Beranda Views Opini Pendidikan Berdaya dengan Kebudayaan dan Kebiasaan

Pendidikan Berdaya dengan Kebudayaan dan Kebiasaan

609
BERBAGI

Oleh Gatot Arifianto*

Pendidikan adalah kata kunci bagi kemajuan suatu bangsa. Menuju 75 tahun Indonesia merdeka. Sektor pendidikan harus berevolusi, tidak hanya berpijak, namun juga bertindak sesuai dengan jatidiri bangsa. Wali Songo sukses menyebarkan Islam Deen Assalam di nusantara dengan budaya, wayang, gamelan dan tembang. Bukan dengan perang, wajah berang dan teriakan garang.

Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2019 mencatat jumlah pengangguran naik 50 ribu orang. Dari 7 juta orang pada Agustus 2018, menjadi 7,05 juta orang.

Berdasarkan tingkat pendidikan, tingkat pengangguran terbuka yang cukup tinggi didominasi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), menyumbang angka pengangguran tertinggi dari tingkat pendidikan lain, sebesar 8,63 persen. Disusul tingkat diploma I/II/III 6,89 persen.

Pada 2018 juga, Programme for International Student Assessment (PISA) menyebut posisi Indonesia dalam hal pendidikan (membaca, matematika dan ilmu pengetahuan), tertinggal dari negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam. Indonesia menempati peringkat ke-72 dari 77 negara.

Padahal, Indonesia ialah negeri dengan diversitas budaya tiada duanya di dunia. Beragam kearifan lokal visioner dan relevan dimiliki bangsa dengan penduduk mayoritas muslim di dunia ini.

Presiden RI ke VI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Allahuyarham, mengingatkan hal itu sebagai satu dari sembilan nilai yang harus dipegang Gusdurian, penerus pemikiran Guru Bangsa tersebut.

Nilai-nilai luhur Umpasa (pepatah Batak), Pappaseng atau nasihat masyarakat Bugis, Pepatah-petitih Minangkabau, pada hakikatnya tidak tertinggal dengan konsep-konsep barat yang seringkali didefinisikan dahsyat, hebat dan sejenisnya sehingga kerap menjadi kiblat, dari ekonomi hingga pendidikan.

Kekeliruan panjang sebagaimana memahami keris mistis dan memiliki khodam meski diakhiri, dengan percaya diri dan tindakan, dari ruang pendidikan hingga lingkungan.

Amanat pendidikan menciptakan generasi bangsa yang tangguh harus diwujudkan. Tidak hanya sesuai amanat konstitusi. Niscaya pula jika kita percaya diri sebagai bangsa berkepribadian dan memiliki kebudayaan luhur. Termasuk, tidak keberatan dalam memahami sejumlah firman Allah SWT. Dengan bekal itu, pendidikan di Indonesia akan mampu menjawab masalah penting tersebut seiring perubahan zaman.

Berdaya dengan Budaya

Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptaNya. Merendahkan manusia berarti merendahkan penciptaNya. Gus Dur. Melalui pendidikan, setiap orang tua ingin anak-anaknya bisa sukses. Tapi sukses pada hakikatnya bukan sekedar materi. Gus Dur yang ditempa pendidikan di sejumlah pesantren memiliki suatu kesuksesan yang barangkali kurang diminati.

Dalam persoalan kemanusiaan, Ketua Umum PBNU 1984-2000 tersebut memberikan contoh dengan tindakan, ilmu haal (tingkah). Dari mendorong kemajuan kader hingga merawat keberagaman dan minoritas yang kerap diganggu. Kiai nyentrik yang mengejawantahkan perintah Tuhan lewat jalan kemanusiaan.

Gus Dur, intelektual dengan gagasan-gagasan melampaui zaman, paham, tumbuh lebih penting dari sekedar tambah.Tumbuh ialah kualitas. Tambah ialah kuantitas. Hasilnya, kader yang dididik dengan keunikannya, tumbuh sebagai orang besar, sesuai bakat minat masing-masing. Sebagai contoh dari beberapa nama, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Menko Polhukam Prof Mahfud MD.

Pernyataan disampaikan Guru Bangsa di atas, senada dengan pernyataan Pahlawan Nasional dari Minahasa, Dr Sam Ratulangi, Si tou timou tumou tou: Manusia baru dapat disebut sebagai manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia. Manusia sebagai khalifah (pemimpin) harus dibuat berdaya, bukan diperdaya.

Sebagai gagasan, pemikiran tersebut jauh sebelum Thomas J. Stanley, penulis Amerika dan ahli teori bisnis, memetakan 100 faktor berpengaruh terhadap tingkat kesuksesan seseorang.

Berdasarkan survei terhadap 733 millioner di US, Stanley menempatkan NEM, IPK dan rangking hanyalah faktor sukses urutan ke 30, faktor IQ berada diurutan ke-21, dan bersekolah di universitas atau sekolah favorit diurutan ke-23.

