Beranda Views Inspirasi Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi

673
BERBAGI
Oleh Jose Rizal Manua*
Tahun
1981, pertama kali saya menjuarai lomba baca puisi yang diselenggarakan oleh
BAKOM PKB. Lomba baca puisi ini diikuti oleh 700 peserta dari berbagai
tingkatan (SMP, SMA dan PT se- DKI Jakarta). Babak final berlangsung di Teater
ARENA- Taman Ismail Marzuki. Yang menjadi dewan juri, Sutardji Calzoum Bahri,
Abdul Hadi WM, dan Slamet Sukirnanto.

Untuk
mempersiapkan diri, saya berlatih kurang lebih sebulan. Selama sebulan itu,
setiap sore, saya latihan olah tubuh dan olah vokal secara intensif. Karena ada
beban yang cukup berat menggelantung dipundak. Waktu itu saya tercatat sebagai
mahasiswa Fakultas Teater IKJ semester IV. Bekerja di Bagian Teater- Pusat
Kesenian Jakarta dan anggota Teater Mandiri dan Bengkel Teater Rendra. Pasti
saya akan ditertawakan banyak orang seandainya kalah, dan akan dianggap wajar
seandainya saya menang. Beban ini yang membuat saya berlatih semaksimal
mungkin. Dengan satu target, juara!

Puisi
yang saya bawakan di babak final berjudul “Lagu Seorang Gerilya” karya Rendra.
Puisi ini berbentuk balada, bercerita tentang seorang pejuang yang tertembak di
medan pertempuran. Yang di saat meregang nyawa, terbayang kekasihnya yang jauh
di kampung halaman.

Puisi
ini terdiri dari 4 bait. Bait pertama, si aku (pejuang) yang tertembak di medan
pertempuran, membayangkan kekasihnya yang jauh di kampung halaman “engkau
melayang jauh kekasihku/ engkau mandi cahaya matahari…”.
Bait
kedua, si aku (pejuang) membayangkan kekasihnya yang mengenakan selendang katun
di kampung mereka yang berdebu, di saat yang bersamaan, tank-tank penindas
memasuki medan pertempuran.
Bait
ketiga, melukiskan suasana malam yang membara karena musuh menghujaninya dengan
tembakan mortir. (Resimen penindas), dan si aku (pejuang) membayangkan
kekasihnya “…bagai pelangi yang agung dan syahdu”. Bait keempat, si aku
(pejuang) yang kehabisan peluru dan sedang meregang nyawa: “… maka di saat
seperti itu/ kamu menyanyikan lagu-lagu perjuangan/ bersama kakek-kakekku yang
telah gugur/ di dalam berjuang membela rakyat jelata.”

Jose Rizal Manua (foto tahun 1981, dok pribadi)
Puisi
ini tidak hanya bicara tentang perjuangan, tapi juga mengandung unsur-unsur
kekinian. Melalui puisi ini Rendra tidak hanya bicara tentang nilai-nilai
kepahlawanan tapi juga nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial, yang ketika
itu masih menjadi masalah di Tanah Air. 
Di dalam membawakan puisi ini, pada
pergantian bait (untuk menjembatani kesenyapan) saya menggumamkan lagu
“Selendang Sutra”. Bagi saya, puisi “Lagu Seorang Gerilya” ini strukturnya
sangat dramatis; – eksposisi yang mengarah ke klimaks. Dengan menggumamkan lagu
“Selendang Sutra”, maka kesenyapan antar bait dapat terjembatani, sehingga
unsur keharuan yang tersurat dan tersirat di dalam isi puisi bisa ditonjolkan.

Latihan
intensif yang saya lakukan adalah berlari keliling Teater Arena TIM  setiap sore sambil mengucapkan kalimat-kalimat
dalam baris dan bait-bait puisi secara bervariasi. Dengan suara keras, pelan
hingga berbisik. Dari tempo lambat, sedang hingga cepat. 

Menjelang
Lomba Baca Puisi BAKOM PKB, Agustus 1981 berlangsung, puisi “Lagu Seorang
Gerilya”, sudah bisa saya hafal di luar kepala, karena seringnya saya
ulang-ulang mengucapkannya dalam latihan. Sehingga, ketika mengikuti lomba,
teks puisi itu tidak lagi menjadi beban tapi saya manfaatkan menjadi alat ekspresi.
Karena persyaratan  lomba baca puisi
harus membawa teks, maka saya pura-pura saja membaca. Dengan menghafal teks
puisi, saya bisa tampil total dengan intensitas dan kontinuitas yang terjaga. 

Plong
rasanya ketika Dewan Juri mengumumkan nama saya sebagai juara pertama dan juara
umum.

*Jose Rizal Manua adalah seorang aktor, sutradara teater, penyair, dan deklamator. Ia sering menjuarai lomba baca puisi tingkat nasional. Karena terlalu sering menjadi juara baca puisi, ada seseorang yang menyarankan dia untuk tidak ikut lomba baca puisi. Akhirnya ia lebih sering menjadi pelatih bagi calon pembaca puisi