Beranda Views Kisah Lain Penyandang Disabilitas Sensorik Netra di Lampung Butuh Perhatian Pemerintah

Penyandang Disabilitas Sensorik Netra di Lampung Butuh Perhatian Pemerintah

1181
BERBAGI
Setiawan dan Kamelia Putri siap menjajakan makanan ringan.

Abdul Karim | Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG – Hingga 75 tahun usia Indonesia, para penyandang disabilitas netra masih belum mendapatkan perhatian yang layak dari pemerintah. Mereka masih harus terseok-seok dengan cara mereka sendiri mengais rezeki untuk menafkahi keluarga. Mereka kurang pembinaan dan minim kesempatan untuk mendapatkan akses bantuan modal.

Meski begitu, pada umumnya mereka adalah pejuang tangguh. Dengan keterbatasannya, para disabilitas netra tetap berusaha keras bisa memberdayakan dirinya sendiri.

Sebenarnya UUD 45 dalam pasal 27 (2) telah mengamanahkan bahwa tiap- tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Hal itu dipertegas lagi dalam UU no 8 tahun 2016 tentang penyandang disabilitas.

Dalam UU itu disebutkan bahwa Pemerintah, Pemerintah Daerah, BUMN dan BUMD wajib memperkerjakan penyandang disabilitas 2% dan 1% untuk swasta dari total pegawainya. Praktiknya, hal ini belum dapat dirasakan para penyandang disabilitas netra sensorik di Provinsi Lampung.

Kelanting dijual Setiawan Rp 5 ribu/bungkus.

Karena kurang perhatian pemerintah daerah, banyak penyandang disabilitas sensorik netra di Lampung kebingungan mencari pekerjaan setelah mereka menyelesaikan pendidikannya di Lampung. Hal itu terjadi akibat dari kurangnya keseriusan Pemerintah Daerah menyikapi isu- isu penyandang disabilitas netra sensorik.

Beberapa penyandang disabilitas sensorik netra memilih merantau ke daerah lain, meninggalkan keluarga dan kampung halaman demi mencari pekerjaan dan penghidupan yang lebih layak. Beberapa lainnya memilih bertahan di Lampung dengan sumber mata pencarian seadanya. Antara lain dengan menjadi pemijat terapi, pengamen, atau  penjual makanan ringan.

Yang dialami Setiawan, penyandang disabilitas netra sensorik dari Bandarlampung, misalnya.  Di samping berprofesi sebagai terapis, Setiawan dan istrinya juga harus berjualan agar dapurnya tetap ngebul. Ia pun memilih berkeliling menyusuri jalan, melawan teriknya matahari dan bisingnya kendaraan untuk menjajakan makanan ringan demi menghidupi dirinya dan keluarga.

“Ya mau bagaimana lagi Mas, untuk saat ini yang ada cuma itu. Mau nggak mau harus kami lakukan untuk menghidupi keluarga. Yang penting halal dan berkah Mas,” kata  Setiawan.

Meski dengan berdagang makanan ringan ini keuntungannya tak sebarapa, Setiawan dan teman- temannya sesama penjual mengaku cukup dan bersyukur dapat menghidupi keluarga dengan tidak meminta- minta.

“Namanya berdagang pastilah keuntungannya tidak stabil Mas, tergantung dari barang dagangan yang berhasil terjual. Tapi ya Alhamdulillah cukuplah untuk bertahan hidup,” ungkapnya.

Untuk meningkatkan hasil penjualan dan sarana informasi bagi masyarakat biasanya Mereka sebelum berangkat berdagang mengunggah jalur jalan raya yang akan dilalui terlebih dahulu ke media sosial.

Kerupuk tempe.

“Yaah agar masyarakat tahu bila melihat tunanetra membawa kriuk, kerupuk, dan makanan ringan lainnya di jalan itu. Mereka sedang berjualan sehingga masyarakat bisa membelinya karena sudah mengerti bahwa Kami sedang berjualan,” ungkap Setiawan.

Dalam menjajakan dagangannya Setiawan dibantu istrinya, Kamelia Putri. Pasangan ini biasa berkeliling melalui beberapa ruas jalan raya yang ada di sekitaran Bandar Lampung. Di antaranya Jl. Pramuka, Jl. Imam Bonjol, Jl. Rajabasa dan beberapa ruas jalan raya lainnya di Bandarlampung dengan berjalan kaki.

Harga makanan ringan yang dijajakan Setiawan sebenarnya sangat murah. Satu plastik ukuran sedang kelanting dan kerupuk tempe mereka bandrol dengan harga Rp5.000 saja.

Kegembiraan bagi Setiawan dan Kamelia adalah ketika dagangannya banyak yang laku, sehingga mereka tidak berlama-lama menyusuri jalan raya. Jika dagangannya diborong pembeli, Setiawan mengaku merasa seperti mendapatkan rejeki nomplok atau durian runtuh.

“Misalnya belum lama ini dagangan saya diborong oleh Pak Wali (maksudnya Walikota Bandarlampung, Herman HN). Kami tentu senang. Namun, kami akan lebih terbantu jika kami juga mendapatkan sentuhan program pembangunan yang dihela Pak Wali di Bandarlampung,” kata Setiawan.

Mewakili teman- temannya, Setiawan berharap ke depannya Pemerintah Daerah dapat lebih serius untuk menyediakan lapangan pekerjaan yang seluas- luasnya dan lebih layak bagi penyandang disabilitas sensorik netra di Lampung.

“Cukup saya dan teman-teman saya saja yang segenerasi yang merasakan sulitnya mencari sumber penghidupan. Semoga generasi sesudah saya nantinya mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah,” katanya.

 

Loading...