Faktor sukses menurut survei Stanley meliputi 10 hal. Kejujuran, disiplin keras, mudah bergaul, dukungan pendamping, kerja keras, kecintaan pada yang dikerjakan, kepemimpinan, kepribadian kompetitif, hidup teratur dan kemampuan menjual ide.

Di Jepang, sebagai contoh lain tentang pendidikan. Tidak masalah nilai matematika anak-anak mereka jelek asal anak-anak mereka bisa antre. Di negeri samurai itu, aspek pendidikan meliputi empat penghargaan. Menghargai diri sendiri, orang lain, lingkungan dan keindahan, kelompok dan komunitas. Bagaimana dengan Indonesia?

Dalam hal kejujuran, Pikukuh masyarakat Baduy di Banten mengajarkan mipit kudu amit (mengambil harus pamit), ngala kudu menta (mengambil harus minta). Termasuk bagaimana berperilaku baik dengan lingkungan, lebak teu meunang diruksak (lembah tak boleh dirusak). Sebagaimana masyarakat adat Ammatoa, di Bulukumba, Sulawesi Selatan, mereka pantang menebang pohon jika tidak untuk keperluan sangat penting. Itu pun, harus diganti dengan tanaman baru.

Pepatah petitih Minangkabau, Sumatera Barat mengajarkan disiplin menghargai waktu dan tata cara bergaul. Perlunya masyarakat sebisa mungkin tidak membuang waktu, duduak marauik ranjau tagak maninjau jarak. Duduk meraut ranjau, berdiri meninjau jarak. Selalu melakukan yang bermanfaat, tidak menyia-nyiakan waktu.

Di mana bumi dipijak disinan langik dijunjuang. Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Umpasa Batak menyebutnya, muba dolok , muba duhutna, muba laut, muba uhumna sidapot solup do naro. Lain daerah lain kebiasaan, lain kelompok lain juga peraturannya, setiap pendatang baru wajib menghormatinya.

Pribadi kompetitif pun diwariskan nenek moyang masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan. Mereka akrab dengan semboyan waja sampai kaputing, tetap bersemangat dan kuat bagaikan baja dari awal sampai akhir.

Beberapa contoh kearifan lokal di atas, adalah sebagian kecil dari ragam kebudayaan luhur bangsa Indonesia yang layak menjadi perilaku sejalan dengan ajaran agama Islam dan agama lain yang ada di Indonesia. Sesuai prinsip Al-muhafazhatu ‘ala qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah (memelihara hal lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik). Agar kita tidak melulu gumun terhadap konsep ditawarkan oleh asing.

Almarhum WS Rendra, dalam Sajak Sebatang Lisong, ditulis 19 Agustus 1977 menegaskan: Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing. Diktat-diktat hanya boleh memberi metode, tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan. Kita mesti keluar ke jalan raya, keluar ke desa-desa, mencatat sendiri semua gejala, dan menghayati persoalan yang nyata.

Berdaya di Lumbung Kebudayaan

Kondisi bangsa Indonesia sejauh ini masih sebagaimana peribahasa ayam mati di lumbung padi. Beberapa penyebab, warisan afirmasi negatif dan ketidakmauan menumbuhkan. Selain itu, asyik berkaca pada asing.

Generasi bangsa bertambah sebagaimana kecambah, tapi suara, tindakan, tontonan menumbuhkan pesimistis masih seperti air bah.

Ketika anak-anak naik jendela atau berlari, sebagian besar orang tua akan segera berseru penuh ekspresi, dari cemas hingga marah: Awas jatuh! Turun! Cepat turun! Jangan berlari!

Tapi anak-anak tetaplah anak-anak, begitu orang tua tidak melihat, akan mengulangi kegiatan kreatif, penuh imajinasi dan menumbuhkan kemampuan berani tersebut. Sayangnya, ketika orang tua melihat lagi, pengulangan afirmasi negatif akan disampaikan lagi. Sehari, dua hari, hingga anak tidak dianggap kecil lagi, minimal masuk SD. Idealnya: naiklah setinggi mungkin, berlarilah sekencang mungkin tapi hati-hati.

Afirmasi negatif lain ialah mewariskan mental miskin.“Sudah nak, kita orang tidak punya/miskin”. Anak-anak yang mempunyai beragam imajinasi keren, belajar mengolah, menjalankan daya kreativitas, dihipno untuk ambyar akibat ketidakpahaman turun temurun.

Sebagian besar masyarakat muslim Indonesia barangkali belum memahami jika ungkapan-ungkapan negatif itu akan mengendap di alam bawah sadar anak. Namun semestinya menyadari, ucapan-ucapan negatif berulang semacam itu, berbanding terbalik dengan sejumlah firman Allah.

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. QS Ar Rad ayat 11. Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. QS Ibrahim ayat 7.

Lantas bagaimana cara menyampaikan materi di ruang pendidikan? Apakah anak didik didorong untuk tumbuh, berdaya? Hal ini sangat mungkin jika pengajar mau bertindak sebagai fasilitator.

