Beranda News Liputan Khusus Pencemaran TPA Bakung, Kisah Lama yang (akan) Selalu Terulang

Pencemaran TPA Bakung, Kisah Lama yang (akan) Selalu Terulang

782
BERBAGI
IPLT TPA Bakung atau kolam raksasa berukuran raksasa dalam kondisi terbuka yang siap menampung kotoran manusia. Meskipun disebut IPLT di sini tidak ada pengolahan sehingga aroma tak sedam meruap ke wilayah sekitar. Gambar diambil pada Jumat sore, 31 Agustus 2018, sesudah turun hujan. (Foto: Mas Alina Arifin/Teraslampung.com)

TERASLAMPUNG.COM — Jumat, 31 Agustus 2018. Pukul 16.15 WIB. Hujan di sebagian besar wilayah Kota Bandarlampung baru sekitar tiga jam lalu reda. Matahari redup. Mendung masih menggantung langit, di atas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Bakung, Kecamatan Telukbetung Barat, Bandarlampung.

Sore itu bangunan kantor TPA Bakung sudah sepi. Pintu kantor sudah dikunci karena para pegawai sudah pulang. Namun, masih ada aktivitas truk-truk pembawa sampah keluar-masuk areal TPA,melintasi jalan berlumpur yang meruapkan bau busuk.

Meskipun kawasan TPA becek-berlumpur, hari sudah senja, dan langit makin gelap, tetapi belasan pemulung masih terlihat di dekat tumpukan sampah. Mereka mengais-ngais barang yang mereka anggap berharga di antara tumpukan sampah yang baru saja dibuang truk ke dalam tebing atau jurang di kedalam belasan meter.

Pada hari-hari biasa, jumlah pemulung yang mengais rezeki dari sampah di TPA Bakung ada sekitar 250-an orang. Hasilnya langsung mereka jual kepada pada agen yang mendirikan beberapa lapak di dalam TPA Bakung.

Di antara pria dan perempuan dewasa yang sore itu mengais sampah, ada juga anak-anak yang ikut mengais rongsokan di antara sampah berbau tak sedap itu.

Bagi para sopir truk dan para pemulung, bau busuk sampah dan tinja di TPA Bakung bukanlah halangan bagi mereka untuk bekerja, Namun, tidak begitu halnya bagi warga di sekitar TPA Bakung.

Ketika  hujan reda–apalagi sore hari–adalah saat bau busuk yang menusuk hidung meruap ke mana-mana. Bau tak sedap itu bukan hanya berasal dari gunungan sampah yang membentang di punggung bukit hingga ke lembah di areal TPA Bakung. Bau busuk itu juga disebabkan oleh kolam raksasa tempat pembuangan tinja “produksi” warga Kota Bandarlampung.

Dibawa angin kencang maupun angin sepoi-sepoi, bau tidak sedap yang berasal dari kolam tinja dan onggokan sampah TPA Bakung itu pun meruap ke areal perkampungan sekitar.

“Kami selalu mendapatkan kiriman limbah kotoran manusia dari TPA Bakung setiap hujan turun. Kalau hujan kan kolam tinja di TPA Bakung meluber. TPA Bakung posisinya di atas, sementara rumah kami di bawah.Jadinya luberannya sampai ke rumah kami,” kata Sarpuah, warga yang rumahnya hanya sekitar 200-an meter dari TPA Bakung.

Para pemulung mengais sampah di TPA Bakung, Jumat sore (31/8/2018)
Para pemulung mengais sampah di TPA Bakung, Jumat sore (31/8/2018)

Sarpuah mengaku bau kotoran manusia tidak hanya meruap pada saat sehabis turun hujan.  Menurutnyal, ketika matahari terik pun bau kotoran manusia yang bersumber dari kolam pembuangan tinja di TPA Bakung begitu menyengat hidung setiap sore.

“Terutama ketika angin berembus kencang,” katanya.

Udin, warga Bakung, mengaku sudah banyak warga Bakung sering terserang penyakit batuk menahun akibat pencemaran udara.

“Soal warga terserang penyakit akibat pencemaran itu sudah jadi rahasia umum. Itu cerita lama,” katanya,

Kolam Raksasa Limbah Manusia di TPA Bakung

TPA Bakung seluas 14 hektare tersebut mulai beroperasi tahun 1992. Sejak 1998, pencemaran sudah mulai dirasakan warga sekitar, terutama karena bau busuk dan pencemaran udara akibat asap hasil pembakaran sampah dan limbah industri yang juga dibuang di TPA tersebut.

Data LBH Bandarlampung menunjukkan, pada  2001 instalasi pengolah limbah TPA Bakung juga rusak, sehingga air limbah yang belum layak buang merembes ke sumur warga sehingga air sumur tidak bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari.

Warga sekitar TPA Bakung, terutama yang mampu, terpaksa membeli air bersih (kala itu seharga Rp 500/jeriken) untuk air minum dan memasak. Sementara untuk mencuci dan mandi tetap menggunakan air sumur yang sudah terintrusi limbah sehingga banyak warga yang mengalami penyakit gatal-gatal di kulit.

