Penganiayaan Sulaiman Dilatarbelakangi Jual-Beli Handphone

Bagikan/Suka/Tweet:

Zainal Asikin/Teraslampung.com

Kapolsekta Telukbetung Barat Kompol Yudi Taba saat mengintrogasi kedua tersangka Ismail alias Mail (31) dan M. Johan (21)pelaku penganiayaan terhadap korban Sulaiman hingga mengalami beberapa luka bacokan dan sayatan senjata tajam.

BANDARLAMPUNG-Petugas Unit Reksrim Polsekta Telukbetung Barat menangkap dua dari empat pelaku penganiayaan, Ismail alias Mail (31) dan M. Johan (21) keduanya merupakan warga Jalan Teluk Bone Gg. Bakau, Kelurahan Kota Karang, Telukbetung Barat, Bandarlampung. Sementara dua pelaku lain, Acok Gayor dan Ayub masih dilakukan pencarian dan keduanya masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).

Kapolsekta Telukbetung Barat Kompol Yudi Taba menuturkan, penganiayaan yang dilakukan para tersangka karena dilatarbelakangi jual beli telephon genggam. Kejadian itu bermula ketika salah seorang pelaku bernama Acok Gayor meminjam ponsel adiknya, lalu Acok menyuruh korban Sulaiman untuk menjualkan ponsel tersebut.

“Korban menjual ponsel itu seharga Rp 300 ribu, lalu korban memberikan uangnya kepada Acok sebesar Rp 250 ribu dan sisanya Rp 50 ribu korban mengantonginya. Ketika ditanya Adiknya, Acok mengaku kalau ponselnya dicuri Sulaiman,”kata Yudi kepada wartawan, Minggu (18/10).

Keesokan harinya, Senin (31/8/2015) lalu sekitar pukul 19.30 WIB, Yudi Taba Mengutarakan, Acok Gayor membawa golok dan mengajak ketiga rekannya yakni Ismail alias Mail, M. Johan dan Ayub untuk mencari Sulaiman. Para pelaku yang mengetahui keberadaan Sulaiman dirumah keponakannya, Suheri di Jalan Teluk Bone, Gang Bakau Kelurahan Kota Karang, Kec. Telukbetung Timur.

Dirumah Suheri, lanjut Yudi, para pelaku langsung mendobrak pintu rumah. Suheri yang berada didalam rumah sambil menggendong anaknya yang masih bayi, merasa ketakutan melihat para pelaku membawa senjata tajam. Suheri pun langsung melarikan diri untuk menyelamatkan anaknya.

“Para pelaku melihat korban Sulaiman yang sedang tertidur didalam kamar. Tanpa basa-basi lagi, mereka langsung menganiaya korban secara bersamaan menggunakan badik dan golok. Korban sempat terbangun dan melakukan perlawanan, tapi upayanya sia-sia para pelaku tetap menganiaya,”ungkapnya.

Korban pun akhirnya tidak berdaya lagi, kata Yudi, dan korban hanya bisa mendengar suara salah satu pelaku bernama Acok Gayor yang berkata “kita patiin aja ini orang, jangan  sampai kita kasih hidup”.  Akibat luka bacokan dan sayatan senjata tajam itu, korban tersungkur bersimbah darah dan para pelaku pergi meninggalkan korban.

“Akibat kejadian itu, korban mengalami luka tusuk dibagian perut sebanyak tiga lubang tusukan, luka sayatan di pelipis kiri, luka sayatan dijari manis dan keliking kiri. Beruntung nyawa korban dapat diselamatkan, setelah empat hari menjalani perawatan di Rumah Sakit,”terangnya.

Ismail Bantah Aniaya Sulaiman, Johan Mengakui

Tersangka Ismail mengungkapakan, ia membantah bahwa dirinya tidak ikut menganiaya Sulaiman. Ketika itu ia diajak sama Acok pergi untuk mencari Sulaiman, ia pun tidak mengetahui maksud dan tujuan dari temannya itu.

“Awalnya saya tidak mau diajak pergi, tapi kata Acok sudah ikut aja dan dia (Acok) juga tidak bilang kalau mau aniaya Sulaiman,”ujar Ismail dihadapan petugas dan wartawan.

Ketika berada di lokasi kejadian, Acok bersama Ayub dan Johan langsung menganiaya Sulaiman. Pada saat itu ia sedang berada didepan pintu kamar, ia hanya melihat ketiga rekannya melakukan penganiayaan itu.

“Acok saat itu mau bacok Sulaiman untuk kedua kalinya, saya coba pegangi acok supaya tidak menujah Sulaiman. Tapi Acok terus berontak dan akhirnya menusuk Sulaiman, ketiga teman saya itu akhirnya saya tinggal pergi,”ungkapnya.

Sementara tersangka Johan, mengakui bahwa dirinya ikut memukuli Sulaiman dan ia juga yang membawa golok. Tapi ia tidak mengakui, bahwa dirinya juga ikut membacok korban.

“Saya hanya pukul kepala Sulaiman pakai gagang golok saja, saya juga meninjunya sekali. Sementara selebihnya, Acok itu yang menujah Sulaiman,”ucap Johan.

Akibat perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 170 ayat (1) dan ayat (2) KUHPidana dengan ancaman hukuman pidana penjara maksimal sembilan tahun.