Selama pengajar masih membiasakan diri bermonolog ria, memonopoli kelas dengan menjadi pembicara tunggal terhadap materi. Harapan kemajuan pendidikan untuk generasi bangsa akan tetap jauh panggang dari api.

Pemahaman siswa terhadap materi tidak akan pernah optimal dengan gaya monolog. Pola itu juga tidak akan pernah efektif untuk menumbuhkan keberanian dan kepercayaan diri peserta didik yang telah diruntuhkan dari kecil tanpa disadari oleh sebagian besar orang tua.

Keuntungan dalam penguasaan materi hingga kepercayaan diri tetap ada pada pengajar. Peserta didik akan tetap memiliki dengkul gemetar, jantung dag dig dug dan mendadak ingin pipis ketika diminta maju kedepan ruang kelas untuk berbicara sepatah dua patah kata tentang materi pelajaran.

Kondisi semacam itu tidak hilang dengan gampang. Setamat sekolah pun, sebagian besar dari mereka masih asing dengan percaya diri. Kepimpinan dan keberanian hanya dimiliki sebagian kecil dari generasi bangsa yang memiliki kesempatan atau mau mengembangkan diri dengan mengikuti ekstra kurikuler dan pelatihan pengembangan kompetensi lainnya.

Perubahan pola pikir dan pembiasaan mendorong tumbuhnya tindakan, memahami materi dengan praktik di ruang-ruang kelas adalah jalan. Lisanul hal afshahu min lisanil maqal. Praktik lebih penting dari teori.

Kerja dan dinamika kelompok yang kontinu, diskusi, membuat soal mandiri setelah menerima materi dari pengajar, akan mendorong tumbuhnya kebiasaan berpikir bagi setiap kepala.

Praktik berbicara menyampaikan pemahaman setiap materi di depan ruang kelas atau anggota kelompok secara bergantian, efektif menumbuhkan kepercayaan diri selain kemampuan komunikasi. Yakinlah, akan hilang bertahap, peserta didik yang bersembunyi di balik punggung teman di depannya ketika guru mengajukan pertanyaan.

Pemanfaatan teknologi audio visual bisa melengkapi perubahan kemajuan pendidikan diharapkan. Kita tahu, iklan durasi semenit ditayangkan di televisi pada akhirnya mampu memengaruhi perilaku konsumtif. Siapa menyangkal audio visual tidak berpengaruh bagi pembangunan karakter bangsa berikut masyarakatnya?

Amerika Serikat membangun karakter masyarakatnya menggunakan waktu dengan baik, bertahap, sederhana, tapi serius dan realistis. Salah satu melalui tontonan-tuntunan (industri perfilman) yang selalu menyatakan mereka bangsa unggul, bangsa pemenang, bukan bangsa pecundang.

Bukankah pertempuran Fire Base Ripcord sejatinya dimenangkan Vietnam? Namun dengan memproduksi puluhan film-film bertemakan perang Vietnam. Dari layar lebar seperti film Rambo hingga film seri Tour of Duty, mereka mengubah fakta menjadi fiksi. Memotivasi dan menghipnotis psikologi hingga pola pikir masyarakatnya dengan menyatakan diri menang melawan gerilyawan Vietnam.

Dalam konteks kreatif dan fiksi, hal itu bukan sesuatu yang salah karena memang bukan fakta. Tapi dari upaya-upaya itu, jelas ada dampak maslahat hendak dicapai Amerika di masa mendatang.

Bagi Amerika, kreativitas tersebut adalah kesadaran pentingnya pembangunan karakter masyarakat bangsa sebagai investasi jangka panjang yang tidak mungkin selesai seperti membuat mie instans.

Uraian-uraian kenyataan tumbuhnya perubahan pola pikir dan perilaku tersebut penulis dapatkan ketika mendampingi pelajar SMA sederajat yang ingin masuk perguruan tinggi melalui program kerjasama Yayasan Mata Air dan GP Ansor, Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) di Lampung, setahun sekali, dalam jangka waktu satu bulan dan dua minggu, pada 2014 hingga 2018. Bagaimana jika dibiasakan 6 tahun SD dan 6 tahun SMP-SMA?

Waktu berjalan, zaman berubah. Keputusan baik untuk kemajuan bangsa melalui generasi bangsa yang tangguh harus segera diambil pemangku kebijakan. Cukup sudah 74 tahun lebih, Indonesia seumpama rangkaian kereta panjang ditarik beberapa ekor kuda. Generasi bangsa yang dirampas daya dan potensinya, dari lingkungan keluarga hingga pendidikan, harus ditumbuhkan untuk berdaya.

Sekarang dan seterusnya, berdaya di lumbung kebudayaan bernama Indonesia adalah pilihan.***

*Penulis adalah Kamituwo Aji Tapak Sesontengan dan Anggota Dewan Pakar PC Pergunu,Waykanan, Lampung

Loading...