Beranda Pendidikan Pengembangan Literasi Digital untuk Siswa SD pada Masa Pandemi

Pengembangan Literasi Digital untuk Siswa SD pada Masa Pandemi

51
BERBAGI
Seorang ibu mendampingi putrinya belajar secara daring.

TERASLAMPUNG.COM — Membaca merupakan kegiatan untuk mencari dan memperoleh informasi yang terkandung dalam sebuah bacaan. Dengan adanya kemampuan membaca pada diri setiap anak, maka tingkat keberhasilan dan kesuksesan di sekolah maupun di masyarakat akan menjadi lebih baik.

Rendahnya literasi bangsa kita disebabkan karena lemahnya minat dan kemampuan membaca dan menulis. Oleh karena itu, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dalam Peraturan Menteri nomor 23 tahun 2015, membuat sebuah Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Hal ini bertujuan untuk menanamkan sikap budi pekerti kepada anak-anak. Gerakan literasi ini dilaksanakan dengan mewajibkan setiap anak di sekolah dasar untuk membaca buku-buku bacaan seperti cerita lokal atau cerita rakyat 15 menit sebelum proses pembelajaran dimulai. Dengan upaya pembiasaan ini, diharapkan dapat menumbuhkan minat baca siswa dan meningkatkan keterampilan membaca untuk memperluas pengetahuan.

Namun, pada masa pandemi seperti ini pembelajaran dilakukan secara jarak jauh atau daring tanpa tatap muka. Sehingga, gerakan literasi yang seharusnya biasa dilakukan di sekolah dengan bimbingan dan pengawasan dari guru menjadi terhenti. Agar gerakan literasi tetap berjalan maka ada cara alternatif yaitu dilaksanakan melalui media digital.

Saat ini anak diwajibkan belajar di rumah, maka bentuk literasi digital untuk anak adalah literasi digital dalam keluarga. Gerakan literasi digital akan menciptakan pola pikir kreatif dan kritis anak serta menambah pengetahuan anak tentang penggunaan media digital secara edukatif, bijak dan tepat selama masa pandemi ini. Tujuan literasi digital untuk anak sekolah dasar ini adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir secara kritis dan kreatif dalam menggunakan media digital terutama smartphone dalam kehidupan sehari-hari.

Karena gerakan literasi digital ini bersifat partisipatif, maka orangtua di rumah harus turut mendukung dalam setiap perwujudan gerakan literasi digital ini. Oleh karena itu, peran orangtua dalam membimbing dan mengawasi anak selama belajar di rumah sangat penting. Orang tua harus dapat menjadi panutan dalam menggunakan media digital. Orang tua juga diharapkan mampu secara bijak dan tepat mengarahkan dan mengembangkan budaya literasi digital ini di keluarga.

Adapun hal-hal yang dapat dilakukan dalam pengembangan literasi digital dalam keluarga yaitu :
1. Orangtua dapat melaksanakan diskusi atau tukar pikiran bersama anak, misalnya tentang penggunaan dan pemanfaatan media digital yang positif.
2. Karena anak sekolah dasar memiliki sifat imitatif atau peniru, maka orangtua harus pandai dalam menggunakan media digital dengan positif. Misalnya dalam pemilihan bahan literasi dari tayangan di televisi atau di smartphone. Orangtua harus memilih bahan literasi yang positif dan edukatif agar hal yang ditiru anak juga positif.
3. Orangtua dapat menambah bahan bacaan dalam smartphone atau laptop sebagai media literasi anak. Misalnya dalam bentuk buku online atau e-book, aplikasi cerita anak, dan bahan bacaan lain yang dapat menunjang kemampuan anak dalam pelaksanaan gerakan literasi digital ini.

Pembelajaran yang dilakukan dalam kondisi seperti ini memang tidaklah mudah. Dalam pelaksanaan gerakan literasi digital di rumah ini pasti mengalami banyak kendala. Salah satunya karena tak semua anak memiliki fasilitas belajar online seperti smartphone, sulitnya mengakses jaringan internet karena keterbatasan kuota, dan kurangnya pengetahuan tentang penggunaan media internet sebagai sarana belajar saat pandemi. Sehingga,hal-hal tersebut mengakibatkan rendahnya semangat anak untuk belajar pada masa pandemi.

Bimbingan dan pengawasan dari orangtua sangatlah penting. Oleh karena itu, diharapkan orang tua agar mengarahkan penggunaan media digital pada anak-anak untuk kepentingan yang edukatif sehingga proses literasi digital ini dapat terlaksana dengan baik.***

Shafira Nur Annisa, mahasiswa Prod  PGSD Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta

Loading...