Beranda Pendidikan Penggiat Literasi di Lamsel Ini Olah Daun Kelor Jadi Tepung dan Teh

Penggiat Literasi di Lamsel Ini Olah Daun Kelor Jadi Tepung dan Teh

499
BERBAGI

Zainal Asikin | Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN–Banyak kalangan masyarakat umum, daun kelor tidak terlepas dari mitos klenik sebagai alat peluntur jimat atau susuk dan kerap digunakan dalam ritual ataupun ramuan tradisional. Namun daun kelor saat ini, menjadi salah satu komoditas olahan makanan yang kaya akan manfaat karena memiliki kandungan nutrisi dan gizi yang tinggi sehingga baik untuk kesehatan.

Daun kelor dapat diolah menjadi berbagai olahan makanan seperti ice krim, mie, klepon, nugget, bronis, donat, pudding, bakso serta olahan makanan lainnya. Baru-baru ini, penggiat literasi dari “Perpustakaan Cinta Baca” Desa Bulok, Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan membuat inovasi mengolah daun kelor menjadi bubuk (tepung) dan juga teh.

Daun yang disebut moringa oleifera ini, kerap digunakan untuk obat-obatan tradisional dan dipercaya dapat membantu menjaga kadar gula darah serta memiliki kandungan antioksidan tinggi. Manfaat daun kelor untuk kesehatan bukanlah mitos, secara ilmiah daun kelor sudah banyak diteliti dan menyebutkan daun yang satu ini bisa memberikan berbagai manfaat kesehatan.

Kepala Desa (Kades) Bulok, M Kuswanto saat ditemui di ruang kerjanya mengatakan penanaman kelor dan inovasi olahan daun kelor yang diinisiasi warganya dari penggiat literasi “Perpustakaan Cinta Baca” sangatlah bagus. Sebagai Kepala desa (Kades), ia sangat mendukung dan mensupot atas inovasi yang dilakukan oleh warganya tersebut.

“Penggiat literasi ‘Perpustakaan Cinta Baca’ ni sabagai salah satu penggeraknya. Perpustakaan ini bukan haya sekedar membaca saja tapi juga ada nilai tambah lainnya melakukan inovasi daun kelor menjadi tepung dan teh,”ujarnya kepada teraslampung.com, Senin (24/2/2020).

Salah satu rumah yang dijadikan tempat untuk mengolah daun kelor menjadi serbuk (tepung) dan teh yang dilakukan leh penggiat literasi “Perpustakaan Cinta Baca” Desa Bulok, Kecamatan Kalianda.
Salah satu rumah yang dijadikan tempat untuk mengolah daun kelor menjadi serbuk (tepung) dan teh yang dilakukan leh penggiat literasi “Perpustakaan Cinta Baca” Desa Bulok, Kecamatan Kalianda.

Dikatakannya, saat ini di desanya, sudah mulai digalakkan untuk menanam pohon kelor. Karena melihat peluangnya bagus, baik itu dari segi manfaat kesehatan maupun nilai ekonomi yang dihasilkan dari daun kelor tersebut. Tanaman tersebut, selain mudah ditanam juga murah untuk didapatkannya. Masyarakat luas tahu, daun kelor banyak manfaat dan serkarang ini sudah mulai banyak dibudidayakan kembali.

“Kami mengajak masyarakat desa untuk mengembangkan tanaman kelor ini, dan juga menanamnya di lahan pekarangan rumah, perkebunan ataupun lahan kosong lainnya. Nantinya, kami yang membeli daun kelor dari warga dengan harga yang pantas,”ungkapnya.

Dalam pengembangan inovasi tersebut, kata Kuswanto, rencanya pihaknya akan mengolakasikan Dana Desa (DD) yang dikelola oleh Perpustakaan Cinta Baca, untuk lebih dikembangkan lagi dengan membuat aneka produk-produk lainnya yang dihasilkan dari bahan dasar daun kelor tersebut.

“Kami berharap kepada Pemerintah daerah atau instansi terkait lainnya, dapat meliriknya apa yang sedang di kembangkan oleh warga desanya tersebut agar dapat dikenal masyarakat luas,”terangnya.

Sementara anggota DPRD Provinsi Lampung dan juga sebagai Calon Bupati Lamsel 2020, Antoni Imam ketika di sambangi para penggiat literasi “Perpustakaan Cinta Baca” Desa Bulok, Kecamatan Kalianda sangat mengapresiasi dan mendukung kegiatan yang dilakukan oleh para penggiat literasi tersebut.

Anggota DPRD Provinsi Lampung dari Fraksi PKS, Antoni Imam menerima kunjungan penggiat literasi “Perpustakaan Cinta Baca” Desa Bulok yang mengembangkan inovasi daun kelor di kediamannya di Desa Sidorejo, Kecamatan Sidomulyo.
Anggota DPRD Provinsi Lampung dari Fraksi PKS, Antoni Imam menerima kunjungan penggiat literasi “Perpustakaan Cinta Baca” Desa Bulok yang mengembangkan inovasi daun kelor di kediamannya di Desa Sidorejo, Kecamatan Sidomulyo.

Tepung, kata Antoni Imam, biasanya dibuat atau berasal dari bahan nabati, semisal tepung terigu dari gandum, tapioca dari singkong, maizena dari jagung atau hewani misalnya tepung tulang dan tepung ikan. Namun tepung hasil inovasi penggiat literasi Desa Bulok, berbahan baku dari daun kelor.

“Saya mengapresiasi dan mendukung apa yang dilakukan oleh rekan-rekan relawan dari penggiat literasi Desa Bulok, yakni melakukan inovasi membuat olahan bubuk (tepung) dan teh dari daun kelor,”ujarnya.

Menurut politisi dari Fraksi PKS ini, mereka menyampaikan, hasil inovasi dari daun kelor tersebut, telah mendapat dukungan dari Pemerintah desa (Pemdes) setempat. Selain Pemerintah desa, perlu adanya dukungan dari pihak Pemerintah daerah Lampung Selatan melalui instansi-nstansi terkait lainnya dalam pengembangan hasil inovasi produk daun kelor tersebut.

“Banyak sekali khasiat atau manfaat dari daun kelor ini, karena bisa mencegah stunting seperti apa yang digalakkan sebelumnya oleh Kecamatan Candipuro. Daun kelor ini juga, sangat baik untuk Ibu hamil dan menyususi serta untuk kesehatan. Insya Allah, saya siap bersinergi untuk pengembangan inovasi daun kelor dari rekan-rekan relawan penggiat literasi Desa Bulok tersebut,”pungkasnya.

Diketahui, sebelumnya Kecamatan Candipuro yang diinisiasi Puskesmas Rawat Jalan (PRJ) Candipuro menggalakkan penanaman kelor dengan Gerakan serentak Penanaman kelor (Gertak Pelor) yakni guna mencegah stunting atau gagal tumbuh pada anak.

Melalui Gertak Pelor tersebut, setiap warga desa di Kecamatan Candipuro menanam pohon kelor satu rumah satu pohon. Program Gertak Pelor tersebut, mendapat perhatian langsung dari Kementerian kesehatan (Kemenkes).

Loading...