Beranda Headline Penuturan Lengkap Ayah Pasien BPJS yang Meninggal di Selasar RSU Abdoel Moeloek

Penuturan Lengkap Ayah Pasien BPJS yang Meninggal di Selasar RSU Abdoel Moeloek

13023
BERBAGI
Lilik Ansori, pasien Muhammad Rezky Mediansori alias Kiki bersama istriya, Maliyana (kerudung biru) saat memberikan keterangan terkait anaknya Kiki yang didagnosis penyakit DBD yang tidak dilakukan tindakan hingga akhirnya meninggal di selasar RSUAM. Foto: Teraslampung.com/Zainal Asikin
Lilik Ansori, ayah Muhammad Rezky Mediansori alias Kiki. Ia didampingi istriya, Maliyana (kerudung biru) saat memberikan keterangan terkait anaknya Kiki yang didagnosis penyakit DBD yang tidak dilakukan tindakan hingga akhirnya meninggal di selasar RSUAM. Foto: Teraslampung.com/Zainal Asikin

Zainal Asikin | Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN — Hingga anak tercintanya, Muhammad Rezky Mediansori (21) dimakamkam, Lilik Ansori, ayah Rezky, masih belum bisa melupakan peristiwa pilu yang dialaminya saat ajal menjemput anaknya di selasar salah satu ruang Rumah Sakit Abdoel Moeloek (RSUAM) Bandarlampung, Senin petang (10/2/2020).

Usai pemakaman Rezky alias Kiki, Selasa siang (11/2/2020), Lilik berkisah banyak kepada Teraslampung.com tentang menit demi menit anaknya berada di RSUAM hingga meninggal dunia dan meletupkan kemarahan.

Emosi ibu dan ayah Rezky meluap karena merasa penanganan Rezky sebagai pasien peserta BPJS Kesehatan tidak maksimal. Padahal, seperti juga diungkapkan Lilik dalam video amatir yang kemudian menjadi viral, premi BPJS atas nama Rezky rajin dibayar tiap bulan.

Rezky adalah warga Dusun Pasar Senin Baru, Desa Palas Pasemah, Kecamatan Palas, Lampung Selatan yang didiagnosis dokter menderita penyakit demam berdarah dengue (DBD), grato entirits akut (diare),dan hepatitis (insfeksi hati). Ia meninggal dunia di selasar Rumah Sakit Umum Abdoel Moeloek (RSUAM) Bandarlampung, Senin (10/2/2020) sore sekitar pukul 16.30 WIB.

Muhammad Rezky Mediansori yang akrab disapa Kiki ini merupakan anak kedua dari pasangan Lilik Ansori dan Maliyana.

Berikut penuturan Lilik Ansori kepada Zainal Asikin dari Teraslampung.com:

Teraslampung (T): Bisa dijelaskan kembali kronologi sebelum Rezky dirawat di RSUAM?

Lilik Ansori (LA): Saya  bersama istri dan keluarga membawa Kiki ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bob Bazar Kalianda, Sabtu (8/2/2020) malam sekitar pukul 21.00 WIB.

Setibanya di Rumah Sakt Bob Bazar, anak saya langsung ditangani tim medis dan diberi cairan infus. Setengah jam dirawat tidak ada perubahan. Kondisinya tubuh anak saya panas terus. Malam itu diambil sampel darahnya. Dari hasil uji lab tes darah, anak kami Kiki ini terindikasi penyakit DBD.

Malam itu, anak saya harus segera dirujuk ke Rumah Sakit Umum Abdul Moeloek (RSUAM). Tapi kami diminta untuk menunggu setelah ada konfirmasi dari pihak RSUAM, hingga jelang subuh ditunggu tidak ada kabar dan anak kami akhirnya terbengkalai di ruangan IGD Bob Bazar Kalianda.

Tak lama kemudian, pagi itu kami diajak berangkat oleh petugas RSUD Bob Bazar menuju ke RSUAM Bandarlampung.

Bagaimana proses pendaftaran Rezky di RSUAM? Sebagai pasien umum atau pasien peserta BPJS? 

Setibanya di RSUAM, kami daftar menggunakan BPJS Mandiri kelas 3 dan saat itu anak kami Kiki ditaruh di IGD dan diberi oksigen saja. Sementara Infus yang terpasang, yakni bawaan dari RSUD Bob Bazar.

Sampai di RSUAM itu Minggu pagi sekitar pukul 06.00 WIB. Setelah itu, petugas dari RSUD Bob Bazar pulang. Saya mengira, dirujuknya anak saya ini sudah ada konfirmasi ke pihak RSUAM. Ternyata belum ada konfirmasinya.

