Beranda Teras Berita Pengamanan Arus Mudik, Dit Polair Siagakan 27 Kapal

Pengamanan Arus Mudik, Dit Polair Siagakan 27 Kapal

500
BERBAGI

Zaenal Asikin/Teraslampung.com

Komisaris Besar Polisi Edion

BANDARLAMPUNG –  Keamanan dan kenyamanan masyarakat yang akan melakukan perjalanan mudik Lebaran dari Pulau Jawa menuju Sumatera melalui Selat Sunda  tidak hanya diperketat di wilayah darat. Dalam Operasi Ketupat Krakatau 2014, Direktorat Polisi Air (Dit Polair) Polda Lampung juga memperketat penjagaan di laut, yakni dengan menyiagakan 27 kapal dan 176 personel di perairan Selat Sunda.

Direktur Polisi Air Polda Lampung, Kombes Pol. Edion mengatakan, sebanyak 27 kapal itu terdiri dari enam kapal dari Polres Lampung Selatan, satu kapal dari Mabes Polri, dan 20 kapal milik Ditpolair.

Jenis kapal yang disiagakan yakni Kapal Rescue Zone (Patroli), Kapal SAR dan Kapal Rescue Zone (Kapal Pelatuk dengan nomor lambung 3013).Kapal-kapal tersebut, disiapkan untuk melakukan pengaman masyarakat yang melakukan perjalanan mudik di pelabuhan Bakauheni.

“Jumlah personilnya sebanyak 106, berasal dari Dirpolair dan 10 personel dari Mabes Polri, ” katan Edion, Kamis (24/7).

Untuk pengoperasiannya, Edion menuturkan, kapal-kapal yang melakukan pengawalan dipersenjatai dengan perlengkapan SAR selam dan racun api. Selain itu juga dilengkapi radio penghubung daraurat (radio mariam benz ) dengan chanel 12 dan 16, sehingga bisa mengetahui keberangkatan dan tibanya kapal motor penumpang dari pelabuhan Merak, Banten-Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan. Pemantauan informasi dan pengawalan tersebut akan terus dilakukan selama 24 jam, dengan pergantian petugas monitor dan kapal pengawalan selama 4 jam sekali.

“Pengawalan itu di maksudkan agar petugas bisa mengarahkan kapal agar tidak ke luar alur (lintasan) kapal dan mengantisipasi kerusakan mesin atau tabrakan kapal. Juga untuk mengantisipasi adanya gangguan perjalanan atau kecelakaan lainnya yang menyebabkan bahaya bagi penumpang mudik. Sedangkan pantauan informasi yakni untuk mengetahui posisi atau keberadaan kapal,” tutur Edion.

Seluruh kapal penumpang angkutan mudik, kata Edion, akan dipantau Ditpolair. Pihaknya akan selalu memantau dalam empat jam sekali, baik kapal keluar atau bergantian. Selain itu juga akan terus memantau menggunakan radio mariam benz.

“Jadi kapal berangkat atau datang, itu semua ada laporanya dari radio tersebut. Jika dalam waktu empat jam tidak ada beritanya, kami akan melakukan pemantauan secara intensif dan menghampiri lokasi keberadaan kapal. Pengamanan dan markas, tidak hanya dilakukan di pelabuhan Bakauheni saja akan tetapi tersebar di 15 muara di Provinsi Lampung,” jelas dia.

Mengenai titik rawan tabrakan kapal di laut, pihaknya telah berupaya mengajukannya ke pusat untuk membagi alur kapal motor penumpang dengan alur kapal barang. Sebab, kata Edion, dalam  kasus tabrakan kapal yang terjadi pada waktu lalu, salah satu penyebabnya adalah alur kapal yang sama.

“Perairan Bakuheni tidak hanya digunakan sebagai lintasan kapal angkutan penumpang, tetapi juga sebagai lintasan kapal-kapal barang dari negara lain,”kata Edion.

Ditambahkannya, pengamanan ini dilakukan untuk masyarakat pengguna dari perairan ini bisa merasa aman dalam melaksanakan perjalanan mudik. “Kami juga mengantisipasi jangan sampai ada keterlambatan yang dapat menghambat pengangkutan atau distributor dari bahan bakar dan sembilan bahan pokok,” kata Edion.

Loading...