Penggombalan

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu-Ilmu Sosial di Pascasarjana FKIP Unila

Pada saat melaksanakan sidang ujian pascasarjana, seorang anggota tim penguji,  seorang perempuan  cerdas bergelar doktor antropologi, asli Bata,  berperilaku sangat Jawa. Saat melakukan tanya jawab, mengatakan bahwa promovendus jangan melakukan “penggombalan” dalam menjawab pertanyaan penguji. Sampai di sana jadi ingat peristiwa yang sedang ramai saat ini; adanya investasi “Crazy Rich”: yaitu suatu investasi yang memberi janji janji muluk untuk mendapatkan keuntungan berlipat.

Kesempatan pertama berhasil, akhirnya nasabah nafsu menambah modal, untuk kedua berhasil lagi. Begitu ketiga, semua ambyar tak berbekas. Ini juga dapat dikategorikan investasi penggombalan. Pada waktu dikonfirmasi kepada Sang Doktor, beliau tidak menjawab dengan kalimat, tetapi menjawab hanya dengan senyuman.

Sebelum lebih jauh kita kenal dahulu makna penggombalan itu. Menurut kamus Bahasa Jawa-Indonesia, kata penggombalan memiliki kata dasar gombal; lebih jauh dijelaskan, gombal memiliki dua makna; makna pertama adalah kain usang yang sudah tidak terpakai, kemudian difungsikan untuk menjadi kain lap barang barang. Makna ke dua, adalah omong kosong atau bualan untuk menarik simpati orang lain untuk menurut apa kehendaknya.

Pada beberapa dekade lalu kata gombal mendapat tambahan mukio. Lengkapnya menjadi “Gombale Mukio”. Gombale Mukiyo terdiri dari dua kata,  yaitu gombal dan mukiyo. Gombal artinya seperti tercantum di atas. Sedangkan Mukiyo, adalah nama seseorang, yang sampai sekarang masih misterius latar belakangnya, tidak jelas bagaimana awalnya, dan siapa sebenarnya Mukiyo ini, sampai sebegitu fenomenalnya, namanya diabadikan sedemikian rupa. Satu-satunya informasi yang bisa dilacak adalah Mukiyo ini diduga berjenis kelamin laki-laki.

Gombale Mukiyo, dalam perkembangannya merambah hampir semua pelosok Jawa Tengah (termasuk Jogjakarta) dan Jawa Timur. Dan di beberapa daerah ungkapan ini mengalami perkembangan berbeda-beda, ada yang tetap menggunakan Gombale Mukiyo, ada yang kemudian memakai versi baru dengan menghilangkan vokal ’e’, sehingga menjadi Gombal Mukiyo.

Pada akhirnya Gombal Mukiyo lebih banyak dipakai. Namun arti dan esensi yang melekat pada ungkapan ini tidaklah berubah, kerap dipakai untuk meledek sesuatu atau seseorang yang tidak serius, tidak berharga, atau pembualan. Sisi lain ada yang menggunakan kata gombal dikaitkan dengan rayuan gombal; makna harfiahnya adalah rayuan yang mengandung unsur atau bertujuan untuk menarik simpati, kemudian menipunya. Untuk daerah Semarang dan sekitarnya dikenal dengan “glembuk”; yaitu menipu dengan cara halus menggunakan modal nggombal.

Pertanyaannya: sejauh mana penggombalan memasuki relung relung kehidupan? Ternyata hampir semua wilayah kehidupan dirasuki oleh “virus” penggombalan. Akhir akhir inipun para elite di negeri ini terkena virus yang satu ini. Bahkan menular ke mana-mana. Apa lagi jika nanti menjelang pemilihan apa pun jabatan yang diperebutkan. Saat itu bertaburan penggombalan, baik dalam bentuk janji manis, harapan, atau apa pun namanya. Yang pada waktunya ditagih setelah kemenangan, dengan ringan jawabannya “nanti kita pikirkan, nanti kita rancang” dan entah apalagi. Lebih sadis lagi jawabannya “Itu kan dulu”. Bayangkan kekecewaan yang dijanjikan, tetapi itulah penggombalan. Pada akhirnya tumbuh suburlah politik transaksional, dengan adagium “saya dapat apa” atau yang lebih terkenal sekarang mengikuti diksi sebuah iklan “wani piro”.

Hal serupa ini melanda hampir semua kalangan, tidak terlepas juga di Perguruan Tinggi yang katanya gudang orang pandai. Oleh karena itu penggombalan terkadang memposisikan orang pada kondisi serba salah, ikut salah, tidak ikut juga salah. Akhirnya menjadi penonton yang berdiri ditepi jalan alias apatis, dan gerakan apatis ini sangat membahayakan karena keberlangsungan kehidupan yang bermutu akan terganggu. Bayangkan jika partisipasi pemilih pada pemilihan umum menurun, partisipasi kebersertaan akan mutu di perguruan tinggi menurun akibat acuh tak acuhnya instrumen pendukung kebijakan, apatisme menjadi-jadi di semua lini kehidupan. Semua itu akan menggiring negeri ini kepada persoalan yang serius.

Politik “cari selamat atau cari aman” merupakan bentuk dari terakumulasinya kekecewaan, yang membuat tereliminasinya suatu kaum atau individu, akan berakibat pada rusaknya tatanan sosial atau tatanan organisasi yang ada pada masyarakat pendukung. Sadar atau tidak, atau malah mungkin dikondisikan, saat ini politik eliminasi seolah sudah begitu tajam dan mencolok. Hal itu dicirikan dengan rendahnya partisipasi publik maupun individu terhadap sesuatu yang berbau hajat negara.

Sebagai contoh kita bisa membayangkan penetapan harga produk makanan begitu “ugal-ugalan” sehingga masyarakat dibuat mengurut dada. Ada pembiaran sarana prasaran publik tidak terawat, masyarakat tetap bungkam seribu bahasa; persyaratan suatu jabatan publik yang melanggar kepatutan, masyarakat acuh tak acuh. Masih banyak lagi contoh bisa dibentang, namun tetap saja “pemanis bibir” dipakai sebagai penggombalan untuk merasionalkan keadaan. Bahkan tidak malu malu untuk “menukangi” aturan agar tetap menguntungkan pribadi tertentu atau kelompok tertentu. Dari jauh tampak “benar” tidak ada aturan dilanggar, begitu masuk ke dalam rasa, betapa sakitnya penipuan halus bercara gombal.

Sampai kapan penggombalan ini akan berakhir, jawabannya nanti setelah kita semua masuk ke surga Sang Khalik; karena selagi manusia memijak bumi ini, tidak akan terlepas dari nafsu, dan untuk memenuhinya, salah satu pilihan dari sejumlah pilihan yang ada adalah penggombalan. Tinggal kita ingat petuah orang bijak: “Sak beja-bejanne wong kang lali, isih beja wong kang eling lan waspada”.Artinya, seberuntungnya-beruntungnya orang yang lupa diri, masih sangat beruntung orang yang selalu ingat dan waspada.

Selamat ngopi pagi di pertengahan bulan sakban….

You cannot copy content of this page