara apapun, dengan cara mengedukasi tiga kelompok lainnya melalui cara cara yang manusiawi; sehingga masyarakat kita segera secara cepat melipat ganda jumlah yang telah divaksin. Upaya seperti menggandeng Fakultas Kedokteran untuk melibatkan mahasiswanya yang semester tertentu dan sudah terlebih dahulu mendapat pengarahan dan perlindungan kesehatan agar tidak terpapar saat melaksanakan tugas.

Adalah salah satu bentuk kerjanyata yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Daerah guna mengedukasi masyarakat pentingnya Vaksinasi. Atau juga Perguruan Tinggi yang memiliki Program Kesehatan Masyarakat; akan lebih mengena lagi jika dilibatkan. Tidak kalah pentingnya melibatkan Lembaga Swadaya Masyarakat yang ada untuk dimintai bantuan menjadi relawan program ini. Jangan hanya saat menghias Jalan Layang memanggil mereka, tetapi saat seperti ini siapapun diminta keterpanggilannya menjadi relawan dalam bentuk apapun.

Kalau pemerintah mau sedikit jeli menyimak grup-grup di media sosial; banyak anggotanya secara swadaya untuk berswakarsa menghimpun diri membantu sesama yang terkena dampak pandemi; dari mendonasikan darah, berhimpun meminjamkan alat kesehatan, sampai menyiapkan sedikit bantaun makanan untuk yang sedang isoman. Janganlah menjadi alergi akan hal serupa ini untuk dirangkul dan diajak bersama sama guna meringankan penderitaan sesama.

Pandemi seperti ini tidak dapat kita selesaikan dengan secara struktural saja; akan tetapi juga harus fungsional. Oleh karena itu mengandalkan kekuatan struktur yang ada tanpa memperhatikan fungsi dan peran dari elemen masyarakat, akan menghasilkan keterlambatan yang massif. Tidak salah jika prediksi beberapa ahli bahwa negara yang keluar paling akhir dari persoalan pandemi adalah kita.. Mari sebelum terlambat kita bahu membahu untuk menghadapi persoalan bangsa ini secara bersama dengan menanggalkan dahulu perbedaan apapun latarbelakangnya. Janganlah kita hanya memperhatikan yang dua miliar saja; tetapi dua senpun jika kita himpun hasilnya juga akan dahsyat.

Kita tidak tahu apa rencana Tuhan diturunkannya Corona saat ini; namun paling tidak menyadarkan kita bahwa semua kita bersaudara, semua kita harus kembali kepada entitas kita sebagai manusia ciptaanNYA; dan harus patuh kepada penatalaksanaanNYA. Meminjam adagium Gus Mus Tuhan selalu ada bersama kita, hanya selama ini kita yang lalai dan abai.

Semoga Tuhan memaafkan kesalahan dan kehilafan kita, apa lagi jika itu akan menghambat dikabulkannya doa doa kita.***

  • Bagikan