Pada saat itu, saya enanyakan ke petugas RSUAM mengenai kondisi anak saya  yang belum juga dilakukan tindakan hanya dibiarkan begitu saja di UGD. Padahal, kondisinya kritis. Lalu petugas menimpali dengan alasan bahwa sedang dikonsultasikan sama dokter yang akan menanganinya.

Jadi Bapak harus menunggu lama?

Ditunggu hingga beberapa jam lamanya, ternyata belum juga ada tindakan. Lalu saya kembali menanyakan ke petugas IGD RSUAM. Petugas itu mengatakan bahwa anak saya akan ditangani oleh dokter Riki. Dokter Riki baru akan datang pada  pukul 17.00 WIB.

Saat itu saya dan istri masih tetap sabar menunggu, padahal saya melihat kondisi Kiki anak saya ini sudah kritis bahkan sampai kejang-kejang. Semestinya kalau sudah tahu penyakitnya seperti itu (DBD), penanganan rumah sakit harusnya cepat dan sigap. Jangan dibiarkan begitu saja.

Begitu sore harinya, dokter yang katanya mau menangani anaknya itu datang mengecek kondisi anaknya. Setelah dicek, dokter Riki itu bilang bahwa trombosit anak saya turun dan kami diminta untuk segera menebus obatnya dulu tapi di apotik luar. Anak saya juga harus segera ditransfusi darah sebanyak 10 kantong.

Saat itu juga kami langsung usahakan darahnya, hingga dapat 10 kantong malam itu juga. Tapi darahnya itu tidak bisa langsung digunakan, katanya harus menunggu tengah malam baru bisa ditranfusi darahnya.

Sekitar pukul 22.00 WIB, baru anak kami Kiki dipindahkan keruangan. Tapi itupun ruangannya bukannya untuk penyakit dalem yang semestinya, melainkan di ruangan penyakit syaraf. Malam itu saat diruangan syaraf, kondisi Kiki masih kritis dan kejang-kejang sembari menjerit kesakitan.

Pada saat ditaruh di ruangan itulah, baru ditransfusi darahnya dan anehnya lagi kantong darah yang mau dipasang jalannya tidak lancar. Begitu saya tanya, ternyata yang masang transfusi darah untuk anak saya ini bukanlah perawat RSUAM tapi orang yang sedang magang.

Pihak RSUAM dalam penjelasannya mengatakan Rezky kemudian dipindah ke ruangan syaraf. Bagaimana ceritanya?

Ya, ketika Rezky masih di ruangan syaraf, ada pihak keluarga pasien lain yang ada di ruangan itu minta tolong agar anak kami dipindahkan karena mengganggu. Lalu anak kami dipindahkan oleh petugas ke ruangan lain yang kondisinya berantakan seperti gudang. Saat kami masuk, ruangan itu kotor. Saya, istri saya, dan kerabat saya kemudian membersihkan ruangan.

Itu yang membuat Bapak marah setelah mengetahui Rezky meninggal?

Ya namanya kami ini orang tidak punya, pakai BPJS juga yang hanya kelas 3. Jadi penanganannya asal-asalan. Padahal, saya ikut BPJS mandiri bukan yang gratis. Saya rajin bayar tagihan. Tetapi kenyataannya ya begitu. Karena mungkin bukan pakai BPJS yang kelas 1.

Bagaimana keadaan Rezky ketika dipindah ke ruangan baru?

Ia masih kejang-kejang. Karena kondisinya masih terus kejang-kejang dan belum juga ada tindakan dari perawat atau dokter, saya mencoba bertanya lagi kepada petugas RSUAM. Petugas kembali mengatakan bahwa dokter yang menangani anak saya belum sampai di RSUAM. Ia masih  dalam perjalanan ke RSUAM. Dokter itu datang sekitar pukul 14.00 WIB, kondisi anak kami sudah semakin parah kritisnya.

Lalu Saya dipanggil diajak konsultasi sama dokter Riki. Dokter Riki memberitahukan diagnosis penyakit anak saya. Katanya anak saya menderita penyakit DBD, diare, dan hepatitis. Saat itu juga saya bilang, kalau penyakit anak saya ini berat kenapa tidak segera ditangani dari kemarin? Kenapa ada pembiaran seperti ini?

