Beranda News Nasional Penetapan Awal Puasa Ramadhan, MUI Apresiasi Kementerian Agama

Penetapan Awal Puasa Ramadhan, MUI Apresiasi Kementerian Agama

142
BERBAGI
Ketua MUI KH Makruf Amin didampingi Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, dan tokoh agama Islam lainnya memberikan keterangan pers usai Sidang Isbat untuk menetapkan awal bulan Ramadhan. Pada kesempatan itu Menteri Agama menyampaikan bahwa awal Ramadhan akan jatuh pada Ksmis, 18 Juni 2015.  (Foto: Ist)

JAKARTA, Terasalampung.com– Ketua Majelis Ulama Indonesia KH Makruf Amin menyampaikan rasa terima kasih kepada Kementerian Agama karena telah berhasil melakukan penyerasian perhitungan hisab. Apresiasi disampaikan Ketua MUI setelah Kementerian Agama berhasil menetapkan bahwa awal Ramadlan jatuh pada hari Kamis (18/6/2015). Artinya, mayoritas umat Islam akan mengawali puasa Ramadhan secara bersama-sama pada Kamis mendatang.

“Saya menyampaikan terima kasih kepada Kemenag yang sudah berhasil melakukan penyerasian perhitungan hisab. Sekarang ini sudah bersepakat sehingga posisi hilal sekarang sudah sama dari sudut hisab,” kata KH Makruf Amin, seperti dirilis laman kemenag.com, Selasa (16/6/2015).

Menurut K.H. Makruf Amin, kriteria untuk menentukan awal puasa Ramadhan tadinya agak banyak, tetapi sekarang  tinggal dua, yaitu wujudul hilal dan imkanur-rukyat.

Kyai Makruf  di negara lain, awal Ramadlan bisa disatukan karena Pemerintahnya dengan cara memaksa. Namun, di Indonesia hal itu tidak dilakukan. Selama ini, meskipun Pemerintah sudah menetapkan awal datangnya bulan Ramadhan, tetapi ada beberapa kelompok muslim Indonesia yang memiliki pilihan sendiri untuk mengawali Ramadhan.

Kita sekarang sedang mencari bentuk menyelesaikan hal ini supaya bisa bersatu. Kita berharap dan akan mengusahakan sekuat tenaga. MUI akan ambil peran aktif untuk menyatukan dua sistem ini. Kita sedang cari kiat-kiatnya,” tambahnya.

KH Makruf Amin berharap umat Islam Indonesia dapat menyatukan pandangan tentang kriteria hilal, akan tetapi bukan dengan cara pemaksaan melainkan kesukarelaan.

“Ini membuat kita tidak saling membenci, tapi saling menyayangi,” tandasnya.

Bambang Satriaji

Loading...