Beranda Ekbis Bisnis Penjualan Kambing Kurban di Bandarlampung Lesu, Ini Kata Para Pedagang

Penjualan Kambing Kurban di Bandarlampung Lesu, Ini Kata Para Pedagang

247
BERBAGI
Lapak pedagang kambing kurban di jalan Rasuna Said, Bandarlampung.
Lapak pedagang kambing kurban di jalan Rasuna Said, Bandarlampung.

Dandy Ibrahim | Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG — Mendekati Hari Raya Idhul Adha 1440 H, lapak-lapak pedagang kambing musiman sudah bermunculan di Kota Bandarlampung. Berdasarkan penelurusan Teraslampung,  hampir semua pedagang kambing  mengurangi jumlah kambing kurban yang dijual. Hal itu karena situasi ekonomi kurang mendukung dan animo warga membeli kambing kambing menurun sejak tahun lalu (2018).

Pengalaman buruk pernah dialami Totong Rasyid, penjual kambing musiman yang biasa mangkal di pinggir Jl. Rasuna Said Bandarlampung. Totong mengaku, lesunya pembeli kambing pada Idul Adha tahun lalu memberinya pelajaran berharga.

“Tahun 2018 ancur saya pak. Biasanya bisa ratusan ekor. Tapi tahun kemarin cuma laku 58 ekor. Beda dengan tahun 2017 saya bisa jual sampai 130 ekor,” kata Totong Rasyid kepada Teraslampung.com, Senin, 29 Juli 2019.

Hal yang sama juga dituturkan Sugeng, pedagang kambing kurban yang lapaknya berada di jalan Yasir Hadibroto, di kaki Bukit Camang, Tanjung Gading, Bandarlampung.

Sugeng mengaku tahun ini dia hanya menyiapkan 70 ekor kambing kurban dengan harga Rp2juta hingga Rp4,8juta/ekornya.

“Saya gak mau spekulasi sekarang orang lebih memilih korban sapi dengan cara arisan. Di masjid dekat rumah saya, misalnya, sudah 8 ekor sapi kurban hasil dari arisan kurban,” kata pria yang sudah 15 tahun menekuni profesi penjual kambing kurban ini

Rasyid dan Sugeng menduga, merosotnya penjualan kambing pada 2018 disebabkan Idul Adha hampir bersamaan dengan tahun ajaran baru. Sehingga, pada umumnya warga lebih mendahulukan menyiapkan uang persiapan anak masuk sekolah.

Selain itu, kata Sugengt, juga karena makin maraknya berkurban dengan sistem arisan sapi. Metode arisan kurban sapi biasanya jamaah suatu masjid atau kelompok menetapkan setiap orang dikenai biaya Rp3juta dan satu kelompok arisan diisi tujuh orang.

“Kalau ada pedagang kambing yang mengatakan arisan sapi mempengaruhi turunnya penjualan kambing kurban, saya akui itu. Makanya tahun ini saya selow aja . Nggak ambisi untuk jual kambing banyak. Kalau berambisi, nanti hanya buang duit,,” kata  Dani pedagang kambing di jalan Rasuna Said didampingi sang Istri yang mengaku berdagang kambing sudah 21 tahun dia lakoni.

Meskipun stok para pedagang kambing kurban turun,  tetapi semua pedagang meyakinkan para pembeli bahwa kambing-kambingb yang mereka jual sudah layak jual dan sehat.

“Biasanya sudah mendekati lebaran haji kambing kami akan diperiksa oleh dinas terkait. Saya jamin kambing-kambing-kambing saya sehat semua,” kata Dani.

Loading...