Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca, Indonesia Perlu Mencontoh Inggris

Bagikan/Suka/Tweet:
Rizka Sari

TERASLAMPUNG.COM–Penasihat bidang Energi  Kedubes Inggris untuk Indonesia, Rizka Sari, mengatakan Indonesia perlu mencontoh Inggris dalam mengurangi dampak emisi gas rumah kaca.

“United Kingdom  Departement of Energy and Climate Change mematok target  sekitar  41 persen untuk mengurangi konsentrasi emisi gas rumah kaca,” kata Rizka dalam diskusi usai acara nonton bareng di Cafe De Arte , Bandarlampung, Selasa malam (29/9).

Menurut Rizka, sebagai negara berkembang Indonesia tidak diminta untuk mengurangi  emisi rumah kaca. Namun, sejak Agustus 2015,  pemerintahan Indonesia melalui Presiden Joko Widodo sudah berkomitmen akan mengurangi   29 persen emisi rumah kaca dengan target dari  tahun 2020 sampai 2050.

“Kalaupn target tidak tercapai, Indonesia tidak mendapatkan sanksi,” katanya.

Rizka mengatakan, kondisi “kesehatan” bumi  di dunia di  tahun 2006  sangat menyedihkan bahkan tahun 2016 nanti akan lebih menyedihkan.

“Semua bersumber dari perilaku kehidupan manusia yang  menghasilkan emisi gas rumah kaca.
Seperti di Sumatera dengan asapnya karena kebakaran . Ini adalah  dampak dari perubahan iklim. Perubahan iklim cuaca basah dan kering secara intens yang terjadi adalah  kebakaran hutan gambut. Dampak paling nyata di Sumatera yakni kebakaran hutan,” katanya.

Bukti riil dalam perubahan iklim, kata Rizka, saat ini musim kemarau  yang terlalu kering dan mempengaruhi gagal panen.

Menurut Rizka, meskipun miskin sumber energi terbarukan, Inggris mencoba untuk memanfaatkan energi terbarukan yang ada. Antara lain panas bumi di Skotlandia. “Di Inggris, pembangkit listrik tenaga angin dan energi laut adalah  nomor satu . Sekitar 40 prersen ada energi laut di Inggris, termasuk teknologi energi laut,” katanya.

Rizka mengatakan, sejak empat tahun lalu Inggris dan Indonesia menjalin kerjasama untuk mengembangkan energi mikro hidro. “Saat ini Kedubes Inggris kerjasama dengan  Kementerian ESDM untuk peraturan-peraturan di bidang pengembangan energi, seperti  pembangunan amdalnya, ” kata dia.

Sementara itu,  Mantan Kadis Kehutanan Provinsi  Lampung Warsito, mengatakan  di Lampung Barat sebenarnya juga tak bisa disepelekan dalam menanggulangi dampak perubahan iklim. Upaya itu dilakukan Pemkab Lampung Barat sejak sepuluh tahun lalu melalui program kewajiban menanam 20 batang pohon bagi pasangan calon pengantin.

“Warga yang akan menikah diminta menanam pohon di kebunnya masing masing, dan ini  sudah peraturan dari  bupati Lambar, diantaranya untuk mengurangi pemanasan global,” katanya.

Menurut Warsito, perubahan iklim tidak selalu berdampak buruk bagi manusia. Warsito mencontohkan pohon kelapa yang berbuah lebat justru karena dampak perubahan iklim.

“Dulu penduduk Liwa mengeluh karena pohon kelapanya tidak kunjung berbuah. Kini, pohon kelapa di Liwa rata-rata berbuah lebat,” katanya.


Mas Alina Arifin