Sastra  

Penyair Lampung Fitri Yani Raih Hadiah Sastera Rancage 2014

Fitriyani
Fitriyani
Bagikan/Suka/Tweet:

TERASLAMPUNG — Fitri Yani, perempuan penyair asal Lampung berhasil memperoleh Hadiah Sastera Rancage 2014. Fitri Yani meraih Hadiah Sastera Rancage 2014 untuk kumpulan puisi berbahasa Lampung, Suluh.  Penghargaan sastra bergengsi itu menempatkan Fitriyani sebagai penyair perempuan pertama asal Lampung yang memperoleh Hadiah Sastera Rancage. Fitri berhak atas hadiah uang senilai Rp 5 juta.

Selama ini Hadiah Sastra Rancage diberikan kepada pihak yang memberikan perhatian besar terhadap perkembangan bahasa dan sastera ibu. Pada 2014 ini Hadiah Sastera “Rancage” 2014 diberikan untuk  sastra Sunda (yang  ke-26 kalinya), untuk sastera  Jawa (ke-21 kali), untuk sastera Bali (ke-18 kalinya) dan untuk sastera Lampung (keempat kalinya).

Selain untuk sastera Lampung  untuk  sastera Sunda, Jawa dan Bali, Hadiah Sastera “Rancagé” diberikan setiap tahun tanpa lowong. Artinya, Hadiah Sastera Rancage diberikan  setiap  tahun.

Dalam bahasa Lampung tidak setiap tahun ada buku sastra berbahasa Lampung terbit,  sehingga Hadiah Sastera “Rancagé” tidak  bisa diberikan setiap tahun.

“Tahun 2013 yang lalu terbit dua judul buku dalam bahasa Lampung, sehingga tahun ini ada Hadiah Sastera “Rancagé” untuk sastera Lampung,” kata Hawe Setiawan, salah satu panitia Hadiah Sastera Rancage 2014, di Bandung, Jumat malam (31/1/2014).

Hadiah Sastera “Rancagé” 2014 untuk sastera Sunda diberikan untuk buku kumpulan puisi Titimangsa: 68 Sajak Alit karya Abdullah Mustappa. Hadiah Sastera “Rancagé” 2014 untuk sastera Jawa diraih oleh  Nono Warnono dengan kumpulan cerpen bahasa Jawa (cerkak) berjudul Kluwung. Untuk sastra Bali,  Hadiah Sastera “Rancagé” 2014 diraih I Wayan Westa untuk karya kumpulan cerita Tutur Bali.

Selain Suluh karya Fitriyani, buku berbahasa Lampung terbitan 2013 yang diikutsertakan dalam Hadiah  Sastra Rancage 2014 adalah kumpulan cerita berjudul Tumi Mit Kota  karya  Udo Z.Karzi dan Elly  Dharmawanti .

Ajip Rosidi, Ketua Dewan Pembina Yayasan Rancage, menilai  kumpulan puisi bahasa Lampung karya  Fitriyani itu memiliki warna lokal Lampung yang begitu mencolok.

“Hal itu membuatnya lebih lengkap sebagai  karya sastera Lampung. Bukan saja karena disajikan dalam  bahasa Lampung melainkan juga membicarakan perkara kelampungan. Tidak ada satu pun sajak yang  dimuat dalam Suluh yang tidak mengandung warna lokal Lampung, utamanya Lampung Barat. Dan  warna lokal Lampung itu tidak hanya sekadar témpélan, melainkan sebagai unsur utama.  Judul-udulnya pun banyak yang membuktikan hal itu,” kata Ajip.

Sebaliknya, menurut Ajip, kehadiran warna lokal Lampung  itu kurang nampak dalam cerita-cerita yang dimuat dalam Tumi mit Kota. Téma ceritanya banyak yang mengarah pada persoalan yang biasa kita jumpai dalam cerita péndék atau roman sastera Indonésia.

“Di samping itu cerita-cerita dalam Tumi Mit Kota tidak berhasil menggarap kisahannya agar memikat secara naratif. Belum sampai pada upaya bercerita yang bertolak  dari penggarapan konflik dengan memuaskan,” katanya.

Meski begitu, Suluh bukannya tanpa kelemahan. Namun, karena jenisnya puisi, maka penyair agak leluasa memanfaatkan berbagai cara membangun satuan-satuan makna, utamanya bait.

Suluh tersaji dalam banyak pola bait: satu larik sebait, dua, tiga, empat larik sebait, atau lebih. Lain dari itu Suluh memberikan sejumlah métafora yang unik, barangkali  diambil dari khazanah puisi tradisional Lampung.

Panitia juga memberikan Hadiah Samsudi 2014 untuk  bacaan kanak-kanak dalam bahasa Sunda. Di antara 42 judul buku Sunda yang terbit tahun 2013, ada  9 judul buku bacaan kanak-kanak dan remaja.  Peraih Hadiah Samsudi 2014 adalah Popon Saadah dengan karya berjudul Prasasti nu Ngancik na Ati.