Sumber bau yang sudah lama dikeluhkan warga di sekitar TPA Bakung itu berasal dari sebuah kolam raksasa, yang terdiri atas beberapa kolam yang berisi kotoran manusia. Kotoran manusia yang dibuang ke kolam-kolam itu bertambah setiap harinya, seiring dengan terus aktifnya mobil penyedot tinja dari rumah-rumah warga di Bandarlampung.

Data di Pemkot Bandarlampung menyebutkan, pada perencanaan, awalnya kolam tinja yang disebut sebagai Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) di TPA Bakung hanya untuk menampung 15 meter kubik kotoran manusia per hari. Pada praktiknya, per harinya ada puluhan meter kubik kotoran manusia yang dimasukkan ke kolam raksasa itu.

Truk pengangkut sampah sehabis membuang sampah di TPA Bakung

“Makanya, wajarlah kalau meluber ke mana-mana,” kata Udin, warga Kelurahan Bakung yang sehari-hari mengais sampah di TPA Bakung.

Udin mengaku bagi dirinya yang sudah terbiasa mencium bau busuk tinja dan sampah di TPA Bakung, bau busuk yang meruap dari kolam raksasa berisi tinja di TPA Bakung bukanlah masalah.

“Tapi bagi warga lain tentu saja menjadi masalah besar. Dan itu tidak hanya terjadi akhir-akhir ini saja,” katanya.

Pemantauan Teraslampung.com di lokasi IPLT TPA Bakung menunjukkan bahwa kolam raksasa berisi tinja itu tidak terawat dan tidak ada instalasi pengolahan agar kotoran tidak menebarkan bau busuk.

Kolam berukuran besar yang berada di sisi kanan kompleks TPA Bakung itu tanpa pagar. Kolam terbuka itu memungkinkan air hujan akan langsung masuk ke dalam kolam sehingga meluber.

Ahli tata kota dari Universitas Bandarlampung (UBL), IB Ilham Malik, IPLT di TPA Bakung bukan saja harus diperbaiki, tetapi bahkan harus dibangun IPLT baru.

“Pembangunan IPLT baru relatif mendesak karena kapasitas IPLT saat ini hanya 15 meter kubik per hari, sementara volume kototan manusia yang masuk mencapai 90 meter kubik per hari,” kata Ilham, Sabtu, 1 September 2018.

Ilham mengatakan, sebenarnya limbah yang masuk ke IPLT di TPA Bakung banyak yang berasal dari mal dan hotel di Bandarlampung.

Lapak-lapak rongsokan di TPA Bakung

“Makanya, volume per harinya menjadi besar. Untuk  mengurangi beban IPLT TPA Bakung, sebaiknya mal dan  hotel mambangun IPLT sendiri. Itu yang harus dilakukan. Hal itu nantinya harus diawasu oleh Pemkot Bandarlampung, DPRD Bandarlampung, dan media massa. Perlu diawasi, agar mereka benar-benar membangun IPLT sendiri,agar beban IPLT di TPA Bakung menjadi  berkurang,” katanya.

Selain itu, Ilham menyarankan agar Pemkot Bandarlampung membatasi pembangunan di sekitar Bakung.

“Sumber air bersih dan sanitasi harus  dikontrol ketat dan disediakan oleh Pemkot. Hal itu dilakukan sambil membangun rumah susun di lokasi lain sebagai tempat tinggal bagi warga sekitar TPA Bakung,” katanya.

Kisah Lama Terulang Kembali

Kisah tentang pencemaran limbah TPA Bakung yang dirasakan warga Kelurahan Bakung sebenarnya bukanlah kisah baru. Pencemaran yang cukup parah juga pernah terjadi pada Agustus 2004, Oktober 2004, dan Desember 2004.Bahkan,ketika itu protes keras warga disertai pemblokiran TPA Bakung disertai dengan wacana untuk merelokasi TPA Bakung.

Pada 16 Agustus 2004 ratusan warga Lingkungan II Kelurahan Bakung, Kecamatan Telukbetung Barat, Bandarlampung memblokir jalan menuju TPA Bakung selama satu minggu karena protes terhadap pencemaran TPA Bakung. Warga kembali membuka jalan setelah bernegosiasi dengan Dinas Kebersihan dan Keindahan (DKK) dan Walikota Bandarlampung, Suharto.

Kompensasinya: Pemda Kota Bandarlampung melakukan pengobatan secara gratis kepada puluhan warga yang selama ini mengidap penyakit ISPA, diare, dan kolera lewat Puskesmas Keliling. Pemda Kota Bandarlampung juga berjanji akan memadamkan api dalam tempo lima hari setelah perundingan .

Namun, janji itu tak kunjung dipenuhi Pemda. Puskesmas Keliling (dengan mobil) yang dijanjikan Pemda tak kunjung datang, sementara sampah makin menggunung dan menyebarkan bau busuk. Api yang menimbulkan kepulan asap juga masih menyala di TPA Bakung.

