Pengadilan Yunani Tolak Ektradisi Tiga Tentara Turki

  • Bagikan
Tentara Turki yang terbang ke Yunani dan meminta suaka politik di sana (foto: dok).

TERASLAMPUNG.COM — Harapan rezim Turki, Recep Tayyip Erdogan,  agar tiga tentaranya yang meminta suaka ke Yunani segera diekstradisi akhirnya kandas. Hal itu setelah sebuah pengadilan di Yunani belum lama ini melarang ekstradisi tiga tentara Turki yang dituduh oleh Ankara telah terlibat dalam kudeta yang gagal pada bulan Juli 2016 lalu.

Tiga tentara Turki tersebut adalah bagian dari delapan tentara  yang melarikan diri ke Yunani. Mereka membantah telah membantah tuduhan yang dilontarkan oleh Turki tersebut.

BACA: Kudeta Militer, Ribuan Tentara Turki Ditahan

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan  menuduh para tentara itu terlibat dalam upaya kudeta Juli lalu. Pasca-kudeta gagal itu, lebih dari 100.000 orang telah dipecat dari pekerjaan mereka sejak pasukan pemerintah menghalangi upaya kudeta tersebut.

Lebih dari 35.000 orang lainnya, termasuk perwira militer dan politisi oposisi, telah ditangkap karena dicurigai berkolusi dengan para perencana kudeta.

Sesaat setelah situasi Turki membaik, Presiden Erdogan menuduh ulama Muslim Fethullah Gulen yang bermukim di Amerika merencanakan kudeta itu. Ia pun  bertekad untuk membawa Gulen ke pengadilan.

Keterlibatan Gulen, mantan sekutu Erdogan yang berada dalam pengasingan atas kehendaknya sendiri di negara bagian Pennsylvania sejak tahun 1999, telah membantah terlibat dalam upaya kudeta itu.

BACA: Demokrasi, Tentara, dan Kudeta di Turki

Dampak kudeta tersebut, lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan yayasan Gulen atau ada ‘bau-bau’ namanya dengan Gulen diwaspadai oleh pemerintah Turki. Bahkan, rezin Erdogan pun menelisik hingga ke Indonesia dan meminta agar Indonesia menutup sejumlah lembaga pendidikan yang mereka tuduh sebagai berafiliasi dengan yayasan milik Gulen.

BACA: Heboh Permintaan Penutupan Sekolah di Indonesia oleh Pemerintah Turki

Sebelum kudeta meletus di Turki, nama Erdogan sangat populer di Indonesia. Banyak orang menyanjung Erdogan sebagai pemimpin Islam yang layak diteladani. Belakangan, pelan-pelan popularitas itu meredup seiring dengan langkah-langkah Erdogan yang justru represif terhadap kelompok muslim.

Pascakudeta yang banyak disebut sebagai buah rekayasa itu, Erdogan telah terlibat dalam tindakan keras terhadap wartawan, akademisi, militer, dan pegawai pemerintah sipil.

TL/bbs/voaindonesia.com

  • Bagikan