Beranda Pendidikan Pendidikan di Lampung Tengah Perlu Revitalisasi

Pendidikan di Lampung Tengah Perlu Revitalisasi

688
BERBAGI
Kepala SMN 2 Terbanggi Besar, Joni Syarif, menunjukkan peralatan praktik siswa yang sudah mulai uzur.
Supriyanto/Teraslampung.com
Joni Syarif di  ruang praktik (Teraslampung/Supriyanto)
GUNUNGSUGIH – Mutu
Pendidikan akan berkembang jika didukung oleh tiga faktor yang saling
bersinergi, yakni sumberdaya manusia (SDM) sumber daya Prasarana  dan 
Sumber daya Pembiayaan yang memadai. Ketiga faktor inilah yang saat ini
menjadi problema bagi Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 (SMKN 2)  Terbanggibesar, Lampung Tengah. 
”Saya kira tanpa dukungan  SDM pendidik dan kependidikan, serta
prasarana dan pembiayaan yang memadai, SMK sulit untuk meningkatkan diri
menjadi lebih berkualitas,” ungkap Kepala SMKN2 Terbanggibesar  Joni Syarif, Selasa (13/5).
Menurut
Joni, saat ini untuk proses pembelajaran bagi tujuh program keahlian yang di
kembangkan di SMKN2 Terbanggibesar ditangani oleh  115 orang 
guru,  sebanyak  16 orang diantaranya statusnya masih sebagai
guru honorer. Tentunya, dengan masih banyaknya tenaga honorer akan sangat membebani
pembiayaan sekolah. Di SMKN2 Terbanggibesar saat ini ada dua program keahlian
yang tenaga gurunya masih honorer.
 ”Program keahlian Teknik Komputer Jaringan
(TKJ) dan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) semua tenaga pengajarnya masih
berstatus honorer belum ada yang PNS, padahal sudah enam tahun program keahlian
ini dikembangkan,”katanya.
Joni
berharap, Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah harus sudah melakukan upaya
penambahan guru berstatus PNS, setidaknya untuk kebutuhan guru lima tahun
mendatang. Karena, lima tahun ke depan, tegas Joni, akan terjadi pengurangan
guru karena pensiun, terutama guru pada program keahlian teknik kosntruksi kayu
(TKK), teknik mesin dan teknik otomotif. 
“Bila tidak diantisipasi dari sekarang,
maka ke depan SMKN2 Terbanggibesar  akan
terjadi krisis guru teknologi dan kejuruan. Sedang universitas yang
mengembangkan Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan hanya ada di
Jogyakarta dan Padang,” kata dia.
Untuk
pengembangan mutu pendidikan di sekolah kejuruan tentu saja yang dibutuhkan adalah
guru berlatar belakang pendidikan guru dan pendidikan teknik, bukan hanya
sarjana teknik. Karena dalam proses pembelajaran akan sangat berbeda antara
sarjana teknik murni dengan sarjana teknik yang berlatar belakang keguruan,
terutama dalam metode dan penilaian. 
”Sarjana teknik bisa diangkat menjadi
guru, tetapi harus di lakukan pemagangan tentang ilmu keguruan dan pendidikan
selama dua semester,”katanya.
Untuk
meningkatkan kualitas SMKN2 Terbanggibesar, kata Joni, pihaknya terus
meningkatkan kemampuan guru dalam penguasaan ilmu  sesuai kebutuhan perkembangan teknologi saat  ini. Mereka diikutkan dalam magang di
bengkel-bengkel industri untuk mendapatkan sertifikat assesor, atau melalui
pendidikan formal di beberapa perguruan tinggi dan mengikuti training-training
teknologi dan kejuruan.  
”Yang  sangat dibutuhkan untuk peningkatan mutu
pendidikan kejuruan adalah revitalisasi pendidikan. Sampai saat ini belum
nampak adanya upaya untuk merevitalisasi sekolah kejuruan,”katanya.

Revitalisasi
yang dibutuhkan tentunya terkait dengan peralatan praktek sekolah kejuruan. Dia
mencontohkan, saat ini peralatan praktek siswa yang ada di SMKN2 Terbanggibesar
sudah tua, karena diperoleh dari pengadaan tahun 1988-1990. Untuk perbaikan
peralatan yang baru, tentu saja tidak mungkin dapat  dipenuhi oleh sekolah atau oleh masyarakat,
karena harga satu peralatan ada yang diatas seratusan juta. 
Oleh karena itu, kata dia,  pemerintah harus memberikan porsi anggaran yang sesuai kebutuhan sekolah
kujuran. ”Kebutuhan anggaran untuk sekolah kejuruan sangat jauh berbeda dengan
sekolah umum. Pemerintah harus memberikan anggaran untuk sekolah kejuruan secara
proporsional setelah melalui penghitungan kebutuhan riil,”tandasnya.  
Loading...