Selanjutnya, dokter itu menyarankan agar anak kami Kiki  segera diberi suntikan penenang agar tidak kejang-kejang. Kami pun menuruti sarannya. Tapi kenyataannya, hingga sampai Senin pagi (10/2/2020) tidak juga diberikan suntikan penenang. Lalu saya kembali mecoba untuk menemui dokter tersebut. Dokter itu kembali bilang mau sekalian diberi obat tambahan.

Ternyata itu semua tidak ada. Jadi, memang benar-benar sama sekali tidak dilakukan tindakan dari RSUAM. Anak saya ini sepertinya memang sengaja dibiarkan.

Senin sore selepas saya menjalakan shalat Ashar, anak saya yang tadinya di ruangan yang seperti gudang mau dipindahkan lagi ke ruangan lain oleh petugas RSUAM. Saya kembali bertanya: anak saya mau dipindah ke mana lagi? Kenapa tidak kemarin saat tiba di RSUAM?

Petugas itu tidak menjawab. Ia tetap memaksa membawa anak saya pindah ruangan. Namun, tidak jelas ke ruangan mana pindahnya. Tidak jelas. Saat sedang dibawa keluar ruangan yang mirip gudang, di tengah perjalanan, tepatnya di atas bangsal,  anak saya kejangnya makin parah. Karena tak tahan melihat kondisi itu, saat itu juga ia memaksa petugas untuk berhenti.

Ternyata anak saya ini hanya dibawa muter-muter saja dari lorong ke lorong selasar RSUAM. Setiap kali mau masuk ruangan semuanya penuh. Artinya, ruangan yang untuk anak saya ini sebenarnya belum siap dan sepertinya hanya akal-akalan saja dari pihak RSUAM.

Pihak RSUAM mengatakan keluarga bapak memukul perawat dan mencabut selang oksigen Rezky. Benar seperti itu peristiwanya?

Begitu berada di selasar, tak lama kemudian anak kami meninggal dunia sekitar pukul 16.30 WIB. Dua orang petugas RSUAM yang tadinya membawa anak kami ini mau langsung pergi. Lalu, oleh keponakan kami bernama Agus Saputra alias Ujang, kedua petugas itu ditarik dan harus bertanggungjawab.

Karena saya kesal dan kecewa Rezky hanya dibiarkan begitu saja tidak ada penanganan hingga akhirnya meninggal, jadi apa yang ada di dekat saya spontan saja saya membantingnya. Jadi, anak saya ini meninggalnya bener-bener di emperan selasar, bukan di ruangan yang semsetinya karena memang tidak ada tempat untuk menangani anak saya.

Saya heran, penanganan rumah sakit nomor satu di Lampung kok seperti ini, padahal keluarga saya ini ikut BPJS mandiri meski kelas tiga. Mana yang kata Pak Jokowi BPJS untuk rakyat yang tidak mampu, kenyataannya tidak ada.

Bapak rajin membayar iuran BPJS?

Saya memang pernah menunggak BPJS, tetapi tunggakan kemudian saya lunasi berikut dengan dendanya. Itu pun keluarga saya berobat dengan BPJS ya baru kali ini, ketika Rezky sakit. Katanya BPJS mau membantu masyarakat lemah, ternyata kok begini yang kami alami. Seolah-olah pasien kelas 3 itu tidak berharga.

RSUAM membantah melakukan penelantaran terhadap Rezky. Tanggapan Bapak?

Yang dialami anak saya itu ya pembiaran. Karena saya lihat sendiri di RSUAM itu ketika ada pasien BPJS yang kelas 1 datang langsung cepet ditangani dan dapat ruangan. Sementara yang BPJS kelas 3 seperti kami, boro-boro ditangani, yang ada ruangan saja tidak jelas ditambah dibiarkan begitu saja.

Soal video yang viral itu, apakah Bapak tahu?

Saya tidak begitu memperhatikan karena masih jengkel. Sepertinya ada yang memvideokan saat kejadian itu, tapi saya tidak tahu pasti. Sebab,  dilarang juga sama petugas Satpam RSUAM.

Jadi tidak boleh divideo apa lagi dipublikasikan, tapi kalau ada yang memvideokan saya tetap bilang divideokan aja biar tahu kejadian yang sebenarnya.

Setelah pemakaman, bagaimana Bapak menerima kenyataan bahwa Rezky sudah meninggal dunia?

Saya bersama istri dan seluruh kerabat  ikhlas. Mungkin memang ini sudah jalan anak saya kembali menghadap Sang Khaliq. Tapi tolong, perhatian untuk pemerintah, BPJS, dan rumah sakit: jangan sampai melakukan hal ini seperti yang dialami keluarga kami agar jangan sampai juga menimpa kepada korban lainnya!

 

Loading...