Lapak rongsok di TPA Bakung

Akibatnya, pada Oktober 2004 lalu, warga kembali memblokir jalan menuju TPA karena Pemda Bandarlampung tidak segera mengalihkan TPA dan memberikan kompensasi biaya berobat bagi ratusan warga yang terserang infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat tercemar limbah TPA Bakung.

Namun, lagi-lagi aksi itu bisa diredam oleh Pemkot Bandarlampung dengan janji membentuk tim independen untuk melakukan studi kelayakan relokasi TPA Bakung.

Tim yang terdiri atas LBH Bandarlampung, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lampung, dan Universitas Lampung itu bertugas untuk melakukan penelitian dampak TPA Bakung dan mencari alternatif lokasi yang cocok sebagai pengganti TPA Bakung. Namun, tim ini tidak bisa kerja maksimal karena tidak ada dukungan dana dari Pemda Bandarlampung.

Hal itulah yang makin memicu warga kembali memblokir TPA pada 24 Desember 2004. Saat itu, ratusan warga Lingkungan II Kelurahan Bakung, Kecamatan Telukbetung Barat, Bandarlampung yang marah kembali memblokir jalan menuju ke TPA Bakung.

Jalan Terusan Kesuma Yudha yang merupakan jalan satu-satunya menuju TPA Bakung ditutup warga sehingga truk-truk pengangkut sampah dan truk pengangkut tinja tidak bisa keluar-masuk TPA untuk membuang sampah dan tinja.

Warga ketika itu marah karena merasa dibohongi Pemkot Bandarlampung yang pernah berjanji mengatasi pencemaran lingkungan  seiring dengan sering turunnya hujan.

Penutupan TPA Bakung tersebut merupakan puncak dari kemarahan warga yang selalu dijanjikan untuk dicarikan solusi untuk mengatasi pencemaran lingkungan akibat pengelolaan limbah sampah TPA Bakung.

Jalan becek berbau di dalam TPA BakungSampah di TPA ditumpuk begitu saja kemudian dibakar sehingga menimbulkan polusi udara. Selain menimbulkan asap dan bau tak sedap, tumpukan sampah TPA yang berada di tengah-tengah permukiman penduduk itu juga menyebabkan banyak lalat sehingga banyak berjangkit penyakit.

Kala itu LBH Bandarlampung melalui direkturnya, Fenta, menegaskan bahwa Pemkot Bandarlampung tidak memiliki komitmen untuk segera melakukan relokasi.

“Kalau mau merelokasi, tanpa adanya penelitian dampak TPA pun sudah bisa dilakukan relokasi. Sebab, dampaknya kan sudah jelas, yaitu banyaknya warga sekitar yang terserang penyakit akibat pencemaran limbah. Tapi Walikota selalu beralasan bahwa TPA Bakung sudah didesain secara modern dan profesional sehingga tidak perlu dikhawatirkan,” kata Fenta ketika itu.

Dimediatori LBH Bandarlampung dan DPRD Bandarlampung, ketika itu Pemkot Bandarlampung mengadakan pertemuan dengan warga Bakung. Hasilnya: melalui Kepala Dinas Kebersihan dan Keindahan Kota Bandarlampung, Saiful Anwar, berjanji  akan merelokasi TPA ke wilayah  Sukadanaham, Kecamatan Tanjungkarang Barat.

Sejak 2004 hingga Agustus 2018, Kota Bandarlampung sudah banyak berubah. Sejak 2005 sudah ada dua walikota pengganti Suharto sebagai Walikota Bandarlampung. Yaitu Eddy Sutrisno (2005-2010) dan Herman HN (2010-2015, 2015-sekarang). Fenta, mantan Direktur LBH Bandarlampung, pun sudah lama meninggalkan Lampung dan kini menjadi Walikota Pagar Alam. Namun, sampai sekarang TPA Bakung tidak berubah.

Janji Pemkot Bandarlampung sejak era Walikota Suharto untuk memindahkan TPA ke wilayah Sukadanaham tidak pernah terwujud. TPA Bakung masih terus aktif menerima sampah dan kotoran manusia hingga sekarang. Gunungan sampah yang menyebarkan bau busuk dan kolam-kolam raksasa berisi tinja tanpa pengolahan sehingga mencemari warga sekitar masih dirasakan warga sekitar hingga sekarang.

Sejumlah warga Kelurahan Bakung mengaku, selama TPA tidak direlokasi ke tempat lain, kisah tentang pencemaran lingkungan yang parah di TPA Bakung akan selalu terulang kembali,

“Janji relokasi sejak zaman Walikota Suharto,sampai sekarang tidak pernah terwujud. Kami seperti yang harus menerima kutukan,” kata Udin,warga Kelurahan Bakung.

Mas Alina Arifin

BACA JUGA: Keranjang Takakura, Solusi Perempuan Pesisir Bandarlampung Atasi Masalah Sampah

BACA: Rukmana Menganggap TPA Bakung sebagai Sumber Mata Pencaharian

Loading...