Beranda News Budaya Pentas Teater Satu: Derita Keluarga Korban Perkebunan Sawit di Atas Panggung

Pentas Teater Satu: Derita Keluarga Korban Perkebunan Sawit di Atas Panggung

197
BERBAGI
Oleh
Taufik Wijaya
Potret korban politik pembangunan Indonesia yang diusung Teater Satu. (t. wijaya)
PEMBANGUNAN
ekonomi yang beroritenasi eskplorasi sumber daya alam (SDA) di Indonesia,
ternyata membuat kerusakan alam dan kemiskinan. Meskipun faktanya seperti itu, tapi
hingga detik ini perkebunan dan penambangan, yang pemiliknya mulai dari
pengusaha Indonesia maupun asing, terus dijalankan di Indonesia.
Sejumlah
organisasi lingkungan hidup melakukan aksi protes di jalan, di lokasi
perkebunan, di media massa atau di media jejaringan sosial. Sementara para
pekerja seni memiliki bentuknya. Mulai musik, lukisan, hingga pertunjukkan
teater.
Sama
halnya di era Orde Baru, yang mana para pekerja teater mengusung isu demokrasi
atau antifasisme, maka saat ini persoalan lingkungan hidup yang melahirkan
kerusakan hutan, habisnya flora dan fauna, pemanasan global, kemiskinan, serta
penyakit mematikan seperti kanker, menjadi isu yang diusung kelompok teater.
Misalnya yang dilakukan Teater Satu.
Potret
kemiskinan para tani atau masyarakat desa di Lampung, yang merupakan korban
dari perkebunan sawit, yang menginspirasi Teater Satu untuk mengadaptasi naskah
“Buried Child” karya Sam Sephard menjadi pertunjukkan dengan judul “Anak yang
Dikuburkan”. Ceritanya bersetting keluarga petani di Mesuji, Lampung, pada
tahun 1990-an.

Pertunjukan
ini pernah dipentaskan Teater Satu pada Juni 
2012 lalu di Teater Salihara Jakarta. Saat itu Teater Satu dinobatkan
sebagai grup terbaik di Indonesia oleh Majalah Tempo. Dalam kegiatan Kala
Sumatra III-Jaringan Teater Sumatra yang didukung HIVOS, pertunjukkan tersebut
kembali ditampilkan pada Minggu (27/04/2014) di Teater Sapta Pesona, Taman
Purbakala Kerajaan Sriwijaya, Palembang. Selain Teater Satu, tampil juga Komunitas Berkat Yakin
(Lampung), Teater Petak Rumbia (Bengkulu).

Kisahnya
menceritakan kehidupan sebuah keluarga petani di Mesuji, Lampung. Tokoh
utamanya yakni Hedar. Dia merupakan istri dari Alfian yang berjuluk “Raja
Kepok”. Julukan ini diberikan karena Alfian dikenal sebagai agen atau pemasok pisang
kepok terbesar di Lampung.
Saat
menikah dengan Alfian, Hedar merupakan janda dengan dua anak. Dari pernikahan
dengan Alfian, Hedar melahirkan seorang anak.
Pada
awalnya, kehidupan rumah tangga Hedar sangatlah sejahtera. Tetapi, kehidupan
berubah, setelah sebuah perusahaan perkebunan sawit yang didukung pemerintah,
menggusur perkebunan milik mereka. Ganti rugi lahan yang diberikan sangatlah
kecil, yang tidak mencukupi kehidupan mereka selama lima tahun.
Kehidupan
mereka kian terpuruk, ketika Alfian tidak memiliki pekerjaan dan setiap malam hanya
mabuk-mabukan. Lalu Thea, anak tertua Hedar, terganggu jiwanya setelah pulang
dari luar negeri sebagai TKI (Tenaga Kerja Indonesia), dan Bahnan terkena kusta
sehingga satu kakinya diamputasi.
Guna
memenuhi kebutuhan keluarga, Hedar memilih menjadi penjahit pakaian. Ternyata
penghasilannya tidaklah cukup. Dia pun terpaksa melayani kebutuhan seksual para
mandor perkebunan, buruh perkebunan, atau sopir truk. Terhadap pekerjaan
tersebut, Alfian tidak marah. Bahkan dia merasa mendapatkan sumber pemasukan
untuk membeli minuman.

Konflik
pun muncul ketika kehadiran seorang bayi di keluarga tersebut. Keluarga itu pun
terpaksa membunuh sang bayi, yang hingga akhir ceritanya tidak jelas siapa yang
mengandungnya, apakah anak Thea hasil hubungan intim dengan bapak tirinya
Alfian, atau anak Hedar hasil hubungan dengan anak kandungnya Bahnan.

911,53
Warga Desa di Lampung Miskin
Lampung
merupakan salah satu wilayah di Pulau Sumatra yang tidak luput dari kerusakan
lahan dan hutan akibat aktifitas perkebunan. Setelah dihabisi oleh perkebunan
ubi kayu atau ketela pohon, Lampung kini dirusak oleh perkebunan sawit.
Dampaknya selain kerusakan alam, juga pemiskinan terhadap masyarakat.
Menurut
data dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Lampung yang mengutip dari
Kantor Wilayah Badan Pertanahan Lampung tercatat 41 perusahaan yang memiliki
Hak Guna Usaha (HGU) perkebunan sawit. HGU ke-41 perusahaan tersebut mencapai
80.534,5284 hektar dari luas provinsi Lampung sekitar 35.376,50 kilometer
persegi. Ke-41 perusahaan tersebut antara lain tersebar di Mesuji, Menggala,
Gunung Sugih, Abung Selatan, Abung Timur, dan Blambangan Umpu.
Dari
9.586.492 jiwa penduduk Lampung, berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS)
Lampung pada September 2013 mencapai 1.134.280 jiwa. Sebagian besar penduduk
miskin itu berada di pedesaan yakni mencapai 911,53 ribu pada September 2013.
“Warga
desa di Lampung menjadi miskin lantaran lahan pertanian mereka habis, diduga
diambil berbagai perusahaan perkebunan. Seperti perkebunan sawit,” kata Iswadi
Pratama, pimpinan Teater Satu, di Palembang, Minggu (27/04/2014).

Pada pertunjukan Teater Satu kali ini, para pemain antara lain Budi Laksana, Baysa Deni, Budi Bucek Setiawan, Gandi Maulana,
Laras Shinta, Vita Oktaviana, dan Desi Susanti